Ketik disini

Metropolis

Digunakan Perusahaan Nasional, Harusnya Booming di Lombok

Bagikan

Ragam karya anak bangsa dipamerkan dalam acara Teknologi Tepat Guna (TTG) yang dipusatkan di Lapangan IC, kemarin(23/11). Salah satu yang menyita perhatian masyarakat Lombok adalah mesin perajang tembakau.

***

Mengenakan  batik khas Lumajang, dengan peci hitam menutup kepala, Muhammad Wahid tampak menghela nafas. Ia kelelahan. Sejumlah masyarakat terus mengerubunginya.

Beragam pertanyaan, dan memberi penjelasan terus-menerus membuatnya kepayahan. Laki-laki 57 tahun itu beberapa kali mengusap keringat dan meneguk air minum yang disiapkan. ”Kok panas ya, padahal ada AC,” katanya terkekeh.

Dalam Pameran Teknologi Tepat Guna (TTG) yang dipusatkan di Lapangan Islamic Center itu, ia adalah salah satu primadona. Stand tempatnya berjaga tak pernah sepi. Banyak pengunjung dari berbagai provinsi.

Dari NTB, khususnya masyarakat Lombok juga tak kalah banyak. Mereka bertanya dengan detail, memperhatikan dan tampak serius.

Kreasinya dilirik banyak kalangan. Khususnya orang-orang Lombok. Dengan sabar ia harus menjelaskan berulang-ulang pada setiap orang yang datang. Kreasinya sebenarnya bukanlah karya fenomenal.

Jangan bayangkan ia menciptakan sebuah mesin yang ribet dan njlimet. ”Ini hanya mesin sederhana,” katanya merendah.

Dari Lumajang, ia membawa Mesin Perajang Tembakau. Terdengar sepele. Namun ternyata belum banyak yang memikirkannya selama ini. Bahkan di Lombok sebagai salah satu daerah penyuplai tebakau terbesar di Indonesia, belum ada putra daerah yang merealisasikan mesin yang sangat berguna bagi petani “mako” tersebut.

“Konsepnya sederhana, mempercepat proses pencacahan tembakau,” ujarnya lantas tersenyum.

Pemilik bengkel las Sahabat di Jalan arah Pasirian km 6 Sumberekso itu mengatakan, mesinnya memiliki sejumlah kelebihan. Pertama, dapat mencacah tembakau dalam takaran yang pas.

Misalnya persatu mili meter. Maka mesinnya tak akan meleset sedikit pun. Di Lumajang, mesin itu telah menggantikan tenaga manual, ketika para petani masih mengukur kira-kira sebelum mencacah tembakaunya.

Kembali mengalahkan kemampuan manual, mesin kreasinya bekerja sangat cepat. Minimal 500 kilogram perjam. Padahal jika dikerjakan manual, bekerja sehari penuh, angka itu pasti tak bisa terlewati.

Menggunakan mesin kecil 300 watt saja adalah kelebihan lainnya. Tak ada mesin diesel raksasa atau genset besar yang dipakai. ”Jadi hemat energi,” ujarnya.

Sejak 2007 mesin itu sudah menjadi primadona di Lumajang. Para petani menyukainya. Perusahaan raksasa Sampoerna bahkan menggunakan mesin yang sama untuk setiap batang rokok yang dinikmati pecinta Sampoerna. Sangat tepat guna. Sangat pas dengan Lombok sebagai penghasil tembakau.

Makin spesial karena mesin ini bukan sekadar purwarupa. Mesin ini sudah dipasarkan masif di berbagai titik di Jawa. Setiap bulan, ia bisa melayani hingga 20 pesanan dari petani.

Harga yang murah membuat banyak petani memilihnya. “Kalau belum bisa beli, di sana saya juga menyewakan,” ujarnya.

Mesin yang memiliki presisi tinggi ini menurutnya sangat pas di Lombok. Karena itu ia yakin, mesin kreasinya bakal booming. Pantaslah ia dikerubungi banyak orang. Mesinnya jelas sudah menjadi ”incaran”. Siap diaplikasikan oleh para petani tembakau untuk hasil yang lebih baik.

“Saya lihat mesin ini menarik, kita semua baru terpikir setelah melihat,” kata Suandi, salah seorang pengunjung yang mengatakan akan memberi tahu keluarganya di Lotim yang merupakan petani tembakau. (WAHYU PRIHADI, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka