Ketik disini

Politika

Konflik PPP Masih Panjang

Bagikan

MATARAMA�– Pengamat politik Ahyar Fadli melihat konflik internal PPP di pusat belum akan selesai dalam waktu dekat. Lantaran para pihak tidak mau duduk bersama untuk menyelesaikannya secara tuntas. Ditambah lagi pihak yang berseteru masih mempertahankan ego dan klaim akan kebenaran kelompoknya sendiri. a�?Selama itu belum termediasi dengan baik, agak sulit melihat kubu Djan Faridz dan Romahurmuzy bersanding kembali,a�? katanya, kemarin (24/11).

Merujuk pada Undang-Undang Partai Politik tentang sengketa kepengurusan, seharusnya konflik berakhir pada mahkamah partai yang dibentuk internal partai politik (parpol). Benang kusut konflik parpol menjadi berkepanjangan dan menelan biaya tinggi manakala para pihak tidak menganggap ada mahkamah partainya sendiri. Bahkan keputusan mahkamah partai dianggap sebagai keputusan yang tidak berkeadilan dan tendensius.

a�?Akibatnya kepentingan parpol yang lebih besar terabaikan gara-gara konflik yang belum berkesudahan,a�? paparnya.

Ketidakpercayaan kian berlanjut dengan mengajukan gugatan ke pengadilan. Kata dia, itu pun belum tentu juga keputusan pengadilan menjadi akhir dari kisah konflik parpol.

Keputusan PTUN Jakarta yang mengabulkan permohonan PPP kubu Djan Faridz tidak serta merta diamini oleh Kemenkumham. Pembatalan SK kepengurusan PPP Romahurmuzy tidak mudah dilakukan dengan pertimbangan kemaslahatan masyarakat. Umumnya Kemenkumham akan mencari jalan tengah menuju perdamaian atau islah.

Apa yang dilakukan PPP kubu Romi selanjutnya? Sangat mungkin kubu Romi akan melakukan banding atas putusan PTUN Jakarta. Sehingga tidak menimbulkan “tsunami” bagi kepengurusan PPP di daerah dan PAW anggota legislator.

Seandainya Kemenkumham mencabut SK kepengurusan PPP kubu Romy, sangat mungkin akan terjadi chaos dan konflik lebih besar dalam tubuh partai berlambang Kakbah tersebut. Seperti perebutan aset, saling sandra dan perlawanan sejenis. a�?Akibat lebih besar yakni kubu Romi tidak bisa ikut dalam kontestasi Pilkada di NTB pada tahun 2018 mendatang,a�? terangnya.

Kata dia, para pihak seharusnya mulai mengedepankan kepentingan yang lebih besar dibandingkan kepentingan kelompoknya. Sebagai parpol Islam sebaiknya para pihak bersepakat untuk melakukan islah demi kemaslahatan umat.

Masyarakat dan konstituen PPP pasti berharap agar PPP kembali menyatu di bawah payung agung Kakbah. Tidak ada yang dirugikan kalau para pihak mau mendengar suara masyarakat pemilihnya. Jika tidak maka sangat mungkin masyarakat akan mengevaluasi untuk tidak memilih PPP pada Pemilu dan Pilkada mendatang.

Ahyar berharap, agar para pihak yang berkonflik mau mendengar suara hati konstituen yang mau PPP kembali harmonis dan bersama membesarkan rumah besar politik umat Islam. Para pihak yang berkonflik mestinya mulai memasang mata, telinga dan hati untuk bersama konstituennya untuk kembali ke tujuan awal ber-PPP.

Begitu juga dengan konflik antara Djan Faridz dan Romahurmuzi segera berakhir. Kedewasaan berkonflik menjadi titik akhir dari konflik pada PPP. (ewi/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka