Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Tenun Songket Tembus Pasar Nasional

Bagikan

MATARAM – Berkelas dengan harga terjangkau menjadi nilai tawar tenun Sasak, Sumbawa dan Mbojo. Kain tenun Sasak, Sumbawa, dan Mbojo ini memiliki nilai seni dan filosofi tersendiri. Keindahannya makin terlihat setelah dimodifikasi sedemikian rupa dalam berbagai model pakaian. Tak heran kain tenun yang didesain dalam bentuk pakaian jadi dapat menembus pasar nasional.

a�?Pakaian dengan bahan utama songket ini sangat diminati,a�? jelas Manager Outlet Namia, Maya Damayanti kepada Lombok Post kemarin (8/11).

Dia menceritakan, awalnya dia merupakan seorang pengusaha pakaian yang produknya diambil dari Jakarta dan dipasarkan di NTB. Belakangan, dia menemukan kain tenun asal Desa Ungga, Lombok Tengah. Maya lantas berinisiatif membuat terobosan baru dengan memasarkan produk lokal itu.

Untuk meningkatkan kualitas tenunan, dia membentuk sekolah pintar bagi para perempuan penenun. Sebanyak 23 penenun mendapat pendampingan dan pelatihan untuk menghasilkan produk yang berkualitas.

Tidak sekadar tembus di pasaran, Maya lebih berani menampilkan produk yang bernilai tinggi serta diakui secara nasional. a�?Memang sulit menghasilkan produk dengan desain kekinian baik motif maupun warna yang diterima pasar. Tapi kita mampu melakukan itu,a�? kata Maya.

Sebagai perancang busana muslim, Maya mencoba memainkan warna yang ngehits tapi tetap memiliki nuansa NTB. Jika warna-warna pada kain tenun Sasak, lebih mengarah pada merah terang, dia modifikasi dengan menambah sentuhan warna pastel. Dengan begitu, produk yang dihasilkan menimbulkan daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Begitu juga dengan motif-motif yang dipadukan dengan corak kekinian. Dia mencontohkan motif kotak-kotak komak yang dipadu dengan motif lain sehingga menghasilkan produk yang menarik. Dia juga melatih para perajin agar berani memainkan warna-warna kekinian. Untuk warna-warna trend pada 2017, dia mencoba memainkan warna tanah serta kembali ke flora.

Kini, produk hasil desainnya sudah laku di pasar nasional, terutama di Jakarta. Bahkan, sudah dua kali dia mengikuti pameran tingkat nasional. Termasuk menjadi peserta Indonesia Fashion Week 2016.

a�?Kalau harga, tergantung produknya. Kalau yang full songket kisarannya mencapai Rp750 ribu hingga Rp1,3 juta,a�? papar dia. Selain pakaian, dia juga memasok kain tenun untuk membuat sepatu dan tas.

Maya menambahkan, untuk pasar dalam daerah, dia mengandalkan outlet. Puluhan produk baik kain songket berbagai motif, pakaian jadi untuk pria dan wanita dijual di outletnya dengan harga bervariasi.

a�?Dalam sebulan setidaknya terjual lima sampai 10 pakaian. Tapi ada juga yang hanya datang untuk melihat-lihat,a�? ungkapnya.

Tidak sekadar tenun Sasak, tenun Bima juga sangat laku keras. Dia optimistis ke depannya usaha penjualan kain tenun songket ini meningkat tajam. Apalagi dengan adanya dukungan Pemerintah Provinsi NTB yang konsisten mempromosikan kain tenun khas NTB. (tan/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka