Ketik disini

Perspektif

Festival Rakyat Bekerase

Bagikan

BEGITU banyak festival yang diselenggarakan di daerah ini. Tapi tidak semuanya sempat kita hadiri. Hanya beberapa, bahkan dapat dihitung dengan jari. Hari Minggu lalu saya menghadiri salah satu Festival Rakyat Bekerase. Mungkin terdengar masih asing. Saya sendiri baru mengetahui informasinya tahun lalu. Tahun ini saya beruntung, untuk kali pertama saya mengikutinya.

Bekerase artinya menguras, membersihkan embung dari sedimentasi seperti lumut dan sampah daun-daun yang mengendap bersama lumpur didasar embung. Bekerase juga menangkap ikan yang ada di sana, menggunakan sorok atau tangan.

Tradisi ini dilaksanakan pada akhir musim kemarau. Dan di Desa Aik Bual, tepatnya di kawasan Embung Bual, Bekerase dikemas menjadi festival rakyat yang dilaksanakan sekali dalam setahun.

Festival ini mungkin masih asing bagi Anda. Tadinya saya juga berpikir begitu. Apa istimewanya menangkap ikan rame-rame di embung? Toh setiap orang juga dapat melakukan hal yang sama.

Pendapat itu sedikit keliru, terlebih ketika kita menyaksikan antusiasme masyarakat yang hadir dalam acara ini. Antusias yang saya maksud bukan sekadar datang dan hadir. Setelah gong pembukaan ditabuh secara seremtak, masyarakat yang jumlahnya ribuan turun ke embung. Mengaduk air dan lumpur, mencari dan menangkap ikan. Satu kata yang mewakili kemeriahan acara bekerase tahun ini. a�?Luarbiasaa�?.

Lokasinya di Embung Bual, salah satu kawasan sumber mata air yang secara administratif merupakan wilayah desa Aik Bual. Sementara untuk pemanfaatan irigasi dinikmati oleh hampir setengah dari total keseluruhan lahan persawahan yang ada diwilayah kecamatan Kopang.

Pemerintah desa, masyarakat yang terdiri dari kelompok pemuda, kader desa, kelompok perempuan, kelompok perlindungan mata air, remaja masjid, kelompok kreatif dan lainnya di desa Aik Bual, Kecamatan Kopang mengambil peran.

Mereka bersama-sama mendiskusikan rencana untuk menyukseskan festival ini termasuk memusyawarahkan kegiatan paskabekerase. Memikirkan bagaimana mendapatkan bibit ikan untuk dilepas kembali, serta bagaimana membuat hutan sekitar kawasan semakin rimbun dan hijau.

Ribuan masyarakat berpartisipasi. Acara yang agendanya dibuka langsung Gubernur NTB, namun karena berhalangan hadir, menjadikan diwakili Aisten II Pemprov NTB. Hadir pula Bupati Lombok Tengah yang menyampaikan sambutan, serta menjanjikan puluhan ribu bibit ikan akan dilepas di lokasi tersebut.

Acara ini pun semakin terasa lengkap dan semarak karena kehadiran TGH Hasanain Juaini yang dikenal sebagai tokoh inspiratif yang selama ini konsisten pada gerakan pelestarian lingkungan. Menyampaiakan ceramah dengan semangat, materinya pun kontekstual.

Festival Rakyat Bekerase terasa menemukan momentum sebagai kolaborasi yang harmonis antara semangat menginspirasi, kebersamaan, sekaligus membangkitkan budaya gotong royong, mengikat pertalian antara sumberdaya, potensi sosial sekaligus pariwisata berbasis ekologi.

Dimana ada keramaian, di situ pula pasar, perekonomian dapat bergerak. Hal itu pula yang saya saksikan pada festival tersebut. Selain berkah bagi pemilik warung-warung yang memang sudah ada dan berjualan setiap hari di sekitar kawasan Embung Bual. Pemerintah desa serta panitia bekerase menyiapkan stand-stand pameran yang meski terlihat masih sangat sederhana, setidaknya hasil produksi masyarakat dapat dipromosikan.

Terdapat biji kopi merupakan hasil dari perkebunan kopi masyarakat di Dusun Nyeredep dan Bare Eleh. Ada yang sudah diolah menjadi kopi bubuk. Begitu juga dengan gula merah dan gula semut yang menjadi produk unggulan warga di Dusun Talun Ambon, termasuk keripik pisang, ubi, nangka yang kesemuanya merupakan produk dari kebun, hutan dan ladang sekitar kawasan hutan desa tersebut.

Tidak dipungkiri, partisipasi organisasi masyarakat sipil seperti Transform, Berugak Dese, Konsorsium Hijau dan masih banyak lagi dalam aktivitas program pendampingan masyarakat yang dilakukan selama ini, khususnya di desa Aik Bual turut mewarnai dinamika pembangunan di desa.

Akan tetapi, yang terpenting dari itu semua adalah semangat keberlanjutan, pengembangan oleh masyarakat yang selama ini berproses dan menyatu dengan lingkungan setempat. Semangat itulah yang sesungguhnya menggerakkan banyak perubahan bermakna di desa.

Jika semangat bekerase ini juga dapat diterapkan di banyak embung, bendungan, misalnya Bendungan Batujai, Pengga, dan lainnya. Paling tidak, akan ada penghematan anggaran setiap tahun dari pemerintah yang dialokasikan untuk pembersihan embung.

Diam-diam saya membayangkan, akan semakin banyak desa melakukan inovasi konsep dan praktek Desa Membangun. Menyemai bibit, cikal bakal menyonsong kemandirian desa, salah satunya melalui konsep desa wisata.

Membangkitkan kesadaran kolektif dari seluruh warga, tokoh masyarakat, kelompok-kelompok yang ada di desa,A� pemerintah desa, pemerintah daerah yang turut mendukung, memfasilitasi munculnya potensi-potensi desa. Tradisi budaya yang merupakan cara hidup, adaptasi, pengetahuan lokal masyarakat terkonsolidasi dalam bentuk festival rakyat.

Sebagai salah seorang penikmat acara semacam Festival Rakyat Bekerase, ke depan semoga akan lebih baik lagi, dari segi penataan pameran, galeri lukisan, panggung acara. Dan yang terpenting semoga festival yang digagas oleh dan untuk rakyat tidak kita dengar lagi direcoki oleh konser musik dangdut, apalagi sampai harus mendatangkan artis ibukota, hanya untuk mengundang banjir massa. (r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka