Ketik disini

Metropolis

Lima TKI NTB Tewas

Bagikan

BATAM – Proses pencarian korban tenggelamnya kapal pengangkut TKI dari Malaysia di perairan Tanjung Bemban, Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (2/11) lalu, masih terus dilakukan oleh tim gabungan kemarin (3/11). Namun, sepanjang hari kemarin, tidak ada korban baru yang ditemukan. Total masih ada 42 orang yang dinyatakan hilang.

Kapolda Kepulauan Riau Brigjen Pol Sam Budigusdian menuturkan, hingga kemarin sore, tim gabungan mencari hingga ke radius 290 mil dengan melibatkan 41 kapal gabungan Basarnas dan Polda Kepri serta dua helikopter. “Tidak ada korban yang kita temukan selama pencarian,” katanya. Pencarian akan dilakukan kembali pagi ini.

Sementara itu, dari total 18 korban meninggal yang terdiri dari 7 pria dewasa, 10 wanita dewasa dan satu balita perempuan, sebanyak 12 di antaranya telah berhasil diidentifikasi. Lima di antara 12 korban yang berhasil diidentifikasi berasal dari NTB.

Korban dari NTB itu adalah Mahrun, pria 49 tahun asal Dusun Tanak Embang Daye, Desa Selebeng, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah. Teridentifikasi juga Aisyah, wanita 27 tahun asal Reban Burung, Dusun Aiberik, Kecamatan Bagek Nunggal, Lombok Tengah. Juga Rukmin, wanita 39 tahun asal Wage Desa Batujai Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. Zainab, wanita 39 tahun asal Dusun Tanah Embang Daye, Desa Selebeng Kecamatan Batuk Liang, Lombok Tengah. Dan terakhir, Ating Fatimawati wanita 33 tahun asal Kampung Permai Kelurahan Pijot Kecamatan Keruak Lombok Timur.

Sementara tujug korban lainnya adalah Siti Maisarah, perempuan, 27 tahun asal Dusun Kali Kangkung RT03/RW01, Desa Glebak, Kecamatan Kradenan Blora. Aprilia, bayi tujuh bulan asal Dusun Kali Kangkung RT03/RW01, Desa Glebak, Kecamatan Kradenan Blora. Supriyadi, pria 51 tahun, asal Dusun Sanding, Desa Babadam Kecamatan Ngancar, Kediri, Jawa Timur. Desiana, wanita 44 tahun beralamat di Bida Kabil Kaveling Baru Punggur Blok I Nomor 69 RT 03/RW01, Batam. Masyaro, wanita 40 tahun, Desa Randupitu, Dusun Banjar RT04/RW02, Kecamatan Gending, Probolinggo Jawa Timur.

Lalu ada Rian Eka Yuniar, pria 31 tahun alamat Jalan Stadium nomor 18 Tulungagung, Surabaya, Jawa Timur, dan Novi Yanti, wanita 26 tahun asal Dusun Jati Rejo 01/01 Desa Talang Jali Kecamatan Kota Bumi Utara kabupaten Lampung Utara.

Dari ke 12 jenazah yang sudah teridentifikasi itu satu jenazah atas nama Desiana sudah diserahkan ke pihak keluarga, karena memang tinggal di Batam.

Sementara korban yang selamat sebanyak 41 orang. 40 orang diantaranya masih berada di shelter sementara satu lainnya atas nama Herman awak kapal yang selamat melarikan diri. Total yang belum ditemukan sebanyak 42 orang.

Ditambahkan Sam Budigusdian, sebelum kapal tenggelam, tekong dan para TKI sempat terlibat cek cok di tengah perairan. Ini disebabkan karena tekong dan awak kapal meminta uang tambahan sebesar Rp 150 ribu perorang. Uang itu untuk evakuasi ke darat jika telah tiba di Batam. Sebab kapal tidak bisa bersandar dekat pesisir pantai. “Ini berdasarkan keterangan dari korban selamat,” kata dia.

Tapi karena sudah bayar uang sewa penyeberangan mencapai 1.000 ringgit Malaysia perorang sebelumnya, 98 penumpang itu menolak untuk membayar ongkos tambahan itu sehingga terjadilah cek cok. Di tengah cek cok itulah tiba-tiba kapal yang ditumpangi 98 TKI itu dihantam ombak.

Mengenai kronologi awal, jelas Kapolda, awalnya Dodi pemilik kapal yang berdiam di Batam mendapat order dari Sukri salah satu tekong dari Malaysia untuk mengangkut 93 TKI tadi. Bersama Herman dan Darius, Dodi kemudian berangkat menjemput ke pelabuhan Tembakai, Johor Bahru, Malaysia. Usai kecelakaan Dodi langsung diamankan polisi, sementara Herman kabur dan Darius hilang bersama korban lain sampai siang kemarin.

Atas kejadian itu polisi juga sudah menetapkan Dodi pemilik kapal sebagai tersangka. “Tersangka baru satu, yang lainnya masih kami dalami untuk mempertanggung jawabkan insiden ini,” ujar Kapolda.

Polisi Malaysia Abai

Atas kejadian tersebut, Polda Kepri juga akan memanggil Polisi Diraja Malaysia untuk membahas masalah tersebut. Menurut Sam Budigusdian, kecelakaan laut yang sering menimpa TKI asal Indonesia itu tidak terlepas dari lemahnya pengawasan Polisi Malaysia.

Dia menuturkan dari keterangan saksi-saksi yang selamat sebelum insiden kecelakaan itu terjadi, para TKI yang diselundupkan lebih dahulu ditampung dalam kamp atau tempat penampungan di Johor Bahru Malaysia. Para TKI ditampung dalam kurun waktu yang cukup lama sehingga terkesan ada unsur pembiaran dari aparat penegak hukum di Malaysia.

“Bahkan perjalanan para korban ini dari tempat kerja mereka ke lokasi penampungan itu sekitar 12 jam, masa polisi sana tak ada pengawasan sama sekali,” ujarnya.

Untuk itu pihaknya sudah berkoordinasi dengan Polisi Malaysia untuk membahas persoalan tersebut.”Kalau tak ada halangan hari ini mereka (polisi Malaysia) datang ke Batam. Sekaligus untuk membahas masalah penyelundupan narkoba juga,” ujar Sam Budigusdian.

Selain itu Sam Budigusdian juga berharap kepada pemerintahan pusat dalam hal ini kementerian terkait agar membahas persoalan tersebut secara kenegaraan.”Harus ada tindak lanjut dari negara dan itu kewenangan Menteri,” ujarnya.

Kerahkan Kapal Sensor

Sementara itu, dalam lawatannya ke posko evakuasi di Nongsa Marina Point Kamis (3/11), Kepala Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) RI Felicianus Henry Bambang (FHB) Soelistyo meminta kekuatan SAR gabungan fokus di permukaan laut. Hal ini dilakukan, karena diperkirakan mayat korban akan mengapung.

“Pengalaman operasi, pada hari ketiga biasanya yang tenggelam dan meninggal akan mulai mengapung, besok kekuatan fokus ke permukaan,” kata Soelistyo, Kamis (3/11) siang.

Namun demikian, pencarian di garis pantai juga tetap dilakukan, hal ini guna menunjang hasil operasi tersebut baik korban yang masih diperkirakan hidup maupun meninggal. “Hari pertama hingga ke tujuh pencarian memang di permukaan dan di garis pantai,” terangnya.

Dia menambahkan, pencarian hari ketiga juga akan menurunkan kapal milik Basarnas yang dilengkapi peralatan sensor yang dapat mendeteksi objek dibawah permukaan laut. “Tujuan utama untuk mencari titik tenggelam dan posisi kapal. Saya yakin masih ada juga saudara (jenazah korban) kita di dalamnya,” ucapnya.

Lanjut dia, setelah titik atau posisi kapal ditemukan, selanjutnya tim penyelam akan turun melakukan evakuasi. Tim penyelam melibatkan tim dari Basarnas, Polri, TNI Al, juga Marinir. Tidak hanya itu penyelam tradisional juga turut dilibatkan. “Pada saat sasaran (kapal) ditemukan, mereka akan turun,” ucapnya lagi.

Dia percaya, dengan kekuatan kapal 14 kapal milik TNI AL, Polair, Polresta, Brimob maupun Basarnas. Dua helikopter milik Basarnas dan Polri, serta kekuatan personil yang mencapai 261 personel pencarian tersebut akan berakhir baik. “Ini sudah lebih dari cukup, tinggal bagaimana mengatur agar kekuatan ini dapat melakukan tugas selama operasi pokok tujuh hari,” terangnya.

Segera Dipulangkan

Kepala Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil NTB H Ahsanul Khalik mengaku telah menerima laporan terhadap lima korban meninggal yang berhasil diidentifikasi.

Sejak kemarin kata dia, Sekretaris Disosdukcapil NTB Ismail Marzuki dan Kepala Seksi Korban Tindak Kekerasan dan Pekerja Migran Ari Yuliani telah berada di Batam. Keduanya di sana berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait korban meninggal dan memastikan kondisi terkini warga NTB yang menjadi korban selamat.

Mengingat korban yang belum ditemukan masih banyak, segala kemungkinan masih bisa terjadi. Termasuk kata Khalik kemungkinan bertambahnya jumlah korban dari NTB. “Tentu saja kita berharap yang terbaik,” tandasnya.

Terkait informasi lain yang menyebutkan bahwa terdapat 10 warga NTB yang meninggal, Khalik menolak berspekulasi. Ia hanya akan menyampaikan data resmi dari stafnya yang kini tengah berada di lokasi. ”Untuk data warga yang meninggal ini tidak boleh kita salah-salah, kasihan keluarganya,” ujar mantan camat Cakranegara ini.

Terkait warga NTB yang selamat, kini berada di penampungan Dinas Sosial Batam. Terdiri dari 23 laki-laki dan 1 perempuan. Mereka dalam kondisi sehat dan akan segera dipulangkan.

Terpisah, Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) NTB Muharom menjelaskan, BNP2TKI sudah mengerahkan tim ke lokasi untuk mempercepat pengurusan korban, baik yang selamat maupun yang meninggal.

”BNP2TKI akan memprioritaskan pemulangan korban yang selamat ke daerah masing-masing,” ujarnya.

Muharom mengatakan, bagi keluarga yang ingin mendapatkan informasi bisa menghubungi posko BNP2TKI di nomor 082213971991.

Sementara itu, Kepala Layanan Terpadu Satu Pintu TKI NTB H Zainal mengaku mendapat informasi terkait 10 korban meninggal dari NTB. Merujuk informasi itu, lima korban dari Lombok Timur dan lima lainnya dari Lombok Tengah. Hanya saja, data tersebut tak bisa dirinci.

Terkait pemulangan, kata dia, akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Sebab, kejadian tersebut berada di wilayah Indonesia sehingga lebih mudah. Biaya pemulangan akan disiapkan oleh negara. Dan posisi pihaknya kata Zainal hanya menunggu.

Namun, koordinasi telah dilakukan pada dinas tenaga kerja masing-masing daerah di NTB untuk menyiapkan ambulan penjemputan jenazah. “Armada di Pemprov NTB juga terbatas,” kata Zainal.

Pihaknya juga masih perlu mengecek status ketenagakerjaan mereka, apakah resmi atau non dokumen. Tapi bila legal, tidak mungkin mereka berangkat lewat jalur tersebut. Meski demikian, apapun statusnya selama dia warga NTB maka pemerintah akan bertanggungjawab membantu.

”Ya sama, kita bantu pemulangannya,” kata Kepala Bidang Penempatan dan Perlindungan TKI Disnaketrans NTB ini.

Rayuan Tekong

Sementara itu, Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi mengatakan, ia sudah meminta Dinas Sosial dan Bakesbangpol NTB untuk mengecek kondisi warga yang menjadi korban di Batam. Sekaligus memastikan, apakah para TKI tersebut berangkat secara legal atau tidak. Sebab, biasanya TKI legal tidak akan melalui jalur tersebut.

Menurutnya kejadian ini terjadi di daerah Batam bukan di NTB sehingga pihaknya tidak bisa melakukan kontrol atau pencegahan. NTB sendiri selama ini menerapkan sistem layanan terpadu satu pintu (LTSP). Jadi prosedurnya jelas. Khusus dengan Malaysia, Pemprov NTB sudah bekerjasama dengan BUMN Malaysia, sehingga terjamin warga yang bekerja di sana itu mendapatkan hak-haknya.

Terlepas apakah mereka berangkat secara legal atau tidak, pemerintah akan tetap memberikan kepada korban. Baik berupa uang duka maupun doa. Baginya, peristiwa ini adalah musibah yang harus dijadikan pelajaran.

Peristiwa di Batam ini mengindikasikan masih ada yang berangkat dari luar jalur LTSP. Padahal sosialisasi juga terus dilakukan kepada masyarakat, bahwa LTSP ini untuk kepentingan masyarakat sendiri. ”Jangan menggunakan tekong-tekong yang tidak jelas, akhirnya seperti ini,” imbuhnya.

Masih adanya TKI yang berangkat melalui jalur tidak resmi bukan berarti pemerintah gagal. Jika dilihat dari tren, jumlah warga yang berangkat melalui jalur resmi selalu bertambah. Tapi di sisi lain tekong juga terus turun ke masyarakat dengan berbagai iming-iming. Seperti menawarkan kemudahan, mungkin karena pertimbangan hemat waktu dan tidak mau berurusan dengan prosedur banyak TKI yang tergiur. ”Akhirnya seperti ini,” ujarnya.

Menurut gubernur, peristiwa ini menjadi evaluasi bagi pemerintah, ke depan perlu kerja sama dengan pemerintah desa yang memiliki data lengkap terkait penduduk. Sehingga diharapkan mereka bisa mengingatkan untuk tidak menggunakan pelayanan tidak resmi.

TGB menambahkan, dengan peristiwa kecelakaan ini, bukan berarti pemerintah harus memoratorium pengiriman TKI. Sebab, banyak juga yang berangkat secara resmi dan mendapat perlakuan yang layak. Asuransi lengkap, bahkan bantuan untuk keluarga yang ditinggalkan. ”Kalau itukan bagus,” ujarnya. (ili/JPG/r8)

Mereka Yang Jadi Korban

Nama                                     Usia                        Alamat

Mahrun                                 49 tahun                Dusun Tanak Embang Daye, Selembeng, Batukliang, Loteng

Aisyah                                    27 tahun                Reban Burung, Dusun Aikberik, Bagek Nunggal, Loteng

Rukmin                                  39 tahun                Wage, Batujai, Kec. Praya Barat, Loteng

Anting Fatmawati               33 tahun                Kampung Permai, Pijot, Keurak, Lotim

Zainab                                    39 tahun                Dusun Tanak Embang Daye, Selembeng, Batukliang, Loteng

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka