Ketik disini

Feature

Kematian Itu di Depan Mata Saya

Bagikan

Herman terdiam, sesekali tangan pria asal Padang, Sumatera Barat mengusap air matanya. Tatapannya tak henti melihat satu persatu mayat yang diturunkan dari mobil ambulan.

***

PAGI kemarin, bertempat di Rumah Sakit Bhayangkara Batam Polda Kepri, ambulan sibuk hilir mudik mengevakuasi korban tewas insiden kapal boat tenggelam di perairan Tanjungbemban, Teluk Mata Ikan Nongsa.

“Satu anak kecil sempat ku gengam tangannya. Tapi ku nggak tahu lagi kemana, terlepas, karena ombak besar,” kenang Herman. Pria 32 tahun ini satu penumpang yang selamat. Dia bersama tiga korban lainnya yakni Imam Fadoli,39, asal Jawa Timur, Amaq Asan,49, asal Lombok juga Hendra,35, asal Medan dirawat di rumah sakit tersebut.

Menurutnya, usai kapal boat itu terbalik penumpang terjatuh ke air. Sejuruh kemudian, para penumpangpun berusaha menyelamatkan diri di tengah luasnya lautan tersebut. Di tengah perjuangannya mencari bantuan, dia disuguhi tontonan yang memilukan, penumpang yang tidak bisa berenang dan kelelahan begitu sulit mencari nafas.

“Saya sempat menangis, melihat mereka mencari napas. Kematian itu di depan mata saya,” tuturnya.

Dia beserta penumpang lain yang bisa berenang menyebar mencari bantuan dengan cara melepas baju dan sebisa mungkin mengibas di udara sembari berharap ada bantuan, usaha ini berhasil, nelayan yang sedang mencari ikan di perairan tersebut melihat mereka dan segera mendekat guna memberi bantuan.

“Nelayan-nelayan yang tolong kami, mereka baik sekali, mereka punya hati, diberinya kami air dan bawa ke darat,” ucapnya.

Dia mengatakan, sejatinya selain perahu nelayan, ada beberapa kapal dalam ukuran yang lumayan besar (di banding perahu nelayan) melintas tidak jauh dari para korban, namun bantuan tidak kunjung di dapatkan para korban.

“Orang (di kapal yang dimaksud, red) tak punya nurani. Ada empat biji (unit kapal, red) tadi, jaraknya sini (tempat dia duduk) sama ambulan itu,” ujarnya. Jarak dalam perumpaan Herman tersebut, kira-kira  20 meter.

Dalam penuturannya, dia beserta penumpang lainnya naik di Pasir Gudang Johor Malaysia, dia tak tahu pasti waktunya, namun dipastikan dini hari. Diakuinya, kapal boat yang mereka tumpangi tidak bersandar. “Kita ke dalam, air seleher baru naik,”ungkapnya.

Setelah penumpang semua naik, kapal meninggalkan perairan Pasir Gudang menuju Batam. Hampir sampai di perairan Batam, kapal mereka sempat tersangkut karang. “Yang laki-laki semua turun dorong,” katanya.

Usai kejadian tersangkut karang tersebut, perjalananpun dilanjutkan, beberapa waktu berlayar ombak mulai tidak bersahabat. “Padahal ombak tetap dilewati, mungkin takut kalau sudah pagi,” ucapnya.

Dia menambahkan suasana yang awalnya tenang berubah mencekam, para penumpang demikian gusar, sahutan tangis terdengar dari para penumpang perempuan juga anak-anak. “Orang pada doa, nangis. Kapal penuh air, miring lalu telungkup,” pungkasnya.

Sementara itu, hingga kemarin Rabu (2/11) pukul 19.30 WIB, korban meninggal yang dievakuasi ke RS Bhayangkara sebanyak 18 jenazah, dengan rincian 7 laki-laki dewasa, sepuluh wanita dewasa dan satu balita perempuan.

Sebanyak 18 korban meninggal dievakuasi melalui pelabuhan Nongsa Point Marina & Residence (NPM) dan Teluk Mata Ikan, Nongsa.

Dari 18 orang korban itu, di antaranya berjenis kelamin laki-laki dewasa sebanyak 10 orang, perempuan dewasa sebanyak 7 orang, dan bayi satu orang. Seluruh korban meninggal saat ini telah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara.

“Lima belas jenazah dari sini (NPM) dan tiga jenazah dari Teluk Mata Ikan,” ungkap Kasat Brimob Polda Kepri, Kombes Pol Tory Kristianto.

Tory mengungkapkan alasan evakuasi jenazah dari NPM dikarenakan kondisi air laut yang saat itu sedang surut, sehingga kapal untuk evakuasi korban sulit untuk bersandar.

“Kapal tidak bisa mendarat di sana, jadi kita dirikan pos darurat di sini,” ujarnya.

Dari data yang dihimpun hingga pukul 14.00 WIB, jumlah korban selamat mencapai 39 orang dari 93 orang.

“Masih 43 orang lagi yang diperkirakan belum ketemu sampai saat ini, dan yang sudah ketemu langsung kita evakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara,” katanya.

Dalam proses evakuasi ini, Tory memperkirakan korban yang belum ditemukan sudah tenggeleman ke dasar laut.

Wakil Walikota Batam Amsakar Achmad mengatakan Pemerintah Kota (Pemko) Batam tak punya kebijakan terkait penangan pelabuhan di Batam, termasuk pelabuhan tikus. Regulasi terkait pelabuhan berada di tangan Kementrian Perhubungan.

“Setahu saya urusan pelabuhan dan ranah kewenangan ada di Kementrian. Itu sudah satu kesatuan, baik penanganan pelabuhan resmi dan tak resmi,” ujar Amsakar di kantor Walikota Batam, kemari.(2/11)

Namun, lanjut Amsakar, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Kementrian terkait keberadaan pelabuhan tikus. Apalagi, peristiwa tengelamnya kapal yang membawa TKI ilegal bukan yang pertama kalinya terjadi.

“Hal ini pasti akan kita bahas internal. Perlu juga koordinasi ditingkat daerah untuk menelusuri hal ini. Dan kita akan koordinasikan ke pusat,” jelas Amsakar.

Dijelaskannya, saat terjadi permasalahan di wilayah kewenangan pusat, maka yang berhak menyelesaikan adalah pusat. Begitu juga dengan kewenangan pelabuhan.

“Tiba-tiba pihak lain (Pemkot Batam) yang menyelesaikan, itukan tak nyambung. Namun dalam hal ini kita tak akan lepas tangan,” terangnya.

Menurut dia, Pemkot Batam siap mendukung apapun hal yang menjadi tangungjawab terkait musibah tersebut. Diantaranya adalah menyediakan logistik, pakaian, dapur umum serta shelter penampungan untuk korban.

“Penanganan dan pengawasan terkait kejadian ini tak bisa setengah-setengah. Dan saya lihat dalam hal ini, semua jajaran cepat tanggap dan menyelesaikan secara bersama,” ungkap Amsakar.

Selain itu, Amsakar turut berbelasungkawa atas kecelakaan naas yang merenggut nyawa diduga TKI ilegal.

“Dari jam 9 pagi tadi (kemarin, red) saya disana dan melihat situasi yang memang menyayat hati. Saat ini, pihak berwenang juga tengah mengidentifikasi korban,” pungkas Amsakar. (JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka