Ketik disini

Giri Menang

Pilah Sampah, Seminggu Dapat Rp 150 Ribu

Bagikan

Sampah menimbulkan banyak masalah. Tapi di Dusun Jeleteng, Desa Gegerung, masyarakat sekitar justru menggantungkan hidupnya pada sampah. Berikut laporannya.

***

PAPUK Derah, 70 tahun membongkar tumpukan sampah yang di depannya. Tangannya begitu cekatan memilah dan membersihakan sampah satu per satu dari benda-benda keras seperti batu dan lainnya.

Hasil sampah yang dibersihkan hari itu, belum seberapa. Tidak lebih dari enam kilogram. Papuk Derah adalah satu dari ratusan pekerja “sampah” di Dusun Jelateng. Mereka dipekerjakan oleh salah satu perusahaan. Dengan mandor Kepala Dusun setempat H Zaelani.

Setiap harinya, mereka membersihkan sampah untuk mendapatkan rupiah. Mereka sudah bertempur melawan sampah mulai sebelum matahari terbit dan belum akan berhenti sebelum matahari tenggelam.

Dari tumpukan sampah yang dibersihkan tersebut, mereka memperoleh  uang setiap hari. Kendati tidak seberapa, namun karena himpitan ekonomi Papuk Derah bersama warga lainnya memilih bertahan hingga sekarang.

Nyatanya, Di Dusun Jelateng, Desa Gegerung sumber mata pencarian warga tidak hanya dari memecah batu. Tapi juga mengolah sampah.  Sekitar 200 warga diperkejakan untuk membersihkan sampah, sebelum akhirnya dijual kembali ke pengusaha. Dari hasil sampah yang dibersihkan itu, mereka dibayar per kilo Rp 1000.

Papuq Derah mengaku, profesi pembersih sampah ini selain gampang, juga menjadi mata pencarian satu-satunya yang bisa dia lakukan bersama warga lainnya. Tenaga yang sudah tak kuat lagi, membawa dia tetap beratahan meski penghasilannya tidak seberapa.

”Kami tidak punya sawah, mau bertani tidak bisa,” keluhnya.

Mendengar kata sampah, pasti yang hadir dalam benak sebagian orang adalah kotor, bau, dan barang bekas yang tidak bisa dimanfaatkan lagi. Namun bagi Papuk Derah dan warga Jelateng lainnya, sampah adalah segalanya. Mereka bahkan bisa bertahan hidup sampai sekarang dari membersihkan sampah plastik.

Papuk Derah mengaku, meski hujan besar, pekerjaan ini tetap dia jalani. “Sakit juga kami tetap keluar,” akunya. Semakin banyak sampah yang dibesihkan semakin banyak pula penghasilannya.

Sementara Kepala Dusun Jelateng H Zaelani mengatakan, karena jumlah sampah yang tidak menentu, karyawannya yang berjumlah 200 orang tersebut diberi jatah. Satu karyawan biasanya mendapat jatah sampah dua sampai tiga karung kecil.

Dengan demikian, lanjut Zaelani pemasukan masyarakat Jelateng setiap minggunya tak menentu. Kadang selama 15 hari masyarakat mendapat Rp 150 ribu. Kadang bisa lebih. ”Pendapatannya tidak tentu, tergantung banyak sampah yang dibersihkan,” katanya.

Dari tumpukan sampah yang sudah dibersihkan itu, warga mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupaun jauh dari kata cukup, tapi setidaknya bisa membantu. (MUHAMMAD ZAINUDDIN, Giri Menang/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka