Ketik disini

Feature

Di Sumatera Terdesak Sawit, di Enrekang Trauma Masa Lalu

Bagikan

Mulai terpinggirnya masyarakat adat di kawasan terpencil menginspirasi Paox Iben untuk berkeliling Indonesia menemui mereka. Menariknya, Paox melakukannya dengan menggunakan sepeda motor sendirian. Berikut sepenggal kisah perjalanan itu.

***

SOSOK Ahmad Ibnu Wibowo, nama asli Paox Iben, sejatinya lahir dan besar di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Namun, sejak remaja Poax jatuh cinta pada Lombok. Bahkan, beberapa kali, saat SMA, dia mengunjungi pulau indah di Provinsi Nusa Tenggara Barat itu. Tidak dengan pesawat, tapi menaiki motor kesayangan.

a��a��Motor saya waktu itu masih Honda Astrea. Saya buat keliling sampai sini,a��a�� ungkap Paox membuka cerita kepada koran ini yang menemui di rumahnya, Mataram, Lombok, akhir Oktober lalu.

Dia menegaskan bahwa dirinya bukan anak motor, namun memang suka dolan atau bersilaturahmi ke mana pun dengan menggunakan motor. Selain mencintai Lombok, lulusan filsafat Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta itu juga menemukan jodoh di tanah Tambora tersebut.

a��a��Faktor-faktor itulah yang kemudian membuat saya memutuskan untuk tinggal di Lombok,a��a�� ujar suami Nur Janah dan bapak tiga anak itu.

Sebagai seniman dan penulis, Paox selama ini banyak berfokus mempelajari seni dan budaya masyarakat yang dikunjunginya. Keputusannya untuk berkeliling Indonesia dengan menggunakan motor merupakan rangkaian kegiatannya mengampanyekan Bhinneka Tunggal Ika for The World. Alasannya, Bhinneka Tunggal Ika adalah warisan budaya yang terlalu kecil jika hanya diketahui bangsa Indonesia saj

a��a��Magna Charta saja sudah mendunia. Padahal, dari sisi dokumen, realitas keberagaman kita luar biasa. Masyarakat dunia bisa belajar pluralisme di sini,a��a�� ujar pria dengan ciri khas rambut gimbalnya itu.

Kehidupan masyarakat adat masa kini, kata Paox, penting untuk dipelajari. Pada masa lalu, masyarakat adat memiliki peran penting dan hidup di tengah-tengah pusat ekonomi. Kini, di tengah perkembangan zaman, masyarakat adat tergeser ke pinggiran dan hampir punah.

Keinginan berkeliling Indonesia itu sudah lama dicita-citakan Paox. Namun, untuk merealisasikannya, tentu diperlukan kendaraan yang mumpuni, mampu menempuh medan berat, dan sesuai dengan postur orang Indonesia. Maka, Kawasaki Versys menjadi pilihan utama. Motor jenis dual purpose seharga Rp 150-an juta itu dibeli dengan dana seadanya

a��a��Belinya kredit, pakai utang sana-sini. Saya kan tidak punya sponsor. Itu pun motornya baru bisa dipakai keliling (Indonesia) setelah lunas,a��a�� ujarnya, lalu terkekeh.

Paox memulai perjalanan keliling Indonesia pada Oktober tahun lalu. Start dari Lombok ke arah barat melewati Bali, Jawa, dan menuju Sumatera. Selama sekitar tiga bulan, Paox mengunjungi berbagai masyarakat adat di wilayah Indonesia Barat itu. a��a��Saya berangkat bawa sangu Rp 900 ribu, sampai Jogja sudah habis,a��a�� ungkap pria kelahiran 8 Februari 1976 tersebut.

Meski uang sakunya habis pada awal perjalanan, Paox tidak putus asa. Di etape perjalanan, Paox selalu mem-posting tulisan serta foto-foto yang didapatnya selama dalam perjalanan ke akun Facebook pribadinya. Dari situ, banyak teman Paox yang berkomentar, bersimpati, dan memberikan bantuan.

a��a��Banyak yang bilang, a��Eh aku senang lihat perjalananmu, tak ikut kontribusi yaa��,a��a�� katanya.

Bahkan, berkat tulisan perjalanannya secara berkala itu, Paox bisa bertemu dengan kawan lamanya semasa tinggal di Semarang. Dia kini menetap di Padang. Dari temannya tersebut, Paox juga mendapat bantuan. a��a��Dia bilang akan ikut urun bensin. Eh, tak tahunya dikasih Rp 15 juta, hahaha…,a��a�� ujarn.

Selama di Sumatera, Paox melihat banyaknya perubahan infrastruktur yang mendesak masyarakat adat ke kawasan pinggiran. a��a��Saya menyebut Sumatera sebagai darurat sawit,a��a�� tegasnya.

Paox memiliki alasan menyebut Sumatera sebagai darurat sawit. Sebab, hampir seluruh wilayah di pulau itu saat ini sudah berubah menjadi lahan kebun sawit. Bahkan, untuk menuju Candi Muara Takus, Riau, harus melalui perkebunan sawit yang panjang.

a��a��Nilai historisnya sudah hilang. Sulit membayangkan kebesaran budaya masa lalu, lebatnya hutan di sekeliling candi, karena isinya kini sawit semua,a��a�� ujarnya memberikan contoh.

Memasuki 2016, Paox melanjutkan perjalanan ke wilayah Indonesia Timur, yakni Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. Di antara sekian banyak kelompok masyarakat adat yang dikunjungi, Paox mengaku secara khusus memberikan perhatian lebih pada lima komunitas adat. Yakni, Sumbawa (NTB), Ende Flores (NTT), Enrekang (Sulawesi Selatan), Halmahera Tengah (Maluku Utara), dan Bulungan (Kalimantan Utara).

Di Bulungan, Paox menemui masyarakat adat suku Dayak Punan. Dayak Punan merupakan suku Dayak yang paling tertinggal dan hampir punah. Kini tinggal 200 kepala keluarga.

a��a��Pada 1971, banyak orang Dayak Punan yang dipindah ke kota untuk dimanusiakan. Begitu otonomi daerah berlaku, mereka diusir masyarakat kota karena dianggap pendatang. Sementara itu, tanah tempat tinggal mereka sudah dikeruk habis,a��a�� jelas Paox.

Kondisi itu membuat sebagian suku Dayak Punan memilih tinggal menyebar di belantara Kalimantan Utara. Ketika ditemui saat itu, Paox jadi tahu bahwa suku Dayak Punan, terutama Dayak Punan Dulau, memiliki kemampuan tradisional merehabilitasi hutan. Selain itu, mereka memiliki keahlian berburu yang kuat. a��a��Postur mereka kecil seperti hobbit, senjata mereka pakai sumpit,a��a�� katanya.

Paox sempat mencicipi hasil buruan orang Dayak Punan Dulau. a��a��Magrib mereka keluar, jam 10 malam mereka sudah membawa dua babi, satu landak, satu kancil, dan serangkai ikan-ikan,a��a�� imbuhnya.

Untuk bisa mengakses masyarakat-masyarakat terpencil itu, Paox tidak bisa sendirian. Dia mendapat bantuan dari organisasi masyarakat seperti Sajogyo Institute (Sains) dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Saat mengunjungi desa adat di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Paox juga mendapat pengalaman menarik karena dia mempelajari banyak tabu sosial.

a��a��Ada daerah di sini yang melarang orang ngomong. Untuk potong rumput saja, harus potong ayam lebih dahulu. Ini cara mereka berkomunikasi dengan alam,a��a�� jelasnya.

Di Enrekang, Sulawesi Selatan, Paox menemui fakta adanya masyarakat adat yang mengalami trauma masa lalu. Karena itu, dia pun sulit mendapatkan kisah kebudayaan masa silam. Apalagi, masyarakat Enrekang tertutup terhadap orang asing. Mereka merasa trauma atas perlakuan penguasa yang kurang manusiawi kepada masyarakat adat Enrekang.

Selama mengunjungi masyarakat adat, Paox selalu menegaskan pentingnya menuliskan kembali budaya masing-masing masyarakat adat. Selama ini, budaya itu hanya disampaikan secara lisan. Padahal, penguasaan secara lisan rawan mengalami distorsi informasi atau bahkan hilang menyusul punahnya suku tersebut.

a��a��Di Sumbawa, misalnya, penutur bahasa asli kini tinggal lima orang,a��a�� ujarnya menggambarkan.Perjalanan Paox mengunjungi masyarakat adat berakhir pada Juli 2016. Total, Paox melintasi jarak sekitar 20 ribu kilometer selama sembilan bulan. Dari semua wilayah, dia sengaja melewatkan Papua karena alasan geografis.

.a��a��Selain akses jalan yang belum banyak, medannya berat,a��a�� ungkapnya.

Meski telah menyelesaikan perjalanan dengan selamat, dia masih punya obsesi untuk melanjutkan kampanye Bhinneka Tunggal Ika for The World-nya. Target selanjutnya adalah berkeliling Asia Tenggara dengan motor. Namun, keinginan itu harus ditahan dulu karena faktor dana yang belum terkumpul.

a��a��Karena susah nyari sponsor dengan perjalanan semacam ini. Saya juga tidak mau sponsor dari motor, karena ini juga bukan touring cepat-cepatan,a��a�� ujarnya. (TRI MUJOKO BAYUAJI, Lombok/c5/ari/JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka