Ketik disini

Headline Metropolis

Aset-Aset Mubazir Bernilai Miliaran

Bagikan

Belasan tahun silam MCC dan MWP dibangun. Proyek ini diharapkan tidak hanya menjadi ikon kota. Tapi juga memberi efek yang luas, termasuk dalam mendongkrak PAD. Sayangnya, meski dibangun dengan budget besar, manfaatnya tidak sesuai harapan.

A�***

MataramA� Craft Center (MCC) dan Mataram Water Park (MWP), diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp 10 miliar lebih. MCC sekitar Rp 3 miliar, sementara MWP Rp 7,3 miliar. Baik MCC maupun MWP dulu digadang-gadang menjadi kebanggaan kota. Sayang, setelah belasan tahun berlalu, masa depan dua fasilitas daerah ini cendrung suram.

MCC dibangun sekitar tahun 2004. Awalnya bertujuan untuk meningkatkan geliat kerajinan mutiara dan emas di kawasan Sekarbela. MCC dibangun dengan harapan warga di sana mendapat fasilitas berupa ruko. Di sisi lain MCC diharapkan bisa mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), melalui sewa ruko.

a�?Sayang sekali, MCC ini ternyata tidak sesuai harapam,a�? kata pengamat ekonomi, Muaidi Yasin.

Bukan tanpa alasan, ekonom asal Universitas Mataram ini menyayangkan nasib MCC. Ia menilai, ada perencanaan yang tidak tepat, saat membangun ruko berlantai dua itu. Jika dilihat, para pengusaha di sana rata-rata kelas menengah ke atas.

a�?Kalau hanya buat ruko, saya rasa mudah bagi mereka, usaha mereka ada yang menggurita sampai luar daerah,a��a�? kata Yasin.

Maka tidak mengherankan, jika MCC sepi peminat. Apalagi, para touris guide, lebih suka membawa para pelancong ke kawasan Sekarbela. Maka, berlomba-lomba lah para pengusaha di sana, membangun ruko dan tempat usaha sendiri.

a�?Lebih baik itu disewakan pada UMKM yang butuh tempat,a�? imbaunya. Tentu terlebih dahulu dengan menurunkan biaya sewa. Agar terjangkau masyarakat.

Sekretaris Komisi III DPRD Kota Mataram Ismul Hidayat pun tak kalah pedasnya mengkritik pemerintah. Ismul bahkan curiga, pembangunan MCC bukan dari Mekanisme Perencanaan Berbasis Masyarakat (MPBM). Tetapi, lebih pada keinginan segelintir orang saja.

a�?Warga saya di wilayah Kamasan butuh tempat, tapi tidak pernah dibuatkan pemerintah,a�? bandingnya.

Ia bahkan menyebut, program ini sebagai program gagal. Janji ada perubahan pada MCC berulang kali dilontarkan pemerintah sejak dulu, tak pernah terwujud. Bahkan, hingga MCC kini berusia selusin tahun.

a�?Mana buktinya, ini sudah bertahun-tahun. Janji ada perbaikan, omong kosong saja,a�? sindirnya.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram Misban Ratmaji bahkan meminta pemerintah lebih terbuka pada kritik. Menerima setiap masukan. Dan yang terpenting, dikerjakan. Bukan hanya sekedar janji-janji yang tak terealisasi.

a�?Yang penting dikerjakan. Jangan lemah hanya karena sekali dua kali rencana pengembangan MCC mental,a�? sentilnya.

Misban mengungkapkan, memang sebelumnya sudah ada banyak wacana yang disampaikan pemerintah. Melalui Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Dsikopernidag) Kota Mataram terkait pengembangan MCC. Di antaranya mengubah peruntukannya. Tidak lagi hanya untuk para pedagang mutiara dan emas, tetapi lebih terbuka pada siapapun yang mau menempati.

a�?Selain itu, katanya mau diubah jadi model plaza, supaya biaya sewanya lebih murah. Tidak ada-apa diusulkan saja lagi,a�? pintanya.

Jangan sampai hanya karena perencanaan sebelumnya tak bisa terealisasi, lantas membuat Diskoperindag patah arang. Ia menyebut, ada peluang di tahun anggaran 2017. Tinggal Diskoperindag, menyiapkan anggaran untuk MCC, guna meningkatkan lagi geliat ekonomi di sana.

Sementara itu Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana membenarkan memang sudah ada beberapa perencanaan untuk membangkitkan gairah ekonomi di kawasan Sekarbela. Selain itu, meningkatkan daya tarik MCC, agar mau disewa para pengusaha.

a�?Sebagai tempat pameran dan worksohop,a�? kata Mohan.

Jika MCC bisa disulap menjadi tempat menggelar agenda kegiatan, tentu rate kunjungan ke kawasan itu bisa meningkat. Maka, dengan sendirinya kawasan itu akan a�?seksia�� di mata para pengusaha.

a�?Saya masih belum tahu, apa Diskoperindag sudah menindaklanjuti itu atau belum,a�? ujarnya. Namun yang pasti ia sangat berharap, MCC tidak lagi menjadi sorotan banyak pihak, karena sudah satu dasawarsa lebih 2 tahun, tempat itu tak sesuai harapan pemerintah.

Nasib MCC ini mirip MWP. Malah, MWP lebih kronis. Tak pernah difungsikan sama sekali, barang satu kalipun setelah kolam tersebut rampung. Kini, setelah lebih dari enam tahun terbengkalai, MWP masih tetap tak jelas arah pemanfaatannya.

a�?Masak sesulit itu (menghidupkan MWP,red),a�? ketus Ketua DPRD Kota Mataram H Didi Sumardi, dalam sebuah kesempatan.

Kepada Lombok Post ia mengatakan, semua bergantung pada inovasi pemkot dengan pola pengelolaan yang tepat. Dengan kata lain, Didi hendak mengatakan ketidakmampuan pemkot menghidupkan MWP sama dengan ketidakmampuan pemerintah saat ini untuk berinovasi. Dia menambahkan, membangun sarana untuk rakyat, tidak boleh dibarengi alasan tidak mampu mengelola.

a�?Potensi MWP itu luar biasa,a�? katanya.

Pemkot Mataram sebenarnya bukan tanpa upaya. Tercatat sudah tiga calon investor potensial yang coba didatangkan untuk mengelola MWP. Sayang, semuanya kandas di tengah jalan. Kesemuanya angkat tangan, alias tak sanggup untuk mengelola kolam yang ada di Taman Udayana tersebut.

a�?Saya sudah tawarkan itu,a�? kata Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana.

Pemkot Mataram sudah menjelaskan ragam peluang yang ada. Bahkan pola kerja sama juga sudah dipresentasikan, termasuk juga terkait pembagian keuntungan nantinya. Dengan posisi MWP yang sangat strategis, ada di tengah kota, ia mengatakan seharusnya hal itu bisa membuat calon investor tergiur.

a�?Akhirnya batal, saya tak tahu alasannya mengapa,a�? katanya.

Pemerintah menurutnya tak bisa mengelola sendiri asetnya itu karena sejumlah masalah. Keterbatasan anggaran daerah menjadi masalah utama untuk mengembangkan MWP. Dengan kucuran dana maksimal beberapa ratus juta saja setiap tahunnya, ia meyakini tak banyak yang bisa diperbuat.

a�?Tak bisa juga semua kita curahkan ke sana, banyak prioritas lain yang tak kalah penting,a�? sambungnya.

Karena itu hingga kini pemkot memilih langkah menunggu investor yang benar-benar siap. Jika dikelola dengan baik, ia meyakini MWP bisa menjadi salah satu brand yang mengangkat citra Mataram. Sebagai sarana hiburan masyarakat, MWP diyakini akan mendapatkan investor pada waktunya nanti.

Padahal sebelumnya, Disbudpar Kota Mataram sudah sesumbar bisa mengelola MWP tersebut. Jika diberi kewenangan, SKPD yang dipimpin H Latif Najid tersebut yakin bisa membuatnya terbangun dari tidur panjang yang sudah terlalu lama.

a�?Sangat siap, potensi MWP itu besar sekali,a�? katanya.

Latif lantas memberi perbandingan sejumlah sarana rekreasi kolam renang dan pemandian yang selalu ramai di daerah ini. Dengan tiket masuk hingga Rp 40 ribu perkepala, setiap akhir pekan sarana rekreasi tersebut tak pernah sepi.

a�?MWP bisa juga untuk rekreasi keluarga dan permainan air,a�? katanya.

Sebelumnya mantan Wali Kota Mataram HL Mujitahid mengatakan menggandeng pihak sekolah adalah sebuah opsi yang patut dicoba. Dia yakin, banyak SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi yang siap mengarahkan para pelajarnya untuk menghidupkan tempat itu.

a�?Mereka sedang punya energi berlebih, kalau diarahkan ke sana, kita bisa hindari hal negatif dikalangan remaja,a�? sambungnya.

Sebagai sarana rekreasi, MWP diyakini juga memiliki potensi mengingat tingkat stres perkotaan seperti Mataram sangat tinggi. Keramaian yang tak pernah padam di Udayana adalah contoh masyarakat yang sangat memerlukan tempat untuk berlibur dan mencari hiburan.

a�?Saya yakin banyak manfaatnya kalau bisa dihidupkan,a�? ujarnya.

Bola kini ada di tangan Pemkot Mataram. Jika tak berhasil menghidupkan MWP, jelas hal itu menjadi preseden buruk. Membiarkan aset tak terpakai, bahkan terbengkalai, sama saja dengan tak mengelola potensi yang ada secara maksimal.(zad/yuk/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka