Ketik disini

Metropolis

Rumah Murah,Dapatnya Susah

Bagikan

BAGI para pengembang, untung membangun rumah subsidi memang kecil. Tapi, lakunya juga cepat. Karena itu, banyak pengembang yang tertarik membangun rumah bersubsidi.

Salah satunya H Indah, pengembang kawasan perumahan Pondok Indah di Jl TGH Latif, Desa Jatisela, Gunung Sari, Lombok Barat. a�?Untung memang 10 persen. Tapi cepat lakunya,a�? kata Indah, pada Lombok Post.

Sebetulnya kata dia, kalau mau ingin untung lebih besar, pengembang harusnya menjual rumah non subsidi. Sebab, dari satu unit rumah, bisa untung bersih hingga 15 persen. Tapi bagi Indah, tidak semata-mata mencari keuntungan. Yang terpenting bisa membantu masyarakat untuk memperoleh hunian yang murah dan nyaman.

Dia mulai membangun pada 2015. Rumah bersubsidi ini berdiri di atas lahan seluas 2,25 hektare. Saking larisnya, untuk type 27 langsung ludes terjual sejak diluncurkan pertama kali. Saat ini kata Indah, sebanyak 170 unit rumah telah terjual, dari total 200 rumah yang sudah dibangun hingga 2016 ini. Yang tersisa kata dia, hanya type 21. Tapi, peminatnya tetap tinggi.

Meskipun judulnya rumah bersubsidi dengan logo khusus di dinding depannya, tapi tampak nyaman untuk ditempati. Terutama bagi mereka yang merupakan keluarga kecil dan benar-benar ingin memiliki rumah.

Pondasi rumah dengan struktur batu kali dan beton bertulang, lantai ruang utama keramik 40X40, keramik lantai kamar mandi 20X20 dengan pintu fabrikasi. Adapun penutup atap dari rangka baja ringan dengan genteng metal. Penutup plafond calsiboard rangka holo. Rumah ini dilengkapi dengan closet jongkok dan daya listri 1300 watt serta air PDAM.

Rumah type 21 ini dijual seharga Rp 133, 5 juta dengan uang muka minimal 1%. Booking Fee Rp1,5 dan sudah termasuk uang muka. Namun harga tersebut belum termasuk biaya proses KPR, dan notaries baik akta jual beli, bea balik nama dan BPHTB.

Seluruh biaya sudah termasuk biaya sertifikat, Izin Mendirikan Bangunan (IMB), listrik 1300 VA, dan PDAM.Sedangkan persetujuan besara nilai KPR dan angsuran sepenuhnya ditentukan bank. Salah satu contohnya adalah jika nilai kredit sebesar Rp120 juta dengan bunga 5% maka angsuran selama kurun waktu 20 tahun sebesar Rp 802,5 ribu per bulan.

Senada dengan Indah, pengembang perumahan PT Relive Graha Mutiara Heri Susanto juga mengemukakan hal serupa. Dia membangun 400 unit rumah subsidi di Labuapi, Lombok Barat. Saat ini, sebanyak 300 unit terjual dan tinggal menunggu akta jual beli dan dapat ditempati. Lagipula, proses pembangunan di lahan seluas 5 hektare itu sedang berlangsung.

Heri membangun rumah type 27 dengan luas lahan 70 meter persegi. Baginya, bisnis rumah subsidi cukup menggiurkan lantaran peminatnya banyak. Di samping itu, bisnis turunan dari perumahan itu terus berkembang. Terdapat 170 item bisnis turunan yang dapat mendongkrak perekonomian masyarakat. a�?Maka itu harus ada dukungan pemerintah daerah terutama menyangkut izin. Kalau tidak boleh segera sampaikan agar pengembang tidak menunggu,a�? tandas dia. Rumah type 27 subsidi terdiri dari satu kamar tidur, satu kamar mandi dan dapur.

Mengenai keuntungan, Heri menilai meski untung sedikit, tapi memberikan manfaat besar bagi ketahanan perekonomian rakyat. Itu sebabnya, dia juga berencana mengembangkan proyek rumah bersubsidi itu ke daerah lainnya di Pulau Lombok. Apalagi melihat optimisme peningkatan ekonomi pada 2017. a�?Tapi masih mencari lahan yang tepat dengan harga yang sesuai,a�? tandas dia.

Dari segi lokasi, dia yakin tetap diburu konsumen lantaran letaknya yang dekat dengan Kota Mataram. Keamanannya pun terjamin. Keberadaan rumah subsidi ini juga mendorong peningkatan jumlah tenaga kerja baru.

Untuk tepat sasaran, pemerintah memberlakukan pengawasan ketat. Karena bukan rumah untuk investasi, maka rumah subsidi hanya diperuntukkan bagi mereka yang baru pertama kali punya rumah. Dengan penghasilan di bawah Rp 4 juta sebulan.

Rumah juga harus sudah ditempati dalam waktu tiga bulan semenjak realisasi. Kalau ditemukan ada yang tak ditempati, akan ada sanksi. Bahkan, sampai rumah dipindahtangankan pada mereka yang lebih membutuhkan. Atau kredit diputus dengan sanksi membayar pengganti selisih bungan bank yang telah disubsidi pemerintah. Termasuk subsidi uang muka.

Untuk kepentingan ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat akan menggelar inspeksi mendadak tanpa diketahui pengembang dan juga para pemilik rumah. Sehingga sanksi bisa segera diberlakukan jika didapat ada penyimpangan.

A�Unit Terbatas

Sementara itu, di Lombok Tengah, tahun ini Lombok Tengah mendapatkan kuota 100 unit. a�?Dari usulan 160 unit, hanya 100 unit saja yang disetujui,a�? kata Kepala Seksi Pemukiman dan Perumahan Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan ESDM Loteng Supriadin pada Lombok Post.

Nilai subsidi per unitnya, kata Supriadin sebesar Rp 5 juta, dari harga jual sebesar Rp 120,50 juta. Dengan luas tanah, 75 meter persegi dan luas bangunan 28 meter persegi, lantai satu, kamar tidur dan kamar mandi masing-masing satu. Angsurannya kisaran Rp 700 ribu per bulan selama 15 tahun.

a�?Kebetulan baru kali ini, kita mendapatkan program tersebut,a�? kata Kabid Cipta Karya Dinas PU dan ESDM Lalu Firman Wijaya, terpisah.

Dari 100 unit itu, kata Firman ada yang sudah rampung dan sedang dibangun. Bentuk subsidinya, pengembang tidak diperbolehkan menarik biaya diluar pembangunan rumah. Karena, fasilitas, sarana dan prasarana pendukung meliputi, jalan, jaringan listrik, drainase, telekomunikasi dan air bersih dibiayai pemerintah.

Sehingga, mereka yang MBR, terang Firman hanya membeli rumah saja, yang lain-lain tidak perlu dipikirkan. Kendati nilai subsidinya kecil, namun paling tidak mampu meringankan biaya pembelian rumah. Khususnya, bagi kalangan pegawai negeri sipil (PNS) golongan I dan golongan II.

a�?Kalangan pegawai swasta juga boleh memiliki, yang penting memenuhi syarat saja. Kebetulan, pengembangnya hanya satu. Tujuannya, agar mempermudah MBR,a�? kata Firman.

Ia pun berharap, tahun 2017 mendatang, pemerintah pusat kembali memberikan bantuan anggaran, untuk membiyayai subsidi rumah yang dimaksud. a�?Kami akan memperjuangkannya,a�? kata dia.

Perlu Pengawasan

Sementara itu, Sekretaris Program Magister Ilmu Ekonomi Universitas Mataram Ihsan Rois mengatakan, perlu pengawasan yang simultan terhadap program rumah bersubsidi itu. Ibarat pepatah di mana ada gula di situ ada semut, program rumah bersubsidi cenderung menarik perhatian banyak pihak. Terlebih di tengah kebutuhan rakyat yang semakin banyak.

Program rumah bersubsidi ini dinilai sangat menguntungkan masyarakat berpenghasilan rendah. Termasuk mereka yang bertahun-tahun menyewa rumah dengan biaya yang relatif besar. a�?Ini memerlukan kontrol yang super ketat agar program rumah bersubsidi ini tepat sasaran,a�? papar Ihsan.

Lantaran rumah subsidi, maka pemilihan lokasi merupakan kepiawaian pengembang. Tapi, yang penting benar-benar terjangkau dan merupakan lahan yang tidak produktif. Menurut dia, bisnis rumah subsidi itu cocok dikembangkan di NTB yang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) nya masih rendah.

Kepemilikan rumah kata dia juga kian membuat masyarakat produktif. Sehingga berdampak pada perekonomian. a�?Saya kira ke depannya rumah subsidi ini semakin menarik minat masyarakat NTB,a�? tegas dia.

A�Kualitas Sesuai Harga

A�Sementara itu, Pembantu Dekan I Fakultas Teknik Universitas Mataram Akmaluddin kepada Lombok Post mengingatkan agar mereka yang memburu rumah murah, tidak berharap terlalu besar. Terutama dari sisi kualitas bangunan.

Dia mengibaratkan, rumah subsidi yang murah ini tak ubahnya membeli lahan semata. Sebab, kualitas bangunan tidak terlalu baik pada umumnya. Sehingga kadang rumah harus dibangun dari awal lebih cepat.

Dia mengatakan, rumah murah tentu bahannya juga seperti saat orang membangun rumah pribadi. Artinya bahan-bahan digunakan kualitasnya rendah. Sebut saja, kayu, rangka atap, pondasi, dinding, dan lantai digunakan tidak kelas wahid.

a�?Keramik digunakan pasti yang KW tiga. Belum lagi kayu kusen dan jendela menggunakan kayu nomor tiga,a�? katanya.

Ini yang kata dia perlu diketahui masyarakat agar lebih jelas kalau sedang berburu rumah murah apalagi rumah murah bersubsidi. Tidak usah terlalu muluk-muluk untuk permintaan spesifikasi bahan bangunan. a�?Tidak mungkinA� rumah murah tapi kualitasnya wah,a�? sebut Akmal.

Meski belum lama ditempati rumah murah kerap rusak, Akmal mengatakan, ini tidak lepas dari spesifikasi bahan yang digunakan.

Belum lagi pengerjaan rumah murah banyak yang terkesan asal-asalan. Yang penting jadi. Sebab, sudah ada pemiliknya. Orang yang membeliA� rumah ini pasti dihadapkan dengan merehab segera. Bahkan, menambah bangunannya menjadi lebih besar dari ukuran semula . a�?Ukuran rumah murah ini sangat kecil bagi orang yangA� sudah berkeluarga,a�? ucapnya.

Dari segi kenyaman rumah juga membutuhkan biaya tambahan . Misalnya pagar rumah keliling yang harus dibuat pembeli. (tan/dss/jay/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka