Ketik disini

Metropolis

Sebelum Panen, Tanaman Disemprot Air Susu

Bagikan

Tak perlu malu menjadi petani. Siapa tahu hal ini yang akan memberimu banyak hal menakjubkan. Seperti kisah Japri, yang sukses menghantarkannya hingga istana negara.

A�***

PenampilannyaA� sangat sederhana. Sesederhana petani biasa lainnya. Setiap hari bertemankan cangkul, terik matahari dan tanah. Tak ada yang menyangka jika ia pernah mendapat anugerah dari orang nomor satu di Indonesia.

Selain sederhana, Japri juga sangat supel dan ramah. Ia tak pernah acuh pada siapa pun yang ingin mengenalnya. Senyum ramah tetap menghiasi wajahnya saat bertemu pandang dengan orang dihadapannya.

Masih dengan senyum itu, Japri mulai bercerita kisah hidupnya. Jauh sebelum ia menjadi petani kecil yang sukses seperti saat ini.

Lelaki asal Pejarakan Karya, Kota Mataram ini memang terlahir dari keluarga petani. Sehingga saat ia lulus SMA, ia ingin menimbah ilmu di bidang pertanian. Namun sayang, saat ikut tes masuk Universitas Mataram, ia gagal.

a�?Saya ini sebenarnya buangan Unram,a�? ujarnya sambil bercanda.

Saat itu, ia merasa sedikit kecewa. Namun itu tidak membuatnya hanya berdiam diri. Ia pun kembali menata semangatnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari peruntungan di pulau Dewata, Bali.

Singkat kata, ia pun di terima kerja di sebuah hotel di sana. Saat itu ia diterima sebagai buruh. Karena sedikit bisa berbahasa Inggris, ia pun berpindah ke Front Office.

a�?Saya akhirnya ditempatkan sebagai Front Office,a�? sambungnya.

Sejak Pukul 06.00 hingga 17.00 Wita ia hanya mengangkat telpon untuk reservasi. Hal ini membuat Japri mulai bosan. Pekerjaan itu rupanya belum memuaskan hatinya. Ia merasa seperti belum menemukan kepuasan hidup. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan kembali ke Lombok. a�?Saya merasa tidak nyaman,a�? kata Japri.

Sebagai putra yang lahir dari keluarga petani, darah itu mengalir kuat. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan mimpi yang tertunda. Bukan dengan melanjutkan bangku kuliah. Baginya hal tersebut sudah terlampau lama.

Pada 2003 lalu, Japri pun turun langsung dalam dunia pertanian. Hanya dengan bekal pengetahuan dari kedua orang tua. Ia masih menggunakan sistem tradisional dan manual. Berbeda jauh dengan petani lain yang mulai bergantung pada alat pertanian dan obat-obatan kimia.

Namun Japri tak hanya menanam padi, jangung dan kedelai. Japri condong menanam tanaman hortikultura. Mulai dari cabai, daun mint, tomat, selada, sayur mayur, melon dan lainnya.

Japri memutuskan menanam komoditas horti berdasarkan peluang yang ada. Pengalaman kerja di hotel lalu membuatnya bisa melihat peluang besar. Hotel selalu membutuhkan beberapa komoditas untuk melayani tamu. a�?Peluang itu ada,a�? tegas Japri.

Saat itu, di Mataram maupun NTB penanaman daun mint dan basil masih sangat jarang. Sementara komoditi ini sangat dibutuhkan hotel. Mereka bahkan mengimpor dari luar daerah. Akhirnya Japri juga memutuskan untuk menanam komoditas tersebut.

Ia mulai memanfaatkan lahan seluas lima hektare yang ada di Udayana. Ia menanam komoditas tersebut. Benar saja, ia pun dilirik oleh pengusaha hotel yang ada di Kota Mataram. Mereka berbondong-bondong memborong komoditinya itu. a�?Saya yang pertama kali merintis,a�? lanjutnya.

Japri berusaha memenuhi kebutuhan konsumennya setiap hari. Sebab itu, ia menanam beraneka jenis tanaman dalam lahan tersebut. Seperti diselah-selah melon tersebut,A� juga tertanam cabai dan sayuran lainnya.

Lokasi lahannya pun terbilang sangat strategis. Dekat dengan taman yang selalu ramai dikunjungi masyarakat. Ia tak perlu risau akan masalah pemasaran hasil. Setiap sore, warga selalu berjalan santai di tempat tersebut.

a�?Mereka mampir untuk selfie sekaligus belanja langsung,a�? jelasnya.

Ada hal menarik yang membuat hasil pertaniannya diburu pengusaha. Semua komoditas tersebut bebas pestisida.Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan. Hasil pertaniannya sangat bagus namun bebas pestisida.

Japri memberitahukan sedikit rahasia mengenai hal ini. Ia teringat akan kasus keracunan. Jika seseorang keracunan, maka air kelapa atau susu dapat menetralisir racun tersebut. Ia pun mencoba menerapkannya. Beberapa hari sebelum panen, ia akan menyemprotkan tanaman dengan air kelapa.

a�?Jika tidak mencukupi saya ganti dengan susu,a�? akunya.

Hal tersebut ternyata terbukti berhasil. Sayurnya bebas dari aroma pestisida. Begitu juga rasanya. Ini semakin menambah nilai hasil pertaniannya.

Dari mulut ke mulut, ia pun mulai dikenal banyak orang. Di 2007 silam, Dinas Ketahanan Pangan NTB pun mulai meliriknya. Ia punA� kemudian dianugerahi dengan predikat poetani berprestasi dari Kementerian Pertanian RI.

Tak hanya sampai di situ, keberhasilannya pun sampai ke Istana Negara. Pada 2011 lalu, ia dipanggil mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menerima penghargaan petani berprestasi.

a�?Saya diundang untuk datang langsung datang ke Istana Negara,a�? tuturnya.

Japri melanjutkan, tiada hal yang sia-sia. Selama masih mau berusaha tekun dan yakin. Artinya, tak perlu berstatus sosial tinggi. Menjadi petani pun bisa menghantarkan ia bertemu dengan orang nomor satu di Indonesia. (FERIAL AYU, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka