Ketik disini

Headline Metropolis

Peringatan Sumpah Pemuda Berujung Duka

Bagikan

MATARAMA� a��A� SMKN 4 Mataram berduka. Salah seorang, siswi kelas XI bernama Septiana, mendadak terjatuh dan muntah darah sesaat sebelum dimulainya upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda, kemarin (28/10).

Informasi yang diperoleh, sekitar pukul 07.00 Wita, kemarin(28/10), sebelum dimulainya upacara, Septiani terlihat duduk-duduk di lorong kelas di lantai II. Mendadak, tanpa diketahui penyebabnya, dia langsung muntah-muntah.

“Tiba-tiba keluar darah, makin lama makin deras. Ia juga sempat batuk dan keluar darah,” kata Koordinator BK SMKN 4 Mataram I Made Sudrawan.

Pelajar yang berada di sekitar korban panik. Mereka lantas berusaha menolong korban dan memanggil guru. Septiana yang sudah terlihat lemas langsung digotong guru menuju ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

“Dari kelas sampai parkiran itu banyak darah, keluar dari hidung sama mulut Septiana. Baju imtaq yang dipakai dia juga sudah berlumuran darah,” katanya.

Karena kondisinya yang semakin menurun, Septiana akhirnya dilarikan ke RS Bhayangkara, Polda NTB. Namun sayang, nyawanya tak sempat tertolong. Septiani meninggal dunia.

“Iya tadi sempat dibawa kesini (RS Bhayangkara, Red),” kata Humas RS Bhayangkara Mataram AKP Wayan Redana, kemarin (28/10).

Redana mengatakan, penyebab meninggalnya belum diketahui secara pasti. Jika melihat faktor terjadinya muntah darah, Redana menduga telah terjadi pecah pembuluh darah di bagian organ dalam.

“Kemungkinan seperti itu, kita belum memastikan karena tidak dilakukan otopsi. Tadi korban hanya sebentar, setelah itu dibawa pulang,” ujar dia.

Sementara itu, di rumah duka pelayat mulai berdatangan, sekitar pukul 10.00, kemarin. Rumah korban yang ada di lingkungan Pelembak, Kelurahan Dayan Peken, Kecamatan Ampenan, ramai dikunjungi tetangga, teman kelas dan guru korban di SMKN 4 Mataram.

Amaq Ka’ap, orang tua Septiana, mengaku bahwa anaknya sudah sakit sejak seminggu terakhir ini. Namun, hal tersebut tidak pernah dikeluhkan langsung kepadanya.

“Tidak pernah cerita ada sakit,” kata dia sambil menahan kesedihan.

Menurut Ka’ap, dirinya tidak mendapat firasat apapun sebelum ditinggalkan putri bungsunya ini. Meski demikian, ia tetap ikhlas melepas kepergian Septiana.

“Keluarga sudah ikhlas, Insya Allah ba’da Asar nanti (kemarin, Red) akan dimakamkan di pemakaman umum di Otak Desa,” kata dia.

Sementara itu, Wali Kelas XI UPW SMKN 4 Mataram Rahmat Hidayat menceritakan sekitar dua bulan lalu, Septiana pernah tidak masuk sekolah selama tiga hari. Saat dikunjungi kerumah, dari penuturan ibunya, dia mengidap paru-paru basah dan kerap sakit perut.

a�?Dia pernah diobati secara alternatif di Lombok Tengah, setelah itu kondisinya membaik,a�? tutur Hidayat.

Dari segi fisik, almarhumah memang terlihat lebih rentan sakit dibanding teman-temannya. Karena itu, setiap pelajaran olah raga, Hidayat meminta dispensasi khusus untuk dia agar dibolehkan tidak mengikuti olah raga fisik berat seperti rekan-rekan sekelasnya.

a�?Tapi hari ini kami dibuat terkejut dengan peristiwa ini,a�? kata Hidayat getir.

Sebelum Septiana meninggal, almarhumah sempat berbicara pada ibunya. Ia mengaku bermimpi naik ke atas Gunung Rinjani. Di sana Septiana melihat pemandangan yang sangat indah. Tidak pernah sekalipun dijumpai di tempat lain.

a�?Pada ibunya ia bercerita, seperti memberi isyarat,a�? kata Hidayat.

Tidak hanya itu. Peristiwa ganjil juga dialami Hidayat saat ia menjemput ibu almarhumah di Pelembak Ampenan, untuk turut mendampingi Septiana di rumah sakit Bhayangkara. Di tengah jalan tiba-tiba ban motor depan dan belakang pecah tiba-tiba.

a�?Di situ saya sudah merasa ini pasti firasat siswi kami sudah tiada,a�? terangnya.

a�?Kami semua berbelasungkawa sedalam-dalamnya,a�? ujarnya. (dit/zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka