Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Bisnis Mutiara Lombok Lunglai

Bagikan

MATARAM – Mutiara merupakan salah satu icon pariwisata NTB. Tidak heran jika banyak masyarakat NTB yang menggeluti bisnis mutiara. Salah satunya Yadi, pemilik gerai Sinar Mutiara Lombok di Ampenan.

Bermodalkan sekitar Rp150 juta, dia memulai bisnis mutiara sejak 2014. Berarti hampir tiga tahun lamanya dia menjadi pengusaha mutiara. Menurutnya, bisnis mutiara mulai meredup dalam setahun terakhir.

“Tidak seramai zaman SBY dulu,” kata Yadi kepada Lombok Post kemarin (26/10).

Dia memiliki ratusan mutiara yang sudah dirangkai menjadi perhiasan. Ada kalung emas mutiara, gelang mutiara, anting-anting, hingga souvenir. Harganya pun beragam tergantung jenis dan grate mutiaranya.

Untuk mutiara dengan grate A dan berwarna kuning muda haranya sekitar Rp 500 ribu/gram. Begitu juga dengan mutiara warna hitam yang bentuknya bulat, mulus, dan tentu berkualitas. Tapi,mutiara Lombok dikenal dengan kekhasan warnanya yakni kuning. Ada juga konsumen yang memesan mutiara warna gold.

“Nah untuk kualitasnya low grate dibandrol seharga Rp 150.000/gramnya.Tergantung permintaan konsumen,” ungkap dia.

Menurutnya, saat ini dia hanya berani menyetok mutiara lebih kurang sebanyak 1 kilogram. Meski permintaan menurun dibanding tahun sebelumnya, tapi dia tetap mengantongi omzet Rp10 juta/bulan. Terlebih jika mendapatkan pembeli dari luar negeri.

Tingkat permintaan mutiara Lombok diperkirakan mencapai 30 persen dibandingkan periode yang sama pada 2015. Meskipun kunjungan pariwisata meningkat, bagi Yadi, hanya beberapa orang saja yang datang untuk membeli mutiara.

“Ada juga sih yang beralasan sudah beberapa kali ke Lombok san membeli mutiara,” ujar dia.

Terkait dengan itu, dia menilai perlu ada icon dari tokoh atau kelompok tertentu yang dapat mendongkrak mutiara NTB. Dia mencontohkan pada era SBY datang langsung dan ikut memanen mutiara secara simbolis.

Saat itu, pasaran mutiara Lombok sempat melejit. Hal ini dapat dimaklumi mengingat saat itu pariwisata NTB sedang menggeliat. Karenanya dia berharap pemerintah daerah menggenjot promosi pariwisata NTB sehingga berdampak terhadap bisnis mutiara.

Begitu juga dengan konsumen agar tidak mudah terkecoh dengan produk imitasi. Menurut dia, banyak cara dilakukan untuk membedakan produk mutiara asli dengan yang imitasi. Untuk produk mutiara asli tentu ditandai dengan surat.

Artinya, konsumen berhak protes jika produk yang dibeli imitasi. Yadi memperlihatkan beberapa produknya seperti anting-anting emas mutiara, gelang mutiara dan kalung. Untuk sepasang anting-anting emas mutiara dibandrol seharga Rp5,3 juta. Sedangkan gelang beruntai 14 butir mutiara kuning seharga Rp2 juta.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Kota Mataram Yusril menilai, bisnis mutiara sebenarnya tidak terlalu lesu. Terbukti, beberapa pedagang mutiara di wilayah Mataram, Sekarbela, danA� Sweta justru mulai ramai dikunjungi wisatawan.

a�?Pariwisata kita semakin menggeliat, dan ini mendukung usaha mutiara. Dan kami berkomitmen terus melakukan promosi pariwisata,a�? tegasnya.

Meski begitu, pihaknya tetap menampung berbagai masukan dari pelaku wisata sebagai upaya pembenahan sektor pariwisata terutama di Kota Mataram. Salah satu cara yakni dengan membuat banyak kegiatan serta promosi terus menerus tentu dengan memanfaatkan teknologi. (tan/r3)

Komentar

Komentar