Ketik disini

Metropolis

Gedung Minjam di Rumah Dinas Lurah

Bagikan

Bocah-bocah itu, masih terlalu kecil. Tangan dan kakinya, belum tangguh menapaki kerasnya kehidupan. Sayang, takdir menghendaki jalan hidup berbeda. Orang tuanya pergi untuk selama-lamanya. Bagaimana mereka bertahan?

***

BOCAH  itu, menangis sesenggukan. Sebulan yang lalu dia menguburkan ayahnya. Sebelumnya, sang ibu telah meninggalkannya terlebih dahulu ke alam baka. Rasa-rasanya, jika tak ada suara-suara yang berulang kali terus menegarkan hati, Muslimin ingin menyusul.

Toh, buat apa juga hidup, jika diusianya yang sangat belia harus kehilangan dua pundak yang sangat kokoh untuk bersandar. Ayah dan ibu.

“Sedih,” jawab bocah itu. Dia seolah mengenang peristiwa beberapa tahun silam, saat bercerita pada Lombok Post.

Alasan untuk menyusul terlalu banyak. Salah satunya ekonomi. Kemana lagi harus menengadah tangan saat lapar? Muslimin memang masih punya saudara. Tapi, meminta padanya, tetap saja tak senikmat pada orang tua. Sekalipun itu saudara kandung sekalipun.

“Sekali waktu jenguk ke kuburan, kalau sedang rindu,” imbuhnya.

Bocah yang kini sudah duduk di bangku kelas 5 SD itu lalu diam. Kenangannya bak air bah yang tumpah dari langit. Langsung menyesakan memori fikiran tentang dua orang yang sangat dirindukannya. Tetapi, sekuat itu, pula ia membenahi pikiran. Menepis jauh-jauh sedih di hati.

Muslimin, bukan bermaksud tak sopan, atau mau belajar lupa tentang ayah ibunya. Tetapi sebagai anak yang punya masa depan yang panjang, wajar jika ia ingin menata bahagia. Terutama untuk masa depan. Salah satunya adalah mengubur dalam-dalam kesedihan di dalam relung hatinya.

“Senang,” jawabnya singkat. Ia lalu mengusap matanya, dengan lengannya. Air mata yang sudah menggumpal di pelupuk mata, sirna seketika.

Lain Muslimin, lain pula kisah Adrian Pratama. Meski hanya kehilangan ibu, dia masih memiliki ayah. Tapi ayahnya lenyap entah kemana. Jejak terakir yang terekam di ingatannya, ayahnya merantau ke timur, seberang lautan.

“Sumbawa,” kata Adrian, kepalanya ia lipat ke arah bawah.

Jangan tanya, Adrian rindu atau tidak. Betapa beruntungnya, mereka yang masih punya orang tua, meski hanya tinggal satu. Setidaknya, ada tempat ia mengadu jika hatinya tengah pilu. Tapi dia? Ayahnya pun, entah kemana. Adrian hanya menggeleng lemah, saat ditanyai kapan pertemuan terakhir mereka.

“Ndak tahu,” jawab bocah yang kini telah duduk di kelas 5 SD itu.

Saat ditanya cita-citanya, sulit bagi Adrian membuat target hidup. Jika orang tua saja tak ada. Mereka yang harusnya menguatkan pergi selama-lamanya. Ada pula yang raib, bagai ditelan bumi. Tanpa kabar berita.

Masihkah ada kesempatan merangkai cita-cita? Sulit. Tak semudah mereka yang setiap hari ada orang tua menyemangati.

Muslimin dan Adrian, hanya beberapa bocah dari puluhan bahkan ratusan anak yang nasibnya kurang beruntung di Kelurahan Pejeruk. Mereka nyaris saja, jadi bagian dari puluhan anak yang betebaran di lampu merah. Dengan, ekspresi memelas, menadahkan tangan meminta pada para pengendara yang tengah berkejaran dengan waktu.

“Senang juga (tinggal) disini,” kata Adrian, semringah, menyebut tempatnya diasuh saat ini.

Sebelum kedua bocah itu terlantar, untungnya mereka mendapati sebuah panti asuhan, tempat berteduh aman dan nyaman. Panti Asuhan Yatim Piatu Baitul Amin, namanya. Berada di bawah Yayasan, Masjid Baitul Amin, Pejeruk Ampenan.

Bangunannya masih sangat sederhana. Gedung panti pun masih pinjam pakai, milik rumah dinas Lurah Pejeruk. Namun, panti asuhan yang dideklarasikan sejak tahun 2012 ini, sudah menyelamatkan ratusan anak yang senasib dengan Muslimin dan Adrian. Terutama di empat lingkungan, Kebon Jeruk, Pejeruk Desa, Pejeruk Perluasan, Pejeruk Abian.

“Senang, banyak teman dan bisa makan dan minum seperti dulu,” timpal Muslimin dengan lugunya.

Di panti itu, mereka juga dididik untuk menjadi hafiz. Tak peduli, apa latar belakang, kehidupan dan sekelam apapun, anak-anak itu dulunya. Semua dididik untuk hidup mandiri, tumbuh pintar dan religius.

“Sekarang lagi menghafal, (Qs) Al Fajr,” jawab Muslimin yang sudah mengaku menghafal beberapa surat juz 30 ayat Suci Alquran, atau lazim disebut Juz Amma. “Kalau saya, Qs Al Infitar,” timpal Adrian, tak mau kalah.

Keduanya lalu saling melempar senyum. Di panti ini selain mereka akan dibiyai sekolah sampai SMA dan sederajat, mereka juga dididik memiliki jiwa kompetisi di dalam berbuat kebaikan. Termasuk kebaikan dalam menuntut Ilmu. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka