Ketik disini

Headline Opini

Sikap Kenegarawanan Presiden dan Pelajaran Berdemokrasi

Bagikan

SIAPAA� yang tidak kenal Jokowi dan Prabowo di Republik ini. Ketokohan keduanya mampu a�?menyihira�� semua anak Bangsa ini. Keduanya memiliki rekam jejak yang patut diteladani bagi semua lapisan baik kalangan pemuda maupun kalangan elit politik. Sebagai konsekuensi demokrasi, atas hak yang sama untuk dipilih, kedua tokoh ini pernah menjadi rival. Rivalitas dua tokoh penting Bangsa ini terjadi ketika pemilihan presiden tahun 2014 silam.

Proses demokrasi saat itu mengantarkan satu diantaranya menjadi Presiden yakni Joko Widodo (Jokowi). Rivalitas berlanjut pasca pilpres sampai pada terbelahnya dukungan di parlemen. Semua dimensi rivalitas keduanya berakhir ketika kedua tokoh tersebut menunjukkan kenegarawanannya kepada rakyat melalui kunjungan Bapak Presiden Joko Widodo ke kediaman Prabowo.

Pemandangan yang tidak lazim, tidak lazimnya karena biasanya Bapak Presiden yang memanggil bawahannya atau pimpinan parpol ke Istana. Berbeda halnya ketika Bapak Presiden terhadap Prabowo, justru Bapak Presiden yang mendatangi kediaman Prabowo. Kunjungan Bapak Presiden yang dimaksud mengakhiri semua bentuk rivalitas, mengakhiri semua bentuk perbedaan di parlemen, justru melahirkan persatuan dan kesatuan.

Satu dengan yangA� lainnya saling mengisi, saling memberi masukan dan catatan demi kemajuan negara Indonesia. Teladan yang demikian sangat diharapkan oleh semua kalangan masyarakat. Tidak seperti yang sebelumnya, selalu mempertontonkan persaingan yang demikian ketat sehingga rakyat bergumam kalau pembesar-pembesar negara ini ribut, kapan kerjanya?

Banyak kalangan menilai pertemuan itu sekedar melakukan konsolidasi terkait unjuk rasa terkait penistaan agama. Banyak pula yang menduga justru pertemuan itu untuk meminta masukan terkait program-program ke depan. Bagi saya, tidak penting apa yang menjadi agenda keduanya. Namun yang sangat penting adalah siapa bertemu siapa? Pertemuan antara Jokowi sebagai Presiden dengan Prabowo sebagai rakyat biasa yang sebelumnya keduanya bersaing merebut kursi R 1 pada pemilu. Pertemuan tersebut benar-benar menjadi pelajaran berdemokrasi bagi kita semua yang ada di daerah-daerah dan desa-desa dalam rangka menyambut pilgub, pilbup dan pilkades secara serentak.

Pertemuan yang sarat dengan pelajaran dari negarawan kepada rakyat yang ada di daerah-daerah terutama sekali daerah-daerah yang akan menyelenggarakan pesta demokrasi. Jangan sampai a�?pesta demokrasia�� justru menjadi ajang saling bermusuhan, jadikan demokrasi ini menjadi ajang kontestasi ide dan gagasan. Prosesnya pun harus damai dan menggembirakan.

Sikap kenegarawanan sejatinya harus menjadi milik semua orang, sikap semua rakyat yang ada dalam alam demokrasi. Sikap ini bukan hanya menjadi milik pejabat negara saja melainkan sikap ini juga hak bagi rakyat jelata. Keterpilihan seseorang dalam sistem demokrasi bukan karena dirinya sendiri akan tetapi melibatkan banyak orang.

Karena itu ketika sikap kenegarawanan itu ditunjukkan pada saat meraih kemenangan jusrtu itu yang akan menumbuhkan cinta dan semakin cinta terhadap orang tersebut bahkan cinta itu akan mengalir dari pihak yang kalah . Akan tetapi sebaliknya jika sikap kenegarawanan itu ditunjukkan pada saat meraih kekalahan justru itu akan menjadi kontrol terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Sesungguhnya sikap ini akan mengontrol uporia kemenangan yang berlebihan atau sebaliknya dapat mengontrol ekspresi kekalahan yang memungkinkan anarkisme.

A�Pelajaran berdemokrasi tentu tidak akan didapat dari bangku sekolah ataupun kursi kuliah melainkan pelajaran itu akan didapat saat demokrasi mengajar kita ketika pilihan kita tidak menjadi pemenangnya. Pelajaran yang diberikan a�?demokrasia�� adalah pelajaran tanpa buku dan pena melainkan realitas yang lebih asli dari sekedar fakta sekali pun.

Oleh karena itu, daerah-daerah yang akan pesta demokrasi dan desa-desa yang akan pilkades serentak harus belajar banyak dari realitas yang sudah melintas, bukan belajar dari fakta yang ada. Kenapa demikian? Dalam politik, fakta adalah data yang belum tentu sama dengan realitas yang ada.

Dalam hitungan bulan banyak daerah yang akan pesta demokrasi dan pilkades secara serentak. Sikap kenegarawanan yang dipertontonkan oleh Presiden dan Prabowo patut menjadi modal bagi semua kandidat.

Demokrasi adalah proses bukan tujuan bernegara, sehingga dalam berdemokrasi dituntut untuk menjalani proses tersebut sebaik-baiknya, sedamai-damainya, segembira-gembiranya agar tujuan bernegara dicapai sesuai dengan cita-cita bernegara. Dalam sistem demokrasi, partai adalah roda motorik untuk memuluskan perjalanan demokrasi itu sendiri, sehingga partai tidak harus memecah dukungan ketika proses demokrasi sudah selesai.

Demikian pula pada pilkades, semua kandidat calon kepala desa harus memiliki sikap kenegarawanan guna menghindari konflik horizontal. Sebagaimana tulisan sebelumnya, saya mengatakan penyelenggaraan pemilu seperti piramida terbalik yakni semakin rendah jenjang penyelenggaraan pemilu maka semakin ketat daya persaingan yang muncul. Dengan demikian potensi konflik horizontal pun semakin tinggi.

Sikap kenegarawanan tentu sifatnya universal, maka mari kita junjung tinggi sikap kenegarawanan itu melebihi dari kepentingan pribadi.

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka