Ketik disini

Selong

Gaji Pendatang Haram Lebih Menggiurkan

Bagikan

Tenggelamnya kapalA� pengangkut TKI di perairan Batam Kepulauan Riau beberapa waktu lalu kembali membuka mata publik tekait keberadaan para TKI Ilegal di Negeri Jiran. Apa sebab para buruh migran ini memilih jalur haram daripada mengikuti aturan negara?

***

TERTANGKAPA�aparat keamanan, dihukum dan dipenjara hingga nyawa melayang adalah risiko umum yang A�harus dihadapi para TKI illegal. Namun semua ini seolah tak dihiraukan. Bahkan ada pernyataan yang menarik diungkapkan oleh sejumlah TKI asal Desa Pijot, Kecamatan Keruak Lotim.

a�?Susah kita berhasil kalau jadi TKI lewat jalur resmi. Rata-rata TKI yang berhasil dari desa kami semuanya melalui jalur gelap,a�? ungkap Fauzi, salah seorang mantan TKI asal Desa Pijot.

Ironis memang. a�?Jalur gelapa�� kini sudah tertanam di benak masyarakat yang ingin menjadi TKI untuk mencari nafkah. Inilah yang membuat dari tahun ke tahun jumlah TKI Ilegal asal NTB khususnya Lombok Timur (Lotim) terus meningkat.

Dengan kondisi ini, upaya pemerintah untuk menekan angka TKI dari illegal seolah tidak ada artinya. Karena masyarakat sudah memiliki pandangan yang berbeda. Ada beberapa alasan yang membuat masyarakat memiliki pola pikir seperti ini. Salah satunya yakni proses menjadi TKI resmi dinilai ribet dan menyusahkan para calon TKI.

a�?Sekarang kami daftar, tahun depan baru bisa berangkat,a�? keluh Chandra, salah seorang warga Pijot lainnya.

Inilah yang dinilai membuat masyarakat enggan memilih menjadi TKI lewat jalur resmi. Karena, mereka mengaku didesak dan dihimpit kebutuhan ekonomi.

a�?Bisa dibayangkan sendiri. Kita pinjam uang orang tapi setahun kita nggak berangkat. Mau bayar pakai apa?,a�? tanyanya.

Belum lagi, uang pinjaman tersebut biasanya dibayar dengan bunga yang cukup besar. Itu A�warga Pijot lainnya mengungkapkan gaji yang diterima lewat jalur resmi mengalami banyak potongan. Sehingga, penghasilan yang mereka terima dikatakan sangat kecil dan tidak sesuai dengan kerja yang mereka lakukan.

a�?Belum potongan permit, potongan ini potongan itu. Kalau kita dapat gaji RM 1.500, yang bisa kitaA� simpan itu paling RM 600-700,a�? jelas Fauzi.

Selain biaya keberangkatan yang jauh lebih murah, konon gaji para a�?Pendatang Harama�? ini dinilai cukup besar. Untuk perbandingan. Biaya yang dihabiskan sebagai TKI a�?jalur gelapa�� hanya RM 1.200. Sedangkan jika menjadi TKI lewat jalur resmi akan menghabiskan biaya mencapai RM 2.000.

a�?Kalau lewat jalur gelap tergantung pada kita sendiri. Kalau kita rajin bisa sampai RM 3000 per bulan. Tapi kalau malas ya bisa juga dapat RM 500. Itu tidak ada potongan.,a�? sambung Rumasih.

Hal ini juga diakui oleh Ilmi Suki, suami dari Anting Fatmawati alias Eneng TKI asal Pijot yang meninggal dalam insiden kapal tenggelam di Batam. a�?Saya dulu pernah jadi TKI lewat jalur resmi. Kita rajin bekerja seperti apapun ya gajinya sesuai kontrak. Makanya saya saat itu juga lari dan menjadi TKI gelap,a�? akunya.

Ia mengaku mencari tempat bekerja atau toke yang bisa memberinya gaji lebih tinggi. a�?Saya cari info dari teman. Ada beberapa toke yang memang tidak mau menerima TKI gelap, tapi ada juga toke yang menerima. Karena mereka kan juga butuh tenaga pekerja,a�? bebernya.

Dengan pengakuan para mantan TKI Gelap ini, Sekretaris Dinas Sosial tenaga Kerja dan Transmigrasi (STT) mengaku prihatin. Ia menyayangkan adanya pola piikir seperti ini. Karena menurutnya administrasi pemberangkatan lewat jalur resmi prosesnya tidak seribet yang mereka bayangkan. a�?Nggak ribet, prosesnya sangat mudah. Hanya saja pemberangkatan memang menunggu job order dari PTKIS atau PJTKI,a�? kata dia.

a�?Sementara untuk potongan, itu memang ada karena kan mungkin ada yang dibiayai oleh PJTKI. Bayar permitnya atau yang lainnya. Terkait gaji, yang namanya kontrak ya gajinya memang sudah pasti,a�? sambungnya.

Namun, A�sekali lagi ia meminta para calon TKI untuk mempertimbangkan bagaima keamanan ketika menjadi TKI lewat jalur gelap. a�?Ini kan buktinya. Dampaknya ya seperti ini. Cobalah pikirkan aman dan tidak amannya itu. Apa gunanya kita punya banyak uang kalau nyawa kita melayang,a�? pungkasnya.

Dengan pola pikir masyarakat yang seperti ini, Ridatul Yasa mengungkapkan bahwa pemerintah punya tanggung jawab besar. (Hamdani Wathoni/r2)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka