Ketik disini

Feature

Fokus Bantu Palestina, Berdakwah di 25 Negara

Bagikan

Peggy Melati Sukma, artis nasional yang beken sejak era 90-an kini sudah berhijrah. Dia memutuskan berubah dari segala kegelamoran dunia hiburan, menjadi sosok bersahaja yang menginspirasi dan berjuang untuk sesama.

***

MENGENAKAN gamis berwarna kuning, Peggy nampak serasi dengan hijab senada. Sesekali ia melempar senyum pada ratusan pasang mata yang memandang ke arahnya sore kemarin.

Menyandang status artis nasional, Peggy Melati Sukma, sulung dua bersaudara bukan hendak mentas kala itu. ia berada di panggung untuk tujuan yang menurutnya jauh lebih mulai ketimbang sekadar mentas.

Para undangan yang memadati ball room sebuah hotel di Mataram itu juga bukan hendak menyaksikannya bernyanyi, atau memperlihatkan kemampuan aktingnya. ”Saya mau berbagi pengalaman tentang cerita hijrah saja,” ujarnya.

Lahir di Cirebon, Jawa Barat dari ayah asli Bandung dan ibu keturunan Arab, ia tumbuh dan berkembang di kota Jakarta. Berada di kota metropolitan sejak kecil, jelas Peggy terpapar gaya-gaya anak gaul dan gedongan. Berkarir sebagai artis, jelas banyak godaan datang padanya.

Membawakan gaya bawelnya yang khas, beberapa kali ia harus tampil seksi di layar kaca. Tuntutan peran menjadi pembenar atas apa yang dilakukan kala itu.

Namun kini, ia sudah berhijrah. Peggy berubah 180 derajat. Mengenakan baju kurung adalah satu contoh sederhana. Selain itu, ia juga mulai menata gaya bahasa, dan tingkah lakunya. Tak ada lagi Peggy seksi yang suka ceplas-ceplos dan serba cerewet.

Bahkan tiga tahun terakhir, ia disebut masyarakat sebagai seorang inspirator hijrah gara-gara konsistensinya berdakwah. Ya, Peggy kini rutin berdakwah. Sebuah kegiatan yang mungkin tak pernah dipikirkannya sejak lama. ”Ini jalan Allah pada saya,” ujarnya.

Sebelum berhijrah, selama 20 tahun ia memang sudah dikenal sebagai seorang selebriti multi talenta di dunia hiburan Indonesia. Pengusaha wanita, penggiat sosial, duta dan juru bicara beragam program kementerian, juga lembaga internasional pernah dilakukannya. Kini lengkaplah sudah. Kebutuhan batinnya membuat Peggy memantapkan diri berhijrah.

Setelah berhijrah Peggy fokus mendedikasikan hidupnya mengerjakan proyek kemanusiaan untuk anak-anak dan perempuan di wilayah konflik. Pelestina dan Suriah menjadi dua titik yang kini paling sering disuarakannya.

Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hal yang lantang disuarakan perempuan yang kini sudah menyandang status S2 dengan predikat cumlaude tersebut. Pada berbagai kesempatan, ia tak pernah lelah menyuarakan semangat perjuangan. Semangat untuk membantu sesama.

“Palestina itu saudara kita yang kini sedang kesusahan. Lewat mereka itulah, kepekaan kita sedang diuji,” katanya lantang.

Berkeliling Indonesia berdakwah menginspirasi tentang hijrah ia juga menunaikan program-program  sosial. Mulai dari pelatihan baca Alquran secara gratis, pembangunan rumah belajar Alquran, renovasi sekolah rusak, gerakan saling berderma, dan banyak lagi.

Baginya, melalui kegiatan-kegiatan tersebut, ia bisa berarti. Tak sekadar bagi diri sendiri, Hijrah sesungguhnya menurut Peggy adalah memberikan apa yang dimiliki untuk sesama.

Hingga kini, perempuan yang sudah berdakwah di 25 negara itu masih terus melakukan aksinya. Dengan juga berkeliling ke berbagai penjuru Indonesia, ia berharap bisa mengajak sebanyak-banyaknya anak bangsa dan umat Islam untuk berbuat.

Apapun latar belakang yang dimiliki, apapun profesinya, selama dilakukan karena Allah, Peggy meyakini semua pasti bermakna. ”Mari kita membantu sesama, jangan ragu apa lagi sungkan untuk berbuat,” pesan perempuan yang sudah menulis empat buku dalam dua tahun terakhir itu.

Dengan segala keterbatasan miliknya, ia sudah membulatkan tekad. Terus berbuat untuk negara dan agama yang diyakini. Dari Mataram perempuan yang pernah satu scene dengan Ruhut Sitompul itu menyuarakan pesan damai dan persatuan. Yang tak kalah penting, ia mengajak seluruh Muslim di Indonesia untuk berbuat bagi sesama.

”Lakukanlah apa yang bisa kita lakukan, pasti Allah akan membantu,” tukasnya. (WAHYU PRIHADI SAPUTRA, Mataram./r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka