Ketik disini

Metropolis

Empat Jasad TKI Teridentifikasi Lagi

Bagikan

MATARAM – Jumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) asal NTB yang meninggal dunia tenggelamnya kapal cepat di Batam bertambah empat orang. Jenazahnya dijadwalkan dipulangkan hari ini.

Berdasarkan hasil identifikasi Rumah Sakit Bhayangkara Batam, empat korban asal NTB yang teridentifikasi tersebut adalah Mustar, 39 tahun, asal Dusun Buntiang, Kecamatan Sakra Barat, Lombok Timur; Supardi, 33 tahun, asal Dusun Lengkarak, Desa Langko, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah; Khairil Anwar, 18 tahun dari Dusun Tanak Embang Daye, Desa Selebung, Kecamatan Batu Kliang, Lombok Tengah; dan Saeful, 30 tahun asal Dusun Gelogor Mapong, Desa Bunut Baok, Kecamatan Praya, Lombok Tengah.

Dengan tambahan empat jenazah ini, total TKI NTB yang meninggal dan teridentifikasi sepuluh orang. Sebelumnya, lima jenazah TKI korban kapal tenggelam sudah dipulangkan ke rumah masing-masing.

Kepala BP3TKI NTB Muharom Ashadi, kemarin (7/11) mengatakan, jumlah tersebut bisa saja bertambah karena proses identifikasi masih dilakukan kepolisian Batam. Sementara terkait biaya pemulangan jenazah tersebut, kata dia, seluruhnya ditanggung BP3TKI.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil NTB H Ahsanul Khalik mengatakan, sesuai kesepakatan urusan korban meninggal menjadi tanggung jawab BP3TKI. Pihaknya fokus menangani korban yang selamat.

Khalik menambahkan, empat jenazah yang meninggal tersebut akan dipulangkan hari ini (8/11). Hingga saat ini, jumlah TKI asal NTB yang terdata menjadi 26 orang selamat, 22 di antaranya sudah dipulangkan Minggu (6/11).

Masih Buron

Sementara itu, kemarin, Polda Kepri menangkap dua penyalur TKI tragedi kapal tenggelam di Tanjungmemban. Mereka adalah Ratih dan Patrius. Keduanya telah mengakui perbuatannya menyeberangkan beberapa orang TKI secara ilegal dari Malaysia. Sebagian dari mereka jadi korban tenggelamnya kapal yang merenggut 54 nyawa.

“Ratih dan Patrius ini yang merekrut para TKI tersebut. Hal ini kami dapat dari pengakuan saudara Dominikasasi dan Nurhalida (korban selamat,red),” kata Kapolda Kepri Brigjen Pol Sam Budigusdian, Senin (7/11).

Sam mengatakan pihaknya masih terus menelusuri kasus TKI ini. Penelusuran yang dilakukan pihaknya tak hanya berhenti di Ratih dan Patrius saja. Ia berjanji akan mengupas kasus ini hingga ke akar-akarnya. a�?Kita akan usut terus, hingga tuntas,” ucapnya.

Polisi juga kata Sam masih mencari tiga tekong yang menyeberangkan 93 TKI dan lima anak-anak tersebut. Dari pengakuan anak buah kapal (ABK) Dodi yang telah ditahan bahwa, Budiardi alias Herman melarikan diri.

“Si Dodi yang mengantar Herman lari dengan mobil, kami sudah lacak keberadaan si Herman,” katanya.

Sementara itu Yanti (pemilik kapal,red) juga disebutkan oleh Sam masih dalam pencarian pihaknya. “Kami sudah masukan dia dalam daftar pencarian orang (DPO). Suaminya, Ardianto sudah kami tahan, karena kasus yang sama (penyelundupan TKI,red),” ucapnya.

Sam menyebutkan pihak yang paling bertanggungjawab dari tragedi tenggelamnya kapal TKI tersebut yakni Syukriyadi alias Lurah. Berbagai keterangan dari korban dan Dodi, Syukri merupakan otak penyelundupan TKI tersebut. “Dia itu PR (Publik Relation,red),” kata Sam.

Syukri diketahui memiliki “green card”, akses khusus untuk masuk ke Malaysia. Kartu inilah yang membuat Syukri leluasa masuk negara tersebut. Hubungan Syukri dengan berbagai pihak di Malaysia, juga memudahkan dirinya dalam menyeberangkan para TKI overstay ke Indonesia. “Kami sudah bekerjasama dengan polisi Malaysia, untuk tangkap dia,” ucap Sam. (ili/JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka