Ketik disini

Perspektif

Besuk

Bagikan

MENURUTA� kebiasaan warga di desa saya, orang sakit dikatakan benar-benar sakit kalau sudah ngamar di rumah sakit. Jika sakit dan masih tetap tinggal di rumah, belum dikatakan sakit.

Kecuali dari kalangan keluarga terdekat, tidak bakalan ada tetangga kiri kanan yang sudi menjenguk si sakit yang belum masuk rawat inap di rumah sakit. Kalau si sakit ingin agar tetangga sekitar datang berbondong-bondong besuk, ia harus tinggal rawat inap di rumah sakit. Walau barang dua hari tiga hari. Yang penting harus rawat inap. Harus tergeletak di salah satu ruang kamar sakit. Dan harus ada selang infus yang melilit di tangan. Ini baru orang sedang sakit.

Kalau sudah begini, keluarga terdekat akan memanggil anggota keluarga yang lain, memberitau kabar si sakit. Dari sini berita merembet ke tetangga sebelah, ke sebelah lagi, hingga orang satu kampung mendengar kabar si sakit yang lagi opname.

Sore harinya, mereka membuat rencana menjenguk si sakit. Dari kalangan keluarga sendiri bersiap-siaplah untuk mencarter mobil pikap buat mengangkut rombongan besuk. Yang lain demikian pula, mengajak anak bini besuk ke rumah sakit. Lalu berbondong-bondonglah mereka, anggota keluarga si sakit dan para tetangga membesuk si sakit.

Macam-macamlah bawaan mereka dari rumah. Roti, air mineral, buah-buahan dan segala macam makanan yang akan membuat penuh sesak seisi lemari dan meja ruang tempat si pasien menginap. Kalau kebetulan datang dari jauh, ada pula pengunjung pasien yang dengan sengaja membawa takilan (bekal makanan dari rumah) ke rumah sakit. Jadi, macam orang yang sekedar pindah makan ke rumah sakit!!!

Mereka yang datang besuk ini sering abai terhadap aturan-aturan formal rumah sakit, terutama di rumah sakit-rumah sakit pemerintah. Jam kunjungan pasien yang diberlakukan pihak rumah sakit sering tidak diindahkan. Normalnya, pengunjung dibatasi hingga jam 8 malam berada di ruang pasien.

Setelah jam itu mereka harus pergi untuk memberi kesempatan si pasien beristirahat lebih awal. Nyatanya, hingga jam 10 malam mereka masih pada ngerumpi di rumah sakit. Sambil kongkow dan ngopi-ngopi segala. Aturan lain lagi, jumlah penunggu pasien yang boleh menginap dibatasi tak lebih dari dua orang saja. Nyatanya, penunggu pasien yang menginap selalu lebih banyak dari yang ditentukan.

Besuk ke rumah sakit jadi semacam a�?rekreasia��. Satu kesempatan buat meninggalkan kesibukan di rumah untuk menikmati suasana keramaian di rumah sakit. Jangan heran kalau Anda sempat datang ke rumah sakit a�?plat meraha�� (RSUD). Keramaian dan kesemerawutan adalah pemandangan biasa. Kawan saya yang lama tinggal di kota dan belum pernah berkunjung ke RSUD satu ketika saat diajak besuk keluarga, terkesima melihat pemandangan di sana. a�?Ini pasar atau rumah sakit?a�? kelakarnya. Satu orang pasien ditunggu a�?satu pletona��.

Pihak RSUD harus bekerja ekstra untuk menjaga kebersihan lingkungan. Sayangnya, tenaga kebersihan di tiap kamar jumlahnya sangat terbatas. Dibanding jumlah tukang jaga tempat parkir, misalnya.

Di RSUD itu ada petugas parkir resmi dan adapula yang mengelola tempat parkiran liar. Saya tidak tahu apakah uang retribusi parkir itu masuk ke kas rumah sakit, kas Dispenda atau nyemplung ke kantong tukang parkir sendiri. Sebab, tidak pernah ada bukti karcis parkir yang diberikan penjaga parkir, kecuali nomer parkir semi peranen yang dibuat sendiri dengan spidol.

Jika dihitung, dalam sehari, jumlah pendapatan tukang parkir di RSUD itu luar biasa besarnya. Kalau saja satu sepeda motor dikenai Rp 2.000, dikalikan saja lima ratus kendaraan pengunjung yang gemar berbondong-bondong besuk, maka jumlahnya bisa Anda hitung sendiril. Jauh berkali lipat lebih-lebih besar dari gaji bulanan seorang perawat honor rumah sakit.

Anda jangan iri sama tukang parkir RSUD. Itu sudah rejeki mereka. Siapa suruh tetangga Anda gemar berbondong-bondong besuk ke rumah sakit. Jadi ketika merogoh receh untuk membayar parkir sebaiknya kita tidak perlu merasa sakit. (r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys