Ketik disini

Metropolis

Cucuran Keringat Dihargai Uang Logam, Bahkan Sebiji Buah

Bagikan

Di Pasar Ampenan, belasan wanita perkasa bekerja sebagai buruh. Cucuran keringatnya menjadi saksi pendapatannya yang jauh dari kata layak. Apalagi kalau membandingkannya dengan upah minimum kota (UMK) yang lagi ramai diberitakan.

***

FajarA� baru saja menyingsing. Toko-toko di Pasar Ampenan tampak belum mulai buka. Sejumlah pedagang bahkan baru mulai berdatangan. Dengan kedaraan-kendaraan angkutan umum, mereka membawa barang-barangnya.

Ketika semua tampak baru hendak dimulai, di sudut pasar kota tua itu, sejumlah wanita paruh baya tampak sudah bercucuran keringat. Mereka menghela nafas, duduk dipojokan sambil mengipas-ngipas wajahnya yang tampak kepayahan. Mereka adalah wanita perkasa yang setiap hari bekerja menjadi buruh angkut di pasar itu.

Sesuai namanya, tugas mereka mengangkut barang. Apapun jenisnya, milik siapa pun. Baik pedagang ataupun pembeli. Begitu ada yang mengorder, mereka harus selalu siap.

Salah satunya Rokayah. Pagi itu dia sudah tiga kali bolak balik ke dalam area pasar. Satu mobil bak terbuka berisi sejumlah sayur mayur diurusnya bersama Samirah yang satu profesi dengannya. Sekuat tenaga, ia mengangkat aneka sayuran itu. Namun, setelah tiga kali bolak-balik, ia hanya mendapat tiga keping uang pecahan Rp 1.000 rupiah.

“Ada bonusnya, dapat sayur sawi satu,a�? katanya lantas tersenyum.

Belasan wanita lain berprofesi sama dengannya. Nasib mereka tak lebih baik. Bekerja hanya demi bayaran koin yang tak seberapa. Mereka tak boleh mematok harga. Berapa pun yang diberikan pemilik barang, harus diterima.

Mendapat koin itu sudah lumayan. Tak jarang jerih payahnya dihargai seikat sayur atau sebutir buah. “Saya pernah angkut belanjaan pembeli satu bak Cuma dikasi sebiji pisang,a�? kata Samirah yang hanya bisa pasrah.

Dengan bayaran yang setara tukang parkir itu, jangan harap mereka bisa mengantongi uang berlebih. Kendati memulai kerja paling awal dan mengakhiri pekerjaan paling belakangan, boleh jadi mereka orang yang mendapat pundi rupiah paling sedikit.

“Kalau tukang parkir prit-prit dapat Rp 1.000, kita harus ngeson dulu dari ujung sampai ujung baru dapat segitu,a�? katanya membandingkan kesukaran pekerjaan yang dilakukan.

Kendati jumlah buruh angkut terbilang banyak, pekerjaannya sangat berat, dan perannya sangat vital. Mereka tak memiliki kemampuan untuk menegosiasikan harga. Semua diterima dengan lapang dada.

Dengan uang koin itulah setiap buruh angkut menghidupi keluarga. Dapat belasan ribu dalam sehari, itu sudah sebuah berkah bagi mereka. Namun kerap kali pemasukan setiap buruh tak lebih dari Rp 10 ribu saja.

Sungguh sebuah harga yang murah untuk setiap tetes keringat yang mereka cucurkan. Tak sebanding sama sekali, namun apa daya, tak ada pilihan. a�?Dari pada momot di rumah,a�? kata Masnah, seolah berusaha menghibur diri.

Jika boleh meminta, mereka hanya ingin setiap orang yang sudah diangkatkan barangnya lebih menghargai jerih payah mereka. a�?Kalau bisa bayarannya pakai uang kertas pecahan Rp 5.000an,a�? kata Masnah sambil melempar senyum.(WAHYU PRIHADI, Mataram./r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka