Ketik disini

Metropolis

Bekerja Ikhlas, Digaji dengan Doa

Bagikan

Mengausuh anak yatim piatu, tak gampang. Bahkan cenderung, harus pandai-pandai atur emosi. Kalau jumlah mereka hanya satu dua, mungkin tak masaah. Tapi kalau puluhan bahkan ratusan, gimana?

***

MAKANA� hati. Dongkol. Untung, Ahmadi Syukri, pengasuh di Panti Asuhan Baitul Amin, punya tameng hati. Yakni, sabar dan ikhlas.

Di panti asuhan itu, jumlah anak yatim piatu jumlahnya bejibun. Itu sudah terlihat sejak panti asuhan ini dibuka empat tahun silam.

a�?Dari awal sudah ramai. Jumlah yatim piatu yang diasuh pas baru buka bahkan ratusan anak,a�? kata Ahmadi.

Anak-anak yang diasuh di panti asuhan ini berasal dari berbagai latar belakang keluarga. Dari anak yang lahir dari keluarga santun, terdidik a�?kerasa�� hingga cenderung nakal.

Heroiknya, Ahmadi hanya berdua jadi pengasuh di panti tersebut. Namun, sepertinya secara emosional, Ahmadi ah yang lebih dekat dengan puluhan anak di sana. Itu terlihat dari pilihannya untuk tinggal, tidur, makan dan bercanda bersama anak-anak yatim, dengan istri tercintanya.

a�?Biar lebih dekat dan bisa memenuhi kebutuhan mereka,a�? imbuhnya.

Lagi pula, jiwa Ahmadi jauh lebih terlatih. Sebelum, mengabdi di panti, ia hanya guru honorer dengan gaji sangat kecil di sebuah sekolah swasta. Jadi ia bisa memahami dan memaklumi, nakal dan sulitnya anak-anak kecil diatur.

Untungnya, berkat kelihaiannya dalam mengajari tidak hanya dari perkataan tetapi juga contoh nyata, Ahmadi mampu mengendalikan anak-anak jadi lebih berakhlakul karimah.

a�?Kalau nyuruh nyapu, saya juga ikut nyapu. Kalau mereka saya suruh mencuci, saya juga harus ikut mencuci. Inilah yang penting, keteladanan,a�? terangnya.

Dan hasilnya memang cess pleng! Semua anak-anak di sana, sangat sayang dan patuh pada Ahmadi. Bocah-bocah panti, enggan membantahnya.

Tak hanya itu, anak-anak yang tadinya tergolong nakal, berubah jadi santun dan punya tutur kata yang halus.

Lalu berapa gaji yang diterima Ahmadi mengasuh anak-anak itu? “Hehehe… tidak ada (gaji),a�? ungkap Ahmadi polos.

Pengabdiannya benar-benar total. Dalam istilahnya, semua dikerjakan lilahitaa��ala. Hanya mencari ridho Allah. Meski sudah sibuk dengan pekerjaan di sekolah sebagai guru olah raga honorer, saat pengurus yayasan memintanya menjadi pengasuh, tanpa fikir panjang Ahmadi langsung menyanggupinya.

a�?Awalnya banyak yang menolak (jadi pengasuh). Ketika tawaran itu sampai ke saya, sempat ragu juga. Tapi, saya fikir, kapan lagi bisa beramal salih, kalau bukan sekarang. Saat itu pun saya putuskan sanggup,a�? tuturnya.

Jadilah, hari-harinya super sibuk. Setelah mengajar di sekolah, sepulang dari kerja ia harus mengurusi, puluhan anak-anak yatim. Ada yang lapar, malas membersihkan kamar, malas mencuci, ribut, sampai ada yang bertengkar.

Satu persatu, persoalan mereka harus diselesaikan. Hampir setiap hari. a�?Capek sih iya, tapi kalau ikhlas insya Allah tidak ada pekerjaan yang berat. Paling cuma capek fisik saja, tapi batin puas,a�? ujarnya.

Ia belum lagi harus mengurusi, persoalan administrasi. Oh ya, untuk biaya operasional panti, sepenuhnya dari swadaya masyarakat. Mereka diminta menyumbang, semampunya, untuk membiayai anak-anak terlantar di panti asuhan itu.

a�?Biaya oprasional seperti, listrik air, makan, minum, hingga biaya anak-anak sekolah pernah sampai Rp 18 juta. Tapi alhamdulillah, selalu saja bisa tertutupi. Mungkin ini berkah mengurusi anak yatim piatu. Allah menjaga mereka, melalu tangan-tangan kami,a�? ujarnya.

Yah! Walau tak digaji, Ahmadi mengaku betah. Mengurus anak-anak yang kehilangan ayah, ibu atau kedua-duanya. Salah satu alasan yang paling kuat ia tak mau berpisah dengan anak-anak terlantar meski tanpa pamrih itu, yakni ia pun sebenarnya anak yatim. a�?Ayah saya sudah tidak ada,a�? terangnya.

Ada satu peristiwa luar biasa dalam hidup Ahmadi. Empat tahun silam, ketika ia memutuskan untuk mengasuh anak-anak yatim, secara ekonomi ia sebenarnya sudah merasakan kesulitan luar biasa. Gaji honor yang tak seberapa, membuat ia kebingungan untuk membiayai hidup keluarganya.

a�?Tapi mungkin ini yang disebut berkah bersama anak yatim. Satu tahun kemudian saya tiba-tiba terpilih menjadi guru yang ikut akreditasi,a�? tuturnya.

Wajar kalau Ahmadi menyebut ini keajaiban. Sebab, sertifikasi biasanya untuk guru-guru dengan pengabdian panjang, proses yang rumit dan antrean yang panjang. Tetapi, anehnya, satu tahun mengasuh anak-anak yatim, tiba-tiba namanya sudah keluar di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Mataram.

a�?Saya ditelepon pihak Kemenag untuk pelatihan dan sertifiksi profesi tenaga guru. Mendengar kabar, itu saya terharu sekali,a�? tuturnya.

Entahlah. Ada atau tidak ada kaitannya antara pengabdian tulusnya di panti dengan terpilihnya ia ikut sertifikasi guru. Namun, semua jauh terasa lebih manis, ketika kabar itu ia terima, saat berada di tengah-tengah anak yatim piatu yang terus berdoa untuk ia dan keluarganya.

a�?Alhamdulillah, gaji saya sekarang cukup untuk biaya hidup saya dan anak istri,a�? tutupnya penuh syukur. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram./r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka