Ketik disini

Kriminal

Polisi Sita Ribuan Jamu dan Obat Kuat

Bagikan

MATARAM – Subdit I Industri dan Perdagangan (Indag) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda NTB, membongkar kasus peredaran obat kuat dan jamu tanpa izinA� resmi. Sebanyak 153 dus berisi jamu dan 16 jenis obat kuat disita polisi dari dua pengecer di Kota Mataram dan Lobar.

Kasubdit I Indag Ditreskrimsus Polda NTB AKBP Boyke Karel Wattimena mengatakan, penyitaan tersebut berdasarkan instruksi Mabes Polri. Serta tindak lanjut antara MoU Polri dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pusat.

Hasilnya, polisi menyita 153 boks berisi 3697 botol jamu. Rinciannya, jamu tradisional merek Klenceng Putih sebanyak 1.290 botol berukuran 600 ml dan 2.000 botol dengan ukuran 150 ml.

Selanjutnya, jamu tradisional Merek Jambe Nom ukuran 120 ml sebanyak 407 botol. Ribuan botol jamu tersebut didapatkan dari rumah DA (inisial) di Suranadi, Kecamatan Narmada, Lombok Barat (Lobar).

a�?Kita amankan di rumahnya yang sekaligus dijadikan gudang untuk menyimpan jamu,a�? katanya.

Boyke mengatakan, ribuan botol jamu ini diketahui tidak memiliki izin edar. Karena itu, pihaknya langsung melakukan langkah penyitaan. Guna mengantisipasi terjadinya hal buruk atas peredaran jamu tersebut.

a�?Kita sudah koordinasi dengan BPOM Mataram, jamu tersebut dilarang beredar karena belum memiliki izin,a�? katanya.

Lebih lanjut, polisi akan menelusuri jalur distribusi jamu tersebut hingga tiba di wilayah NTB. Menurut pengakuan DA kepada petugas, jamu A�dibeli dari Banyuwangi, Jawa Timur. Dia juga sempat menjualnya ke sejumlah toko jamu yang ada di wilayah Lombok.

a�?Akan kami telusuri, apakah semua sesuai dengan yang ada di labelnya. Kalau memang sesuai, kenapa tidak ada izin edar, itu yang kita selidiki nanti,a�? kata dia.

Selain ribuan botol jamu tanpa izin edar, petugas juga mengamankan obat kuat untuk vitalitas pria sebanyak 16 jenis. Obat kuat ini diperoleh dari tangan SU (inisial).

a�?Jumlah total obat kuatnya itu ada 63 pieces, dari 16 merek berbeda,a�? ujarnya.

A�Boyke menjelaskan, SU menjual obat kuatnya melalui media sosial facebook dengan varian harga berbeda. Harga tertinggi bisa mencapai angka Rp 700 ribu.

a�?Dia (SU, Red) ini ambil barang dari orang lain, masih di wilayah NTB,a�? ungkap Boyke.

Dengan banyaknya jumlah barang bukti yang diperoleh polisi, Boyke mengimbau masyarakat untuk lebih teliti dan waspada. Sebab, pihaknya tidak menjamin bahwa keamanan produk yang dijual tanpa memiliki izin edar.

a�?Kami harapkan masyarakat lebih waspada ya, tidak membeli brang yang tidak ada izin edarnya,a�? saran dia.

Atas perbuatannya DA dan SU yang menjual produk tanpa izin edar, mereka dikenakan Pasal 197 Jo Pasal 106 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dan Pasal 62 Jo Pasal 68 Ayat 1 Undang-Undang 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.(dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka