Ketik disini

Feature

Di Luar Tampak Cantik, di Dalam Rusak Parah

Bagikan

Kondisi lingkungan perairan Laut Bangka di Bangka-Belitung memprihatinkan. Banyaknya penambangan timah di dalam laut menjadikan ekosistem di sekitarnya rusak. Universitas Bangka Belitung pun tergerak untuk mengembalikan kondisi alam bawah laut yang rusak itu.

***

PANTAI Turun Aban, Kelurahan Matras, Kecamatan Sungailiat, tampak tenang. Kondisinya sepi Jumat pagi lalu (21/10). Tak banyak pengunjung yang menikmati keindahan pantai berpasir putih itu. Di antara pengunjung tersebut, terdapat lima mahasiswa Universitas Bangka Belitung (UBB) yang sedang asyik berdiskusi di gubuk pinggir pantai.

Selain berpasir putih dan berair jernih, pantai itu memiliki banyak spot yang bagus untuk objek foto. Salah satunya batu granit yang berbentuk seperti bukit. Pengunjung bisa menaikinya dan melihat keindahan pantai dari atas a�?bukita�? itu. Ada juga batu granit bertumpuk-tumpuk. Seolah-olah ada yang menatanya. Padahal, bentuk itu alami, bukan sentuhan manusia.

Namun, yang sering mencuri perhatian adalah perahu kayu yang nangkring di atas batu. a�?Perahu itu sengaja diletakkan di atas batu oleh nelayan. Untuk hiasan,a�? ujar Rama Supanji, mahasiswa anggota Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB, kepada Jawa Pos.

Beberapa perahu juga berjajar di pinggir pantai. Tapi, tidak tampak nelayan yang hendak melaut.

Dari luar, Pantai Turun Aban memang terkesan cantik. Namun, menurut Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB Indra Ambalika, sejatinya pantai itu sedang sakit. Kehidupan di dalam lautnya mengalami kerusakan yang cukup parah. Kondisi terumbu karang yang menjadi rumah bagi ikan-ikan dan biota laut lainnya amat memprihatinkan. Selain dipenuhi sampah organik, airnya mengandung banyak zat kimia tertentu karena terkontaminasi limbah penambangan timah di dalam laut. Akibatnya, makin sedikit ikan dan makhluk hidup lain yang betah berlindung di balik terumbu karang.

Kerusakan ekosistem di Pantai Turun Aban itulah yang menjadi perhatian khusus UBB. Tim UBB melakukan penelitian ilmiah tentang kerusakan lingkungan di pantai itu secara terus-menerus. Bahkan, kondisi yang memprihatinkan tersebut juga menjadi objek penelitian mahasiswa untuk tugas akhir atau skripsi. Juga, Jumat lalu (21/10) para mahasiswa itu mempresentasikan hasil risetnya di depan masyarakat Kelurahan Matras yang mencakup wilayah Pantai Turun Aban.

Menurut Indra Ambalika, sosialisasi hasil penelitian soal kondisi terumbu karang yang rusak itu diperlukan agar masyarakat juga tergerak untuk menjaga kelestarian alam bawah laut. Sosialisasi tersebut lalu dilanjutkan dengan tindakan nyata, yakni melakukan transplantasi terumbu karang di 50 titik di bawah laut. Setiap titik dijatah dua terumbu karang.

a�?Titik-titik transplantasi itu menyebar di 60 lokasi di seluruh Kabupaten Bangka. Bukan hanya di Pantai Turun Aban,a�? jelas dosen Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan UBB itu.

Indra menegaskan, kerusakan biota laut di Pantai Turun Aban dan perairan lain di Bangka disebabkan penambangan timah di laut. a�?Daratan sudah habis ditambang, sekarang pindah ke laut,a�? ucap dia.

Indra mulai memberikan perhatian terhadap kerusakan terumbu karang pada 2007. Saat itu dia penasaran karena membaca berita tentang Pantai Tungau yang disebut sebagai Bunaken-nya Bangka-Belitung. a�?Saya ingin tahu seperti apa pantainya,a�? ucap dia.

Akhirnya, Indra memutuskan untuk berangkat ke pantai tersebut bersama beberapa mahasiswa. Mereka melakukan penyelaman untuk melihat kondisi terumbu karang di dalamnya. Ternyata, terang dia, terumbu karang di pantai tersebut rusak parah. Banyak bulu babi yang tersangkut di karang. Kondisi terumbunya pun sangat jelek.

Setelah melihat sendiri kondisi pantai, Indra baru mengetahui bahwa selama ini sangat minim informasi tentang terumbu karang. Ketika ada yang berbicara tentang terumbu, yang disampaikan tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Banyak informasi yang salah karena tidak ada yang berfokus mendalami dan menulis tentang terumbu.

Indra menyatakan, kerusakan terumbu karang disebabkan penambangan timah di dalam laut. Baik yang dilakukan perusahaan milik pemerintah, swasta, maupun masyarakat umum.

Banyak kapal tambang yang beroperasi. Ada yang mengeruk, ada pula yang menyedot material laut. Material itu kemudian dicuci. Selanjutnya, dipisahkan unsur timah, pasir, dan tanahnya. Pasir dan tanah lalu dibuang lagi ke laut, sedangkan timah diambil. Karena itu, limbah tambang tersebut mencemari laut. Terumbu karang yang terkena limbah akhirnya mati.

a�?Secara alamiah, terumbu tidak bisa hidup berdampingan dengaan lumpur,a�? jelas suami Siti Aqisah tersebut.

Karena prihatin dengan kondisi itu, Indra lalu tergerak untuk melakukan langkah konkret. Langkah pertama, dia menyurvei kondisi terumbu karang di beberapa pantai di Bangka. Di antaranya, Pantai Karang Batu Putih, Karang Kering Bedukang, Karang Melantut Rebo, Turun Aban, dan Pantai Tungau.

Awalnya, dia belum punya alat sendiri untuk menyelam sehingga harus meminjam ke Dinas Kelautan Provinsi Bangka-Belitung. Hasil dari survei itu lalu dia publikasikan ke media lokal agar mendapat perhatian pihak-pihak terkait.

a�?Baru setelah itu saya membentuk tim eksplorasi terumbu karang yang terdiri atas para dosen dan mahasiswa,a�? papar ayah dua anak itu.

Pada 2009, tim UBB mulai melakukan transplantasi terumbu yang rusak dan nyaris mati. Mereka terjun ke laut untuk mencari terumbu yang masih hidup buat bibitA�transplantasi. Mereka lalu membuat balok beton segi empat sebagai media tanam. Paku ditancapkan pada balok itu. Selanjutnya, terumbu karang transplan diikat pada paku yang tertancap di balok beton. Ada 25 balok beton yang digunakan untuk transplantasi. Balok beton itu lantas ditanam di Pantai Turun Aban sebagai lokasi pertama transplantasi.

Beberapa minggu kemudian tim terjun lagi ke laut untuk mengecek hasil transplantasi. Ternyata, hasilnya menggembirakan. Sebanyak 95 persen terumbu karang yang ditanam kembali tumbuh.

Namun, pada tahun berikutnya, Indra cs kaget. Mereka mendapati terumbu karang hasil transplantasi rusak dan mati semua. Usut punya usut, ternyata karang itu tertutup lumpur limbah tambang timah di laut.

Tim Eksplorasi UBB tidak menyerah. Mereka kemudian melakukan transplantasi lagi di lokasi yang sama. Mereka menggunakan balok yang lebih tebal. Berat satu beton mencapai 30 kilogram. Pada Oktober 2010, semua karang hasil transplantasi hidup. Kondisinya cukup bagus. Terumbu terlihat bercabang.

Namun, tahun berikutnya, 2011, kondisinya kembali mengecewakan. Terumbu hasil transplantasi rusak lagi terkena lumpur tambang. Kesabaran tim pun betul-betul diuji.

Tak ingin mental tim drop, Indra terus menyemangati anggota timnya. Mereka kembali melakukan transplantasi. Tempat yang dipilih adalah Pantai Karang Kering Rebo. Kali ini, panjang balok beton yang digunakan sekitar 1 meter. Satu balok ditanami 4 karang transplan. Saat itu tim mengajak 20 siswa dari empat SMA. Setiap balok ditulisi nama siswa yang ikut menanam.

a��a��Siswa kami ajak sebagai sarana pendidikan bagi mereka. Kami ingin menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan dalam laut,a��a�� papar alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Selain melakukan aksi nyata di lapangan, tim mengajukan protes kepada perusahaan tambang timah yang beroperasi di dalam luat. Bersama mahasiswa dan masyarakat, Indra menggelar demo. Mereka mendesak perusahaan tambang untuk memberikan perhatian terhadap kondisi laut yang rusak karena penambangan yang mereka lakukan.

a��a��Ternyata, banyak yang tidak suka dengan aksi kami. Mereka mengintimidasi kami,a��a�� ucapnya.

Tapi, Indra cs tidak gentar. Selain lewat pengerahan massa, Indra memaparkan hasil penelitiannya lewat media massa. Dia menjabarkan data penelitian yang dilakukan di 33 lokasi. Hasilnya, sekitar 75 persen kondisi terumbu karang rusak karena penambangan timah.

Publikasi di media dan transplantasi terus dilakukan. Namun, pada 2011 hingga 2014, aktivitas tim mandek karena pemimpinnya, Indra, sedang menempuh S-2 di ITB. Baru setelah dia lulus, akhir 2014, tim bergerak lagi. Mereka kembali melakukan transplantasi.

Bukan hanya transplantasi terumbu, tim juga membuat rumpon atraktor cumi. Yaitu, tempat bertelurnya cumi. Medianya menggunakan drum bekas sebagai rumpon. Di bagian dalam drum diberi tali tampar di penampangnya.

Rumpon tersebut lantas ditanam di dalam laut yang menjadi habitat cumi. Saat itu, ada 12 drum yang ditanam di Pantai Tuwing. Hasilnya cukup menggembirakan. Semua rumpon jadi tempat bertelur cumi. a��a��Hanya dalam dua minggu sudah banyak telurnya,a��a�� ucapnya.

Rumpon-rumpon cumi itu diletakkan tidak jauh dari lokasi transplantasi terumbu karang. Hal itu disengaja agar para nelayan ikut menjaga dua objek tersebut. a��a��Ini bentuk rekayasa sosial,a��a�� terang Indra.

Gerakan itu sangat membantu nelayan yang mulai a��a��kehabisana��a�� ikan. Jika selama ini nelayan harus mencari cumi cukup jauh dari pantai, kini mereka bisa lebih mudah mendapatkannya. Hanya dalam jarak 500 meter, mereka bisa memperoleh cumi.

a��a��Alhamdulillah gerakan kami bisa membantu para nelayan. Ini efek sosial ekonomi yang kami harapkan,a��a�� tandas Indra. (KHAFIDLUL ULUM, Bangka-Belitung/c11/ari/JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka