Ketik disini

D'LADIES Headline

Saat Buah Hati tak Kunjung Hadir

Bagikan

Mendambakan kehadiran buah hati dalam sebuah rumah tangga tentu menjadi impian semua pasangan suami-istri (pasutri). Apalagi bagi yang telah mengarungi biduk rumah tangga bertahun-tahun.

Anak memang adalah anugerah yang diberikan Tuhan dengan waktu yang tidak bisa ditebak. Bersyukur bagi pasutri yang tidak perlu menunggu lama untuk menimang buah hati. Sementara bagi mereka yang diuji kesabaran dengan tak kunjungnya hadir buah hati di tengah keluarga memiliki cara yang beragam menyikapinya. Ada yang memilih pasrah sambil menunggu keajaiban Tuhan namun banyak juga yang terus berusaha untuk mewujudkan impiannya.

Seperti yang dilakukan tiga wanita yang sempat diwawancara tim D’ladies. Ada Ira yang berprofesi sebagai PNS di Bima, Ayu seorang karyawan bank dan Siti, karyawan swasta. Ketiganya telah menempuh berbagai cara untuk memiliki anak.

Ira baru dikaruniai anak di usia pernikahannya yang ke-10. Sementara Ayu setelah 8 tahun menikah dan Siti di tahun keempat mengayuh biduk rumah tangga.  Sebelumnya mereka sempat mengalami keguguran beberapa kali.

Ira menyebut, kesabaran, usaha, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah adalah beberapa langkah yang dilakukannya selama proses mendapatkan anak. Dia dan pasangan memang sudah cukup lama merindukan tangisan bayi di rumah. Apalagi usia pernikahan mereka tergolong lama.

“Saya keguguran di awal pernikahan sekitar dua bulan setelah menikah,” katanya.

Pengalaman keguguran lebih dari sekali nyaris membuat dirinya putus asa. Namun, Ira sangat beruntung memiliki suami yang terus menyemangatinya agar mau berusaha untuk mendapatkan anak.

“Suami saya terus berusaha mengingatkan kalau Allah SWT tidak tidur dan ingin melihat usaha kami dalam memiliki  anak. Sehingga kita jangan putus asa,” jelasnya.

Vonis dokter yang menyebut rahimnya lemah sehingga menyebabkan dia sulit hamil juga hampir membuatnya lemas. Akan tetapi setelah merenung dan lebih banyak mendekatkan diri dengan Tuhan, semangat untuk memiliki anak pun kembali ada.

“Saya yakin usaha itu tidak ada yang sia-sia dan hasilnya pasti akan bisa didapatkan,” ujarnya.

Sejak itu, Ira  berusaha merubah pola hidupnya. Ia menyadari dirinya juga sangat kurang dalam menjaga kesehatan. “Saya sadar salah satu penyebabnya karena saya tidak punya pola hidup sehat,” tuturnya.

Ira juga tidak menyangkal jika beberapa kali sempat disarankan menempuh alternatif lain untuk mendapat momongan. Mulai dari herbal, dan program hamil secara medis. Tapi saat itu dia tidak bisa langsung mengiyakan.

“Harus koordinasi sama suami dan keluarga kalau itu. Tapi saya mencoba dulu dari saya dan suami untuk menerapkan pola hidup sehat,” jelasnya.

Usaha merubah pola hidup sehat ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Termasuk mulai memperhatikan asupan makanan sehari-hari agar tetap bergizi dan sehat. “Saya makannya saja sudah tidak nasi putih, tapi nasi merah,” ujarnya.

Selain nasi yang dimakan diganti, makan buah juga wajib baginya setiap hari. Padahal dulu makan buah baginya jarang-jarang, kalau mau saja baru membeli. “Tapi sekarang setiap hari buah ada di rumah,” terangnya.

Ira lebih banyak mengonsumsi buah-buahan yang bisa membuat kandungannya kuat. Seperti apel dan kurma. Agar tidak bosan, dia coba variasikan dengan buah lainnya yang sejenis. “Apel itu kandungan antioksidannya cukup tinggi dan kaya dengan vitamin C,” ujarnya.

Tetapi yang terpenting dari semua itu menurut dia, adalah ibadah. Ira dan suami mencoba memperbaiki kualitas dan meningkatkan ibadah mereka. Beberapa amalan, termasuk salat sunnah rutin mereka lakukan.

“Salat malam terus saya lakukan bersama suami. Dan Alhamdulillah bisa sampai sekarang dikerjakan,” tambahnya.

Memang cukup lama waktu yang dibutuhkan, namun akhirnya itu membawa hasil pada usia pernikahannya yang sudah hampir 10 tahun. Ia dinyatakan hamil dan kini anaknya  sudah hampir berusia enam bulan.

Beda lagi dengan Ayu yang hampir membutuhkan waktu sekitar 8 tahun untuk memperoleh anak.  Usut punya usut, ternyata di keluarga Ayu memang rata-rata lama dikaruniai anak.

“Ini (keturunan lama punya anak, Red) juga penyebabnya disamping tentu ada penyebab lainnya,” ungkap Ayu.

Kesibukan di kantor secara perlahan agak dikurangi Ayu selama mengikuti program hamil, sesuai arahan dokter kandungan. Dia memang diwanti-wanti jangan capek, stres, dan lebih tenang menjalani hidup.

Butuh waktu sekitar beberapa tahun untuk mendapatkan hasil dari program hamil yang dijalankannya. Karena ini memang tidak bisa langsung cocok dengan pasien. Program hamil tergantung dari bagaimana dalam menjalankannya.

“Saya sampai mengikuti program hamil sebanyak tiga kali,“ sebut Ayu.

Pada program hamil pertama dan kedua, Ayu merasa tidak cocok. Baru pada yang ketiga dia mulai mengalami beberapa gejala kehamilan.

Sama seperti Ira, kunci untuk mendapatkan momongan hanya pada kesabaran dan terus berusaha. Tetapi tidak salah jika ikhtiar yang dilakukan dalam bentuk program hamil.

“Setiap dokter kandungan memiliki cara yang berbeda dalam menerapkan program hamil,” kata Ayu.

Sedangkan Siti agak lebih beruntung dari Ira dan Ayu. Setelah mengalami keguguran sekali dan memasuki usia pernikahan ke-4, Tuhan akhirnya menitipkan jabang bayi di rahimnya.

Sama seperti Ayu, dia juga memilih mengikuti program hamil. Ia tergolong ketat dalam menjalankan program hamil seperti yang diarahkan dokter. Termasuk soal apa saja yang disarankan untuk dimakan dan diminum.

“Obat penyubur hampir setiap bulan saya diberikan oleh dokter,” katanya.

Meminum obat penyubur ini juga memang tidak boleh sembarangan, harus sesuai dengan anjuran dokter. Obat ini diberikan setelah dia dan suami menjalani pemeriksaan rutin.

“Pemeriksaan dan program ini kami jalankan berdua sejak beberapa bulan yang lalu,” tambahnya.

Bahkan yang tidak ia sangka, dari program hamil dia malah diprediksi mengandung anak kembar. Padahal sebelumnya tidak pernah direncanakan. Siti hanya sebatas mengikuti program hamil. “Saya nggak sengaja dikasih kembar.  Entah mungkin dari keturunan atau dari kebanyakan minum obat penyubur jadi kembar,” tawanya.

Siti sangat bersyukur kini bisa mengandung dan kembali merasakan moment-moment menantikan lahirnya buah hati. Memang untuk ukuran perut cukup besar kemungkinan karena hamil anak kembar. “Yang penting jalani hidup dengan sabar dan tenang, usaha kita pasti ada hasilnya,” katanya menyemangati wanita yang ingin memiliki anak saat ini. (nur/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka