Ketik disini

Metropolis

Pisah dengan Tangisan, Janji Bertemu Setelah Sukses!

Bagikan

Tidak mudah mengubah karakter anak dengan moral rendah. Apalagi sampai berhadapan dengan hukum. Kepala PSMP Paramitha pun kerap dibuat menangis oleh bocah-bocah itu. Bagaimana ceritanya?

***

ANGINA� menderu hebat. Waktu masih menunjukan pukul 13.45 wita. Kantor itu masih sepi, ketika wartawan Koran ini sampai di sana. Salam pun hanya berbalas tiupan angin dari arah pintu. Dingin sekali!

Waktu istirahat memang masih menyisakan 15 menit lagi. Tetapi, office PSMP Paramitha terlihat angker. Suasana nyaris terlihat temaram. Pintu-pintu tertutup rapat. Kemana pegawainya?

Sempat berniat beranjak pergi, sebuah mobil dengan plat merah terparkir depan pintu. a�?Apa dek?a�? sapa seorang pria jangkung itu.

Ia berjalan tak lazim. Separuh badannya, seperti tak bertulang. Bahkan, ketika kami berjabat, kulitnya serasa baru dilumuri es. Dingin sekali. Pria itu bernama Sutiono. Kepala Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Paramitha Mataram.

a�?Kami di bawah Kementerian Sosial RI. UPT yang berada di NTB. Wilayah kerja kami, NTB, Bali, NTT sampai Kalimantan,a�? terangnya.

Beruntung sekali. NTB Punya panti. Meski berdesain a�?kerangkenga�� bagi anak-anak yang berhadapan dengan hukum, tetapi sejatinya serupa padepokan tempat menempa diri.

Di Panti ini, anak-anak yang berhadapan dengan hukum, punya harapan masa depan yang lebih besar.

a�?Di sini ada ABH (Anak Berhadapan dengan Hukum), anak sebagai korban, pelaku, dan saksi, di sinilah kami rehabilitasi dan lindungi,a�? terangnya.

Dasar hukum panti ini memang sudah sangat jelas. Anak-anak tidak boleh dipenjara, layaknya mereka yang sudah dewasa dan mengerti a�?baik-buruka�� dari segi hukum, agama dan adat.

a�?Apabila anak-anak melakukan tindak pidana, tidak boleh ditahan. Sesuai undang-undang 11 tahun 2012, tentang Sistem Peradilan Pidana Anak,a�? ujar Sutiono.

Siapa pun mereka. Mau anak yang telah ditangkap polisi, kejaksaan, putusan hakim hingga yang diamankan aparat lingkungan. Semua diterima di sini. Setiap anak dianggap masih punya masa depan yang harus diselamatkan. Itulah ide dasar sosialnya.

Tapi memang yang dihadapi adalah anak yang melewati batas. Mereka, rendah dari segi moral. Terbiasa melakukan tindakan pidana. Dari pencurian, perkelahian hingga pencabulan. Tentu, masuk PSMP Paramitha, tidak bisa sim salabim abra kadabra, A�berubah langsung baik.

a�?Disuruh salat malah lari. Ada yang sembunyi. Sampai ada yang naik pohon. Ada yang merokok, bahkan di dalam ruang karantina, berkelahi hingga babak belur. Kalau sudah begitu, melerainya tentu sulit sekali,a�? tutur dia, sembari tersenyum.

Apalagi kalau sudah anak-anak itu nekat keluar tembok. Para peksos bisa pusing tujuh keliling mencari anak-anak itu. Lebih parah lagi, saat kembali, ternyata di luar sana, mereka telah membuat kegaduhan.

Maka, apa bedanya panti dengan tempat bersembunyi para bocah-bocah tengik bermental kriminal? a�?Iya, itu dukanya. Sukanya, ketika mereka keluar dari sini, diterima kembali masyarakat. Lalu suatu ketika, mereka kembali lagi setelah menjadi orang sukses. Ada yang sudah punya usaha sendiri, sampai ada yang jadi polisi, TNI,a�? terang Sutiono, bangga.

Rasa-rasanya kalau sudah seperti itu. Segala kenakalan, kejengkelan hingga marah yang bertumpuk-tumpuk di dalam dada lenyap seketika.

a�?Ternyata, mereka punya masa depan yang indah, rasanya ingin menangis haru,a�? ungkapnya.

Ngomong-ngomong soal menangis, Sutiono juga punya episode menangis yang tak kalah mengharu biru dengan anak-anak panti. Yakni, saat anak-anak itu a�?lulus dari pantia�� dan mendapat predikat lebih baik dibanding saat masuk di sana.

a�?Saya, anak itu dan orang tua, lalu masuk ke sebuah ruangan. Di sana, saya berikan bimbingan psikososial. Mengajak mereka berfikir tentang masa depan yang lebih baik. Kalau sudah begitu, tak jarang kami bertiga menangis di dalam,a�? bebernya.

Pria itu kembali tersenyum. Mengenang pristiwa yang sudah berlalu dan mungkin akan kembali dihadapinya dengan anak-anak yang berhadapan dengan hukum.

Di panti PSMP Paramitha, anak-anak itu memang diajarkan banyak hal. Terutama soal moral dan akhlak. Lebih didekatkan pada agama dan prilaku yangA� penuh cinta kasih. Anak-anak dituntut berubah. Kalau tidak berubah, ancamannya tentu dikembalikan lagi ke aparat berwajib.

a�?Wajar jika kemudian ada diantara mereka yang mengaku betah dan ingin tetap tinggal di sini. Di sini mereka belajar banyak arti hidup. Berbeda dengan di luar. Bisa saja, mereka terpaksa menjalani kehidupan keras, brutal dekat dengan aksi kriminal, karena pengaruh lingkungan yang memang mengajari dengan tidak benar,a�? tutupnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys