Ketik disini

Kriminal

Kasus Bule Inggris, Aparat Dituding “Masuk Angin”

Bagikan

MATARAM – Masih ingat dengan Guy Somers? Pria asal Inggris yang ditangkap polisi atas dugaan memberikan keterangan palsu. Proses peradilannya rupanya berlarut-larut. Persidangan yang dimulai sejak awal Agustus, hingga kini masih berkutat pada pemeriksaan saksi.

Guy menjalani sidang perdana 4 Agustus lalu dengan agenda dakwaan. Sedangkan sidang terakhirnya, dilakukan 26 Oktober lalu. Selama tiga bulan sidang, sejak Agustus hingga Oktober, tercatat telah dilakukan 16 kali sidang.

Namun, dalam lima persidangan terakhir atau sejak sidang ke-12, terdakwa Guy tidak pernah hadir dengan alasan sakit. Kondisi itu, mengundang reaksi pihak yang merasa dirugikan Nadine Maria McQueen. Mantan istri Guy itu melakukan protes langsung ke pengadilan dan Jaksa Penuntut Umum (JPU), kemarin (23/11).  Nadine meminta aparat penegak hukum untuk segera menangkap dan menyidangkan Guy.

”Guy punya uang dan preman untuk membayar kasus ini. Saya sudah lama bersabar,” teriak Nadin di hadapan JPU di Pengadilan Negeri Mataram, kemarin (23/11).

JPU Krisna Purnomo mengatakan, Guy tidak ditahan lagi karena, masa tahanan pengadilan sudah habis. Sehingga, Guy bisa menghirup udara bebas sebelum adanya putusan hakim. ”Kalau tidak salah masa tahanannya selama 60 hari,” ungkapnya.

Berdasarkan aturan, jika masa tahanan hakim sudah habis, otomatis bisa keluar demi hukum. Meskipun, hukuman terdakwa belum diputuskan oleh majelis hakim.  Krisna mengaku sudah melakukan upaya pemanggilan terhadap terdakwa Guy. Dia telah tiga kali melayangkan panggilan dan keempatnya dipanggil secara paksa.

”Saat ini keberadaan terdakwa tidak diketahui,” jelasnya.

Untuk itu, berdasarkan perintah hakim, JPU sudah meminta bantuan ke Polda NTB untuk menangkap paksa terdakwa agar, bisa hadir di persidangan. ”Kita sudah bersurat satu minggu lalu ke Dirreskrimum Polda NTB,” terangnya.

Selain itu, pihaknya mengaku sudah bersurat ke kantor Imigrasi untuk meminta pencekalan. Langkah  itu  untuk mengantisipasi Guy lari ke luar negeri. ”Guy kemungkinan masih di wilayah Indonesia,” duganya.

Krisna menerangkan, selama masih menjadi tahanan hakim, Guy pernah sakit selama sebulan. Sehingga, beberapa kali persidangan harus ditunda. ”Saat sakit itu, ada keterangan dokternya dari Rumah Sakit Islam Siti Hajar,” jelasnya.

Menurutnya dari hasil diagnosa dokter,  Guy terkena penyakit lever. Sehingga, harus mendapatkan perawatan. ”Saya juga lihat dia secara langsung. Bahwa kondisinya sedang sakit,” akunya.

Sementara itu, Ketua Majelis Hakim Didiek Jatmiko menjelaskan, terdakwa Guy tidak lagi ditahan karena masa tahanannya sudah habis. Otomatis, dia harus keluar dari tahanan lapas. ”Itu sudah aturan,” jelasnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Humas PN Mataram itu menyebutkan, ada beberapa penghambat proses peradilan Guy. Pertama, jaksa tidak bisa menghadirkan saksi-saksi. Kedua, terhalang sakit.

Pada saat agenda pemeriksaan saksi, penasihat hukum terdakwa keberatan persidangan dilanjutkan bila tidak menghadirkan saksi.

”Ini permainan penasihat hukumnya untuk menunda-nunda persidangan,” jelasnya.

Karena tak ingin berlarut-larut, Didik langsung mengeluarkan surat pemanggilan paksa yang diteruskan kepada pihak kepolisian. Agar, persidangan kasus dugaan pemalsuan yang dilakukan Guy bisa dilakukan. ”Kami sudah meminta bantuan polisi,” jelasnya.

Ketika ditanyakan terkait dengan konsekuensi hukum, Didik belum bisa memastikan. Karena, persidangan masih pada tahap pemeriksaan terdakwa. ”Kita belum bisa menyimpulkan konsekuensi hukum,” ungkapnya. (dit/r2)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka