Ketik disini

Headline Oase

Basuki, Trump, dan Mas Joko

Bagikan

TERPILIHNYA  Donald Trump sebagai presiden masih terasa ganjil. Sejenis rasa asing, yang sepertinya bukan dari semangat liberal Paman Sam yang kita kenal. Trump sukses menjual “kebencian” lewat isu-isu rasial dan anti kebebasan di negara maju dan kampiun demokrasi macam Amerika. Kenapa bisa demikian?

Trump besar dalam industri properti Amerika yang tak ramah. Sebagai pengusaha ia tahu apa kemauan pasar. Hampir delapan tahun dalam kepemimpinan wakil minoritas kulit hitam, Trump paham apa yang ada dalam benak mayoritas kulit putih — seperti dirinya- yang jengah pada kebijakan-kebijakan pemerintahan Obama.

Terlebih liberalisasi ekonomi yang diusung penguasa membuat produk dalam negeri Amerika kalah oleh barang-barang murah dari China. Kondisi yang sama juga mengalirkan para pekerja gelap dari perbatasan Meksiko.

Warga Amerika terutama kelas pekerja semakin tersisih. Pabrik mereka dibunuh serbuan barang impor murah, sementara lapangan kerja direbut para imigran yang mengantre di perbatasan.  Ini belum termasuk kekhawatiran mereka pada ancaman terorisme yang dilabelkan pada para pendatang Muslim.

Trump menangkap kecemasan pribumi yang terusik ini sebagai peluang untuk mendongkrak elektabilitasnya. Maka di musim kampanye ia menggugah nasionalisme dan melampiaskan dendam mereka dengan jargon-jargon rasial, anti kebebasan dan cenderung anti HAM. Isu yang –diharamkan- pemerntahan Obama dan tentu saja Hillary Clinton lawan politiknya.

Misalnya dia berencana melarang orang-orang Muslim datang ke Amerika. Megkaji ulang perjanjian perdagangan bebas hingga membangun tembok raksasa sepanjang perbatasan untuk menghalau imigran Meksiko. Ini wacana yang hampir mustahil dan kontroversial. Bahkan orang-rang tak percaya wacana ini keluar dari mulut capres negara yang liberal, pengagung HAM macam Amerika.

Media-media sempat mengira Trump bunuh diri dengan jargon rasial ini. Tapi justru itulah yang ia cari. Isu kontroversial ini membuat pemilih  yang tersisih dengan kebijakan Obama mendapat tempat. Isu rasial menjadi bahan bakar  jargon “Make America Great Again” yang diusung Trump. Chris Hayes dari MSNBC menyebut inilah jurus rasial gaya lama Amerika yang dipopulerkan kembali oleh Trump.

Lebih dari itu Charles C. Camosy guru besar Fordham University dalam tajuknya di Washington Post (9/11) lalu menyebut, poin lain yang memenangkan Trump karena golongan kelompok pemilih terdidik (sarjana) tak tersentuh.

Menurutnya ketika para pemilih terpelajar belum sepenuhnya sepaham dengan Hillary, Trump membakar semangat kelas pekerja (non sarjana) yang jumlahnya hampir sepertiga dari pemilih. Termasuk dengan bumbu-bumbu rasial di atas.

Boleh saja dunia megecam Trump. Tapi bagi sebagian besar pendukungnya konservatifisme Trump adalah sejenis harapan bagi para republikan yang bosan dengan apa yang dilakukan pemerintahan Obama.

Inilah rasa yang ganjil itu. Paman Sam, negara “kampiun liberal” tersebut tiba-tiba memproteksi diri sedemikian rupa dari dampak-dampak globalisasi yang dulu mereka promosikan.

Tapi rasanya ini normal, ketika pendulum sudah terlalu ke kiri atau stagnan di tengah, alam demokrasi membutuhkan keseimbangan atau semacam penyegaran dengan megayunkannya ke kanan. Dan Trump melakukannya. Sekali lagi, dengan cermat dia menangkap kegelisahan kelompok mayoritas yang merasa tersisih oleh globalisasi di tanah sendiri.

Apakah kelompok liberal dan demokrat menerima kekalahan dari Trump. Rasanya belum. Amerika yang disanjung-sanjung punya struktur demokrasi yang telah megurat mengakar rupanya tak sepenuhnya siap menerima gagasan-gagasan “nyeleneh” bin rasial dari Trump. Amerika masih terbelah.

Protes menjalar di sejumlah negara bagian begitu Trump mengumumkan kemenangan. Minoritas terutama Muslim gelisah. Bursa meresponnya negatif. Orang kini khawatir dengan jargon-jargon Trump yang dianggap megancam kebebasan yang menjadi semangat utama Amerika.  “It’s painful, and it will be for a long time..” kata Clinton, gundah dalam pidato kekalahannya.

Tapi saya rasa, apa yang diuangkapkan Trump saat kampanye dulu sekadar lip service. Pemanis dari mulut politikus yang tak bisa dijamin bakal jadi nyata. Lihatlah, sehari setelah dinyatakan menang janji pelarangan umat Islam ke Amerika tersebut telah hilang dari website kampanye Trump.

Demikian juga soal tembok besar di perbatasan, siapa yang bakal bangun? Pemerintah Meksiko yang diminta Trump, jelas-jelas bilang tak mau ikut membiayai. Boleh jadi ini seperti janji kampanye Mas Joko yang akan siap sedia menerima demonstran namun “kabur” ketika rakyatnya datang ke Istana 4 November silam.

Lalu Bagaimana dengan kondisi politik Indonesia. Boleh jadi ratusan ribu umat Islam yang berunjukrasa pada 4 November lalu adalah sebentuk konservatifisme mayoritas yang lahir dari rasa terpinggirkan di negeri sendiri sebagaimana para pemilih  Trump di Amerika.

Kasus Basuki soal Almaidah 51 sejatinya hanya pemantik kecil yang menyulut semangat perlawanan kelompok mayoritas Muslim yang merasa diperlakukan tak adil oleh pemerintah berkuasa. Mereka kecewa dengan sistem dan kuasa yang lebih memihak pada pemodal, pendatang dan tentu saja keompok tertentu yang berafiliasi dengan penguasa. Rasanya bukan sekadar Basuki, jika tak terselesaikan dengan baik, kegelisahan kelompok mayoritas ini bahkan bisa mengusir Mas Joko dari Istana Negara.

Soal ada aktor politik yang hendak menunggangi aksi damai tersebut, itu lain hal. Biarlah Mas Joko yang menjawab siapa orangnya. Tapi, politisi manakah yang tak tergiur dengan solidnya dukungan massa seperti 4 November lalu. Jumlah yang jauh lebih besar dari aksi 1998.  Pertanyaannya adakah politisi kita yang berani dan mampu menampung kegelisahan warga mayoritas ini sebagaimana yang dilakukan Trump di Amerika ? Entahlah.

*Penulis : Zulhakim, tinggal di Ampenan.

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka