Ketik disini

Giri Menang

Lawan dengan Gula Semut

Bagikan

GIRI MENANG – Untuk mengubah pola hidup masyarakat penghasil nira, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disprindag) Lobar berencana melakukan pembinaan. Masyarakat di kawasan penghasil nira, seperti Kecamatan Lingsar dan Gunungsari akan dibina mengolah nira menjadi produk yang lebih bermanfaat. Barupa produk minuman segar dan gula merah.

Kepala Disperindag Lobar Mahyudin mengatakan, selama ini dilapangan, masyarakat masih banyak mengolah nira menjadi produk yang kurang bermanfaat. Seperti tuak toak alias minuman keras (miras) tradisional.

Sasarannya, kata Mahyudin adalah masyarakat penghasil aren. Sejauh ini, yang sudah dilakukan pembinaan, di daerah Desa Batu Mekar, Desa Giri Madye, dan Desa Karang Bayan. “Tahun depan rencananya kita tambah, desa potensi aren besar di Desa Kekait Gunungsari,” jelasnya, Selasa (1/11).

Pembinaan ini akan dilakukan di enam titik. Satu titik, Disperindag membutuhkan anggaran Rp 30 juta. Jumlah masyarakat yang dibina juga dibatasi. Berkisar antara 15 hingga 20 orang.

Diakui Mahyudin, cukup sulit langung menutup produksi tuak toak di masyarakat. Karena itu, secara perlahan, dibina lewat produk yang lebih bermanfaat dan siap untuk dipasarkan.

“Selama ini, pembuat dan penikmat itu saling membutuhkan. Tapi perlahan akan kita ubah dengan produk gula semut,” ujarnya.

Guna menjamin produk terserap di masyarakat, lanjut Mahyudin, pihaknya meminta pemkab membuatkan Perbup. Diakui, seperti keinginan bupati, Perbup tersebut akan segera disusun.

Tidak hanya itu, Disperindag juga akan membantu masyarakat dalam mengurus izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT), serta sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sejauh ini, sudah ada dua desa yang dibina Disperindag. Mereka sudah punya PIRT dan sertifikat halal.

“Desa Langko Kecamatan Lingsar dan Desa Kekait,” tandasnya. (zen/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka