Ketik disini

Praya

14 Tahun Berpisah, Pulang Dalam Peti Jenazah

Bagikan

Setelah ayahnya Makhrun, dipastikan menjadi korban kapal tenggelam di Batam, Nurlaila hidup sebatang kara. Ibunya entah kemana, karena sejak lama keluarganya memang sudah terpisah.

***

Begitu mendengar kabar ayahnya tiada, Nur-panggilan akrabnya-hanya bisa membisu, dengan pandangan kosong. Entah kemana pikirannya. Hanya dia dan Sang Maha Pencipta yang tahu. Malam itu Lombok Post mengunjungi kediaman Nur di Dusun Tanak Embang Daye Desa Selebung, Batukliang Lombok Tengah (Loteng).

Sesekali, Nur berusaha menyembunyikan kesedihan, menahan air mata. Kini, Nur duduk dibangku SMP di Batukliang. Setelah ayahnya meninggal dunia, bersama tiga anggota keluarga yang lain, ia hidup sebatang kara, tidak ada ayah dan tidak ada ibu. Untungnya, ia masih punya nenek dan kakek.

Sebenarnya, Nur tidak mengenal sosok ayahnya yang tewas akibat kapal tenggelam di Batam. Karena, ia ditinggal almarhum merantau sejak berumur tiga bulan. Sejak itulah, ia dibesarkan oleh nenek dan kakeknya. Sedangkan ibunya, pergi karena kedua orang tuanya bercerai.

Konon, ibunya sudah menikah lagi dan sekarang bekerja di Kalimantan. Namun ita tak tahu persisnya. Ia ingin sekali mengabari berita duka kepada ibunya, lagi-lagi ia dan keluarga tidak tahu haru menghubungi kemana.

Suasana malam itu hening dan sepi, tidak ada yang banyak bicara, apalagi bercanda. Kakeknya, Amaq Mukminah menceritakan perjalan hidup anak pertamanya, yang juga ayah dari Nur. a�?Kebetulan, anak saya itu menikah tiga kali,a�? ujarnya.

Istrinya yang ikut meninggal dunia dalam musibah kapal tenggelam, kata Amaq Mukminah adalah Zaenab ibu tiri kedua dari Nur. Nur tak mengenal Zainab, karenaA� karena dinikahi ayahnya di di Malaysia.

A�a�?Sudah 14 tahun lamanya, kami tidak bertemu dengan mereka. Apalagi, Nur,a�? ujar Amaq Mukminah.

Yang membuat mereka sedih, Nur ingin sekali melihat sosok ayah dan berbagi cerita masa lalu. Terlebih beberapa hari lalu sang ayah mengabari melalui telepon akan pulang. Ia merasa senang membayangkan ayah yang telah lama dirindukan.

Tapi demikianlah suratan. Nasib berkata lain. Ia, tidak sampai melihat sosoknya yang masih hidup. Untuk kaliA� pertama ia justru melihat sang ayah dengan jelas terbujur dalam peti jenazah.

A�a�?Saya ikhlas atas kepergian bapak, semoga amal ibadahnya di terima di sisi Allah SWT,a�? cetus Nur.

Kini Nur, menggantungkan cita-citanya di nenek dan kakeknya. Semoga, pemerintah dan pihak mana pun, terketuk hatinya untuk membantu sang anak yatim tersebut. a�?Sekarang, saya kelas II SMP,a�? ujarnya sembari senyum menutupi kesedihan.(Dedi Shopan Shopian a�� Praya/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka