Ketik disini

Headline Kriminal

Kosmetik dan Obat Ilegal Serbu NTB

Bagikan

MATARAM – Polisi A�bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM) Mataram, kembali membongkar peredaran kosmetik dan obat-obatan ilegal. Dari pengungkapan tersebut, polisi mengamankan ratusan ribu obat tanpa izin edar, dengan nilai ratusan juta rupiah.

Berdasarkan keterangan polisi, obat-obatan tersebut terdiri dari 16 item berjumlah 36.523 pieces sediaan farmasi tanpa izin edar, 1880 tablet psikotropika, 125.775 tablet obat keras, dan 951 obat tradisional tanpa izin edar. Seluruh obat tersebut, disita dari tangan DS (inisial) di Bima.

a�?Sebagian besar obat kami sita di rumahnya dan di apoteknya,a�? kata Kasubdit III Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda NTB AKBP AA Gede Agung, kemarin (22/11).

Menurut Agung, banyaknya barang bukti yang diperoleh petugas, mengindikasikan permintaan akan obat illegal sangat tinggi. Lebih-lebih, mudahnya akses untuk memperoleh obat-obat illegal melalui telepon pintar.

a�?Ini nilai ekonomisnya sebesar Rp 262.997.000,a�? kata Agung.

Berdasarkan hasil uji laboratorium di BPPOM, obat tradisional yang disita polisi ternyata mengandung bahan kimia. Seharusnya, obat tersebut berasal dari bahan tumbuhan herbal. Namun, produsen malah mencampurnya dengan bahan kimia berbahaya.

a�?Obat yang dijual pelaku ini, banyak dikonsumsi remaja hingga anak-anak. Padahal itu sangat berbahaya,a�? kata dia.

Atas temuan tersebut Agung mengaku telah melakukan pemantauan terhadap jalur peredaran obat-obatan yang masuk di wilayah NTB. Sebab, dari pengakuan pelaku, obat yang ia jual didatangkan dari Surabaya, Jawa Timur.

a�?Kita terus pantau, termasuk mengecek pabrik tempat memproduksi obat-obatan yang dijual ini,a�? ujarnya.

Terhadap perbuatannya, DS disangkakan Pasal 98 Ayat 2 dan 3 Jo Pasal 196, Pasal 106 Ayat 1 Jo Pasal 197, Pasal 108 Jo Pasal 198 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

“Ancamannya pidana penjara paling lama 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar,” kata Agung.

Awas Produk Kosmetik Mengandung Merkuri

Selain obat-obatan illegal tanpa izin edar, polisi dan BPPOM Mataram juga menyita ribuan kosmetik dari tangan pelaku dengan inisial MA dan LP. Kosmetik tersebut, diduga mengandung zat kimia berbahaya diantaranya merkuri.

Meski diduga mengandung merkuri, rupanya kosmetik yang disita polisi telah lama beredar di masyarakat. Bahkan produk kosmetik tersebut dijual bebas di pasar-pasar tradisional di wilayah NTB.

Saat membongkar peredaran kosmetik illegal ini, polisi lebih dulu menangkap MA, Sabtu (5/11). Dia ditangkap saat mengangkut dua boks yang masing-masing berisi 50 lusin kotak, dengan menggunakan merek Garnier Light. Kepada petugas, MA mengaku mendapatkan barang tersebut dari seseorang di BTN Sweta Kota Mataram.

Bukan itu saja, MA rupanya menjual kosmetik tersebut di lapaknya yang ada di pertokoan Bertais, Kota Mataram. a�?Hasil penyelidikan di lapangan, produk yang pelaku jual ini laris di pasaran,a�? kata Agung.

Berangkat dari penangkapan MA, polisi bersama BBPOM kemudian melanjutkan pergerakan menuju target lainnya, sesuai pengakuan pelaku. Polisi kemudian menangkap LP di rumahnya di BTN Sweta, Kota Mataram.

a�?Di rumahnya (LP, red), kita amankan empat boks berisi masing-masing 60 lusin. Jumlah totalnya ada 2.880 cup, dengan merek Natural 99,a�? ungkapnya.

Atas perbuatannya, kedua pelaku terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara, berdasarkan Pasal 98 Ayat 2 dan 3 Jo Pasal 196, Pasal 106 Ayat 1 Jo Pasal 197, Pasal 108 Jo Pasal 198 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

a�?Ada denda juga paling banyak Rp 1,5 miliar,a�? tandasnya.

Sementara itu, Kabid Pemeriksaan dan Penyidikan BPPOM Mataram Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih mengatakan, setiap peredaran kosmetik harus ternotifikasi di BPPOM. Karena itu, masyarakat harus lebih waspada melihat ciri kosmetik illegal.

Berdasarkan aturan dari BPPOM, setiap kosmetik yang beredar dan telah ternotifikasi, biasanya ada kode unik di setiap kemasannya. a�?Pasti ada tulisan NA dan diikuti dengan 11 digit angka berbeda di belakangnya. Kalau tidak ada, berarti tidak terdaftar,a�? jelas dia.(dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka