Ketik disini

Metropolis

Dari Sayur, Sehari Raup Rp 3 juta

Bagikan

Dari usahanya, Japri meraih sejumlah penghargaan. Salah satunya dari mantan presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Ia kini menjadi motivator bagi petani lainnya.

***

KEMEJANYA terlihat rapi dan licin. Tak lupa juga senyum ramah terukir di wajah Japri. Hari itu ia diundang Badan Ketahanan Pangan NTB di Hotel Santika. Ia menjadi salah satu pemateri untuk keamanan pangan.

a�?Saya termasuk petani bonet (bodoh internet),a�? ujarnya membuka cerita

Tak seperti petani lainnya yang menggunakan teknologi yang maju, Japri belajar secara otodidak. Tak memakai buku panduan atau teknologi canggih.

Setiap hari, ia hanya memperhatikan situasi pasar. Ia selalu berkonsentrasi pada apa yang diinginkan konsumen. Ia tak hanya terpaku menanam satu komoditas. Sebab jika hanya satu, ia tidak akan mampu memenuhi keinginan pasar.

Di lahan seluas dua hingga tiga hektare di Udayana, ditanami aneka jenis sayuran. Terutama sayuran yang selalu dibutuhkan perhotelan. Seperti basil, miny, pokcay, dan lainnya.

a�?Sisanya baru saya tanam cabai, tomat, melon dan lainnya,a�? aku pria berkepala plontos tersebut.

Sayuran sengaja ditanam lebih banyak. Sebab sayuran menjadi komoditas yang bisa terus dipanen setiap harinya. Sambil menunggu cabai, tomat, melon berkembang, ia bisa mendapatkan pemasukan dari sayuran yang lain.

a�?Itu untuk menutupi biaya operasional merawat cabai maupun melon hingga panen,a�? bebernya.

Hasilnya pun lumayan menggiurkan. Bayangkan saja, dalam sehari ia mampu menghasilkan uang hingga Rp 3 juta.A� Uang tersebut hanya berasal dari penjualan aneka sayuran di lahannya.

Setiap harinya permintaan sayur terus meningkat. Terutama dari perhotelan. Jika hanya menanam satu jenis sayur, ia tidak akan mampu memenuhi permintaan pasar.

a�?Jadi mutar terus, jika tidak saya yang nantinya dituntut,a�? sambungnya.

Hal ini terus menerus ia lakukan tanpa lelah. Alhasil, cara ini sukses mengantarkannya meraih keuntungan yang cukup besar. Ia bisa menghidupi istri, anak dan keluarga lainnya. Tak hanya itu, ia juga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

a�?Ada sekitar 30 orang yang menggantungkan hidup di lahan saya,a�? pungkasnya.

Keuntungan akan semakin besar manakala musim panen cabai atau melon. Menurut perhitungannya, jika harga cabai dijual Rp 50 ribu per kilogram, lalu dikalikan dengan luas lahannya, ia bisa memperoleh pendapatan Rp 500 juta saat panen.

a�?Ini sangat cukup untuk menghidupi keluarga saya,a�? akunya

Japri mengatakan, menjadi petani bukan hanya memikirkan hasil yang banyak. Namun juga keamanan pangan tersebut. Penggunaan pestisida akan membantu menghilangkan hama. Namun efek yang ditimbulkan juga berbahaya bagi kesehatan manusia.

a�?Setiap warga pasti ingin menikmati makanan sehat,a�? kata Japri

Ia pun memutar otak untuk mencari solusi. Ia mulai mencoba inovasi teknologi untuk keamanan pangan. Lantas digunakan shading net yang bisa mengurangi hama tanamannya.

Di samping itu, ia juga menggunakan metode unik untuk menghilangkan residu. Yakni dengan penyemprotan air kelapa dan susu. Tanaman yang menggunakan pestisida akan disemprot beberapa hari sebelum panen.

a�?Metode ini bisa menghilangkan bau residunya,a�? tukasnya.

Namun Japri menambahkan, inti menjadi petani sukses itu harus tekun dan bertekad kuat. Sebab menjadi petani tidak semudah sebagaimana yang terlihat. Selain itu, butuh inovasi untuk menghasilkan komoditas yang terbaik agar mampu bersaing dengan daerah lainnya. (Ferial Ayu, Mataram/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka