Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Tarif Tukang Dorong Inflasi

Bagikan

MATARAM – Tarif tukang bukan mandor menjadi salah satu penyebab inflasi di NTB yang pada Oktober 2016 inflasi IHK sebesar 0,23 persen. Hal ini dikarenakan banyak proyek yang dikerjakan akhir tahun sehingga pembayaran terhadap tukang bukan mandor mengalami peningkatan.

”Inflasi kali ini disebabkan oleh meningkatnya harga kelompok inti yaitu tarif tukang bukan mandor,” kata Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTB Prijono.

Inflasi yang tercatat ini diduga karena meningkatnya permintaan jasa tukang bukan mandor seiring dengan peningkatan realisasi pembangunan proyek. Baik itu proyek pemerintah maupun swasta menjelang akhir tahun.

”Akhir tahun banyak proyek dikerjakan, dan ini sama seperti tahun biasanya yang menjadikan proyek banyak kejar deadline di penghujung tahun,” ujarnya.

Secara tahunan NTB mencatat inflasi sebesar 2,87 persen pada Oktober 2016 – Oktober 2015 (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan September 2016 sebesar 2,93 persen (yoy). Sementara  inflasi tahun kalender sebesar 1,75 persen pada Oktober 2016 – Desember 2015 (ytd).

Menurutnya capaian laju inflasi NTB pada 2016 masih sejalan dengan target inflasi di APBNP 2016 sebesar 4 persen. Inflasi secara tahun ke tahun masih bisa bertahan dalam rentang tiga sampai dengan lima persen.

”Peningkatan tekanan inflasi pada akhir tahun perlu menjadi perhatian khusus karena meningkatnya konsumsi masyarakat jelang akhir tahun dan hari besar keagamaan, seperti Maulid Nabi dan Hari Natal,” terangnya.

Melihat survei pemantauan harga Bank Indonesia  sampai dengan pekan kedua bulan ini menunjukkan peningkatan tekanan inflasi pada komoditas cabai rawit dan bawang merah.  Kenaikan harga cabai rawit mencapai 51 persen (mtm) dengan harga rata-rata di pasar tradisional mencapai Rp 41 ribu per kilogram. ”Inilah saat ini yang harus diantisipasi,” tuturnya.

Berdasarkan data BPS yang dikumpulkan perwakilan NTB, Inflasi NTB bulan Oktober 2016 sebesar 0,23 persen terjadi karena adanya kenaikan indeks pada Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan bakar sebesar 1,76 persen. Pada  Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau sebesar 0,74 persen. Termasuk pada Kelompok Kesehatan sebesar 0,38 persen. Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga sebesar 0,26 persen dan Kelompok Transport, Komunikasi & Jasa Keuangan sebesar 0,14 persen.

”Sedangkan penurunan indeks terjadi pada Kelompok Bahan Makanan sebesar 1,99 persen dan Kelompok Sandang sebesar 0,07 persen,” kata Kepala BPS NTB Endang Tri Wahyuningsih. (nur/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka