Ketik disini

Tanjung

Pengusaha Keberatan, Berencana Naikkan Tarif Parkir

Bagikan

Kenaikan pajak untuk usaha parkir sebesar 20 persen di Bangsal, Lombok Utara menimbulkan sejumlah reaksi dari para pengelola parkir. Beberapa pengelola menggelar pertemuan untuk membahas kenaikan tersebut.

***

Ratusan kendaraan terparkir di halaman sebuah rumah seluas sekira setengah hektare. Halaman rumah itu milik seorang pengelola parkir di kawasan Bangsal, Pemenang, Lombok Utara.

Kendaraan roda dua dan empat diparkir terpisah. Di dalam rumah minialis bercat putih itu, Ki Agus Saharudin pemilik tempat parkir tersebut memantau dua karyawannya yang sibuk menata kendaraan yang terparkir.

Mengenakan baju biru kumal, pria bertubuh gempal ini duduk menerima kehadiaran wartawan. Tidak lama setelah merebahkan badannya di sofa, ia nampak bersiap menyampaikan keluh kesahnya. Dengan wajah kesal ia menyampaikan keberatannya terkait penarikan pajak usaha oleh pemerintah.

Menurutnya, ia sudah lama membuka usaha parkir di tempat yang kini ramai dikunjungi turis ini. Penyeberangan Bangsal adalah pintu masuk menuju destinasi wisata paling diincar turis tersebut yakni tiga gili. “Saya yang pionirnya buka usaha parkir di sini, saya sudah buka sejak tahun 1996 bahkan saat di sini masih sepi,” ungkapnya.

Sebelumnya, kata dia, beberapa pengelola parkir sudah melakukan pertemuan terkait penertiban tersebut. Dalam pertemuan itu dibahas mengenai kenaikan pajak atau setoran parkir sebesar 20 persen.. “Tapi sekarang kita lihat, apa tega kita liat orang kerja di gili tarif parkirnya kita naikin. Mereka datang untuk kerja, apalagi di gili itu harga apa-apa mahal,” sebut pria 53 tahun tersebut.

Agus tidak mempermasalahkan penarikan pajak yang dilakukan oleh pemerintah. Karena itu sudah tertuang dalam peraturan daerah. Namun ia merasa keberatan dengan angka 20 persen pajak dari penghasilan setiap bulannya. “Kita keberatan, tapi tetap kita akan bayar. Karena kami tidak berdaya dengan adanya perda itu,” tegasnya.

Sambil bersandar di sofa, ia menilai penghasilannya tentu saja akan berkurang dengan rencana penarikan pajak tersebut. Per bulan rata rata penghasilannya mencapai Rp 15 juta. Namun di luar penghasilannya tersebut banyak pengeluaran yang harus ia tanggung. “Belum bayar listrik, cicilan, bayar karyawan, anak sekolah dan lain lain. Siapa yang cukup segitu per bulan,” keluhnya dengan logat medok Jawa.

Sementara itu, Kabid Pendapatan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Vidi Eka Kusuma mengatakan 20 persen itu tidak ada apa-apanya dibandingkan penghasilan para pengelola parkir. Menurutnya, Bangsal adalah tempat yang tidak pernah sepi. Apalagi tarif jasa parkir dihitung per hari. “Rata rata orang nginep kalau ke Gili, hitung saja per hari parkir Rp 5 ribu, paling sedikit taruhlah 50 motor per hari, lalu kalikan per 30 hari. Itu belum mobil lo,” ujar Vidi.

Namun Vidi tidak mau banyak berkomentar tentang keluhan pengelola parkir tersebut. Menurutnya, sah-sah saja jika para pengelola parkir ingin menaikkan tarif parkir, selama itu tidak memberatkan masyarakat. “Kalau mau menaikan tarif itu urusan mereka, tapi kalau dianggap memberatkan masyarakat akan kita kaji ulang,” pungkasnya. (Ivan Mardiansyah/Tanjung/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys