Ketik disini

Giri Menang

Duh, Blanko e-KTP Langka Lagi

Bagikan

GIRI MENANGA�– Stok blanko Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) yang dimiliki Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Lombok Barat (Lobar) mulai terbatas. Akibatnya, pelayanan kepada masyarakat pun menjadi kurang optimal.

Kepala Bidang Pendaftaran Kependudukan, DukcapilA� Lobar Agus Martimbang menyatakan, untuk saat ini stok blanko e-KTP memang sedang menipis. Walau demikian, pihaknya tetap melayani perekaman data. “Ini secara nasional, bukan saja di Lobar,a�? jelasnya, kemarin (26/10).

Bagi masyarakat yang tidak mendapat blanko e-KTP, untuk sementara menggunakan surat keterangan sementara pengganti e-KTP. A�Fungsinya sama seperti e-KTP digunakan untuk mengurus dokumen lainnya. “Ini intruksi langsung dari Kemendagri (surat pengganti),a�? katanya.

Kosongnya stok blanko di Dukcapil Lobar sudah terjadi satu bulan terakhir. Kemendagri sudah menginformasikan blanko e-KTP di pusat menipis, melalui surat edaran tanggal 29 September. Kemendagri menjanjikan blanko e-KTP didistribusikan Desember mendatang.

a�?Saya tidak berani menjamin, blanko yang disediakan Kemendagri memenuhi kebutuhan,a�? ucapnya.

Hingga saat ini, total surat keterangan pengganti sementara e-KTP yang sudah dicetak Dukcapil Lobar sebanyak 17.000. Sementara jumlah masyarakatA� yang sudah perekaman, namun belum mendapat surat keterangan sebanyak 15.000.

Selain keterbatasan blanko e-KTP, kata Agus, prekaman e-KTP di Lobar juga terbatas alat perekam. Sementara ini, jumlah alat perekam Dukcapil Lobar sebanyak 22 unit. Namun 11 diantaranya rusak.A� Kendati demikian, Agus mengimbau masyarakat tetap melakukan perekaman.

“Urusan cetak KTP bisa belakangan. Yang penting perekaman dulu,a�? pesannya.

Masalah e-KTP di Lobar tak hanya soal langkanya blanko. Sebelumnya, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Lobar H Muridun mengatakan, alat perekam e-KTP juga menjadi masalah yang sangat seriua.

“Perekaman e-KTP belum tuntas. 11 alat perekam kami rusak. Harga per unitnya kalau lengkap itu Rp 150 juta,” beber Muridun.

Selain peralatan yang rusak, dia juga mengeluhkan terbatasnya jumlah petugas perekam. Termasuk sinyal untuk perekam e-KTP ketika berada di atas ketinggian.

Muridun menyontohkan bagaimana ketika merekam E-KTP di Pusuk Lestari dan sejumlah desa di Kecamatan Gunung Sari. “Sinyalnya nge-blank dan di beberapa tempat, bahkan nggak ada sinyal sama sekali,” keluhnya. (zen/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka