Ketik disini

Opini

Penambahan Kuota Haji, Butuh pertimbangan!

Bagikan

Berita tentang penambahan kuota haji bagaikan angin segar bagi calon jamaah haji, khususnya jamaah haji Indonesia. Adanya angin segar tentunya akan mendatangkan rasa syukur bagi calon jamaah untuk segera menikmati suasana tanah suci Mekkah. Berhaji adalah kegiatan ibadah yang menjadi idaman bagi setiap muslim di dunia. Tidak hanya menjadi idaman, namun sudah menjadi kewajiban sejak zaman Nabi bagi umat muslim yang menjalankan pilar agama islam yaitu rukun islam yang ke lima.

a�?Berhaji bagi yang mampua�?, itulah bunyi rukun islam yang kelima, sebagai pilar bagi agama islam yang berlandaskan niat yang kuat, siap, dan ikhlas dalam melaksanakan ibadah sebagai tamu Allah untuk mendapatkan ridho-Nya. Sebagai umat muslim, pastinya berharap untuk sampai ke tanah suci. Namun apa daya, nyatanya menunggu antrean dulu baru bisa berangkat. Menunggu memang kegiatan yang cukup menantang. Harap-harap cemas yang dirasakan, seakan sudah sampai saja di tanah suci.Untuk mengobati kecemasan parajamaah tersebut, jalan satu-satunya adalah memang harus adanya penambahan kuota haji.

Tiap-tiap negara memiliki kuota yang berbeda. Tergantung dari banyaknya jumlah umat muslim di negara tersebut. Indonesia adalah salah satu negara yang umat muslimnya terbanyak di dunia. Tentunya, jumlah pejuang haji sangatlah banyak. Lagi-lagi jalan satu-satunya adalah menambah kuoata haji. Namun, perlu diketahui penambahan kuota haji ini bisa saja menjadi pisau bermata dua bagi pelaksanaan hajijika tanpa pertimbangan yang lebih matang. Tanpa pertimbangan yang matang, manfaat yang seharusnya didapat malah akan menjadi mudarat. Lalu, hindari mudarat dengan mempertimbangkan terlebih dahulu apa yang seharusnya perlu dijadikan sebagai pertimbangan.

Adapun pertimbangan yang pertama adalah, peningkatan hubungan bilateral antara Indonesia dengan Arab Saudi. Tidak hanya dengan Arab saudi, tetapi juga dengan negara-negara islam lainnya. Dibutuhkan kerjasama yang baik dalam perencanaan pelaksanaan haji. Adanya hubungan yang baik dapat memberikan kekuatan bagi tiap-tiap negara dalam memenuhi kebutuhan warga negaranya sebagai umat islam yang ingin menjalankan ibadah. Kerja sama yang dilakukan adalah dengan mengatur kuota haji tiap-tiap negara. Bagaimana? Misal, saat ini negara Indonesia memiliki banyak calon jamaah haji yang ingin secepatnya berangkat ke tanah suci, lagi-lagi masalahnya adalah kuota.A� Lalu, tindakan yang sebaiknya dilakukan adalah dengan memanfaatkan kuota haji negara lain yang kuotanya tidak dipenuhi atau adanya pemanfaatan kuota yang tidak maksimal. Saat ini mungkin sudah mulai dilakukan, akan tetapi perencanaan seperti ini perlu dijaga supaya kuota haji terpakai dengan bijak. Arab Saudi haruslah memiliki peran penting dalam pembagian kuota ini. Dalam hal ini, setiap negara muslim di dunia akan memiliki kekuatan solidaritas yang tinggi dalam pelaksanaan ibadah haji. Sebagai negara islam, butuh yang namanya kepedulian antar sesama saudara seperjuangan. Tidak hanya mementingkan diri sendiri, pikirkan juga tamu-tamu Allah yang lainnya.

Sebagai pertimbangan selanjutnya yaitu tentang fasilitas dan pelayanan. Fasilitas dan pelayanan haruslah sebanding dengan biaya yang dikeluarkan oleh calon jamaah haji. Bayangkan, saat ini banyak yang keliru dalam masalah pelayanan. Belajar juga dari kasus tentang mirisnya tragedi Mina tahun lalu dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan fasilitas dan pelayanan yang lebih baik. Tragedi Mina disebabkan oleh tidak dibukanya akses jalan bagi jamaah haji. Banyak jamaah yang berlalu-lalang, saling berdesak-desakan, saling menginjak, hingga menimbulkan banyak korban. Lalu dimana kah rasa persaudaraan antar sesama muslim jika hanya mementingkan diri sendiri? Kekeliruan ini bukanlah masalah yang sepele, bagaimana mau menambah kuota haji jika hal seperti ini saja tidak dapat diatasi dengan baik.Untuk menambah kuota haji, tentunya butuh peningkatan fasilitas dan pelayanan yang lebih baik. Baik pemondokan, akses jalan, transportasi, makanan, kesehatan, dll. Supaya penambahan kuota haji akan sebanding dengan peningkatan fasilitas dan pelayan.Sehingga kekurangan-kekurangan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya tidak terulangi kembali.

Tidak hanya peningkatan fasilitas dan pelayanan, kesiapan mental dan psikis jamaah haji juga perlu dipertimbangkan. Khususnya Indonesia. Banyak kasus yang terjadi berkaitan tentang kesiapan haji para jamaah. Pemerintah perlu memastikan apakah jamaah haji tersebut sudah siap dalam menemui hal-hal yang nantinya berbeda di negeri Arab. Misal, dalam hal kesiapan pengetahuan dan materi tentang ibadah haji mungkin sudah mapan, namun pikirkan tentang perbedaan lingkungan yang nantinya tidak mengagetkan para jamaah, seperti perbedaan cuaca , makanan,arah ataupun jalan, peralatan-peralatan yang sudah canggih dalam pemondokan, bagaimana kehidupan yang bersih, dll. Tentunya hal-hal yang seperti inilah yang menjadi tugas utama bagi panitia pelaksanaaan haji untuk memberikan sosialisai terlebih dahulu tentang kehidupan singkatdi beda negara. Jadi tidak hanya kesiapan dalam materi ibadah saja, namun jamaah perlu diberikan semacam sosialisasi tentang bayangan kegiatan dalam menjalankan ibadah haji, untuk menghindari hal-hal yang mengganggu kegiatan haji karena hanya minimnya pengetahuan.

Jadi, peningkatan kuota penambahan haji tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu perencanaan yang matang dalam hal ini. Matang bukan berarti dalam hal fasilitas dan pelayanan. Tetapi seberapa siapkah kualitas dari fasilitas dan pelayanan tersebut. Pertimbangan-pertimbangan di atas perlu dipikirkan oleh pemerintah atau pihak yang terjun langsung dalam hal ini. Adanya kerja sama, kepedulian, dan belajar dari pengalaman adalah kunci bagi kesejahteraan pelaksanaan haji. Semoga kualitas haji di Indonesia akan lebih baik dari pada sebelumnya. Hingga para tamu Allah dapat lebih fokus dan lancar dalam beribadah.

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka