Ketik disini

Headline Metropolis

Tangkap Satu, Lolos Seribu

Bagikan

NTB tak kunjung sembuh setelah ditampar Peraturan Menteri KP No 1/2005. Aturan itu telah menjadikan aktivitas penangkapan hingga pengiriman bibit lobster kepada para pembeli di dalam dan luar negeri tergolong tindakan a�?haram.a�? Dari bergelimang dana, para nelayan kini hidup merana. Menteri Susi telah membuat negara menggunakan tangan besi. Namun, sayang dia alpa memberi solusi. Jangan heran, kalau aksi penyelundupan bibit lobster pun merajalela. Apalagi kalau penyelundup dan penegak hukum sepakat main mata.

***

SOROT mata tajam mengawasi gerak gerik kedatangan koran ini saat memasuki Desa Batu Nampar, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur. Duduk di pinggir jalan, tatapan mata para pemuda setempat mendelik dan curiga. Sambutan tidak bersahabat itu membuat kami kikuk. Keindahan pantai di depan mata tidak jua membuat hati tenang.

Jantung berdebar lebih kencang. Bunyinya gemuruh. Darah mendesir lebih cepat. Terutama saat salah seorang dari pemuda itu mendekati kami. Dia datang dengan tudingan di benaknya. Bahwa kami adalah anggota kepolisian.

Warga setempat memang tengah tak bersahabat pada polisi. Belum lama polisi datang ramai ke sana, dan menangkap tiga warga setempat dengan tuduhan menyelundupkan benih lobster ke luar negeri.

Berbekal pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/Permen-KP/2015 tentang Penangkapan Lobster, Kepiting dan Rajungan, polisi memang menggelar aneka aksi penegakan hukum. Sesuai aturan itu, nelayan melanggar hukum kalau menangkap bibit lobster, terlebih lagi menjualnya. Apalagi sampai dikirim ke luar negeri.

Tiga warga Batu Nampar itu masih mendekam di penjara hingga kami menjejak kaki ke sana. Pada saat yang sama, selain menangkap tiga warga, polisi juga mengubek-ngubek boks penyimpanan benih dan bibit lobster milik warga.

Dengan alasan penegakan hukum, polisi-polisi itu tak peduli betapa benih-benih lobster itu adalah harta paling berharga yang dimiliki warga Batu Nampar, yang nyaris seluruhnya berprofesi sebagai nelayan.

Semenjak itu, warga selalu was-was. Kewaspadaan mereka meningkat. Rasa curiga dipupuk. Dan selalu akan menyasar pada siapa saja yang datang. Terutama untuk muka-muka yang asing.

Beruntunglah kami. Seorang petugas desa datang menemui. Kepadanya kami berbohong. Mengaku sebagai mahasiswa yang hendak melakukan penelitian tentang lobster. Baru setelah itu, suasana mulai mencair. a�?Bukan polisi ini. Mahasiswa,a�? teriak salah seorang warga meyakinkan temannya yang lain.

Kepada kami, warga pun mulai terbuka. Mereka mulai berani menceritakan tentang bagaimana benih Lobster ditangkap dan dikirim dari kampung mereka untuk kemudian diselundupkan.

Setelah melalui diskusi panjang, Lombok Post pun diperlihatkan bagaimana cara para nelayan itu menangkap dan merawat benih Lobster sebelum dibeli para pengepul yang juga gerak-geriknya tak bebas.

Siang akhir pekan lalu, di Batu Nampar, tak ada beda dengan kampung nelayan yang lain. Nelayan sudah pulang melaut. Semua warga pun menjalani aktivitas yang lazim. Di pantai perahu-perahu ditambat.

Namun, ketika koran ini ingin melihat bibit lobster, para nelayan itu kembali menatap curiga. Dengan segala rayu, akhirnya salah seorang warga luluh dan mau membawa kami ke rumahnya. Menyusuri gang kecil dengan aroma amis ikan sepanjang jalan, kami sampai di rumahnya.

Tak boleh kami masuk. Dimintanya kami menunggu di luar. Beberapa saat kemudian pria bertopi itu membawakan belasan ekor benih Lobster mutiara dalam sebuah baskom.

Lobster ini bening dan transparan. Ukurannya sangat kecil. Hanya seukuran jari telunjuk. Benih ini lebih mirip seperti benda plastik, tapi setelah dipegang bergerak dan terasa menggelitik.

Benih-benih lobster ini disimpan dengan baik dalam sebuah boks ikan dengan bahan styrofoam. Tersimpan rapi dengan suhu yang membuat benih lobster tetap hidup kendati dalam waktu berhari-hari. a�?Hati-hati,a�? kata sang pemilik khawatir benih lobsternya mati, kala kami memegangnya.

Lobster mungil yang bening itu adalah jenis benih lobster mutiara. Inilah bibit lobster yang paling mahal harganya dan menjadi komoditas paling diburu para nelayan. Harganya di pasaran pernah tembus hingga Rp 80 ribu per ekor.

Tapi itu dulu. Ketika penangkapan dan pengiriman bibit lobster tidak dilarang oleh pemerintah.

Benar. Sejak Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/2015 terbit, kehidupan nelayan tangkap di Batu Nampar memang berubah drastis. Tak ada lagi musim gembira alang kepalang. Tak ada lagi musim datang uang berlimpah. Tak ada lagi musim rezeki nomplok setiap hari.

Sejak aturan itu terbit, yang ada hanya susah. Bahkan, para nelayan yang mencari bibit lobster kini berkubang rasa takut. Mereka diubek-ubek aparat keamanan layaknya penjahat. Ditangkap, lalu benih-benih lobster yang mereka punya ditumpah atau dibuang. Kalau sudah begitu, keringat, rasa lelah tak berbuah berkah. Malah berubah jadi petaka.

Dulu, dalam sehari, nelayan bisa mengumpulkan uang jutaan rupiah. Tapi sekarang, sekadar mampu memenuhi kebutuhan hidup paling minim pun, para nelayan sudah sangat bersyukur.

Tentu saja tak cuma nelayan di Batu Nampar. Nyaris para nelayan penangkap lobster yang ada di pesisir selatan Pulau Lombok mulai dari Lombok Timur, Lombok Tengah hingga Lombok Barat mengamali hal serupa. Benih lobster yang ditangkap secara alami di lautan sebelum tahun 2015 telah menjadi penggerak ekonomi keluarga, kini tak ada lagi.

Seperti Wahyudi, salah seorang nelayan tangkap di Batu Nampar. Ia mengaku dulu bisa mendapatkan uang Rp 3 juta sampai Rp 4 juta setiap hari. Saat itu warga merasa sangat bahagia karena uang mengalir deras ke kantong mereka. Harga benih Lobster mutiara bisa tembus Rp 80 ribu per ekor. Jika bisa menangkap 100 hingga 300 ekor benih lobster mutiara setiap bulan, maka satu nelayan bisa mendapat penghasilan bersih Rp 24 juta sebulan. Itu setara dengan gaji ekskutif di kota besar macam Jakarta.

Sementara kalau jenis lobster lainnya seperti lobster pasir, biasanya lebih murah. Sebab, harga jualnya berkisar hanya Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu per ekor. Tapi, tentu saja tetap menguntungkan. Sebab, modal warga tak banyak.

Hanya modal keramba apung, lalu di bagian bawahnya diikatkan pocong, berbahan sisa karung bekas atau kertas semen. Lalu keramba apung itu dipasangkan genset untuk menyalakan lampu sepanjang malam. Paling banter hanya akan menghabiskan bensin tiga liter semalam.

Kalau sudah begitu, bibit-bibit alami lobster itu akan datang mendekat, dan berdiam diri di pocong-pocong di bawah keramba apung. Esok pagi, pocong-pocong itu tinggal diangkat. Lalu bibit-bibit lobster itu tinggal dipindah. Begitu seterusnya. Satu keramba kalau lagi untung bisa mendapat 200 hingga 300 ekor bibit dalam semalam.

Dulu pun menjualnya tidak susah. Para pengepul bahkan sudah datang kepada para nelayan. Lalu membayar berapapun bibit lonster yang mereka punya.

Tapi setelah ada pelarangan dan penangkapan, Wahyudi memilih berhenti menangkap benih Lobster. Apalagi beberapa saudaranya pernah ditangkap karena mencoba menjual benih lobster ke luar negeri.

Kini, harga komoditas ini semakin tidak menentu. Kadang mahal, kadang sangat murah. Biasanya bila ada penangkapan di bandara, maka para pengepul membeli benih dengan harga sangat murah. Belum lagi pencurian kerap terjadi, pocongnya diambil, alat-alat kerambanya dicuri dan sebagainya. Sehingga ia pun memilih menjadi nelayan tangkap biasa.

Sebelumnya ia punya dua buah keramba untuk menangkap sekaligus membudidayakan lobster, dari kecil hingga besar. Tapi akhirnya dijual setelah ada pelarangan. Satu unit keramba ia jual dengan harga Rp 6,5 juta. Rupanya langkah ini juga diikuti nelayan lain, sehingga jumlah keramba di Batu Nampar kini jauh merosot.

Kondisi ini memang membuatnya bekerja lebih aman dan tenang. Tapi keuntungan yang didapatkan tidak seberapa.

Meski dilarang, meski banyak yang ditangkap, tapi bisnis bibit lobster ini bukannya hilang. Bisnis ini justru tetap berdenyut. Banyak nelayan yang nekat menangkap dan menjual karena tergiur harga yang tinggi.

Salah seorang nelayan yang untuk kepentingan keselamatan tidak kami sebutkan namanya mengungkapkan, pengiriman benih lobster masih terjadi karena permintaan dari Vietnam sangat tingggi. Vietnam, negeri di Asia Tenggara ini memang adalah pasar utama bibit lonster dari NTB. Di sana, bibit lonster dikembangkanbiakkan, sebelum kemudian dilepas ke pasaran dengan harga selangit mencapai jutaan rupiah per ekor.

Semenjak ekspor bibit dilarang, para pembeli dari Vietnam berani membeli bibit dengan harga tinggi. Bahkan, asal ada barang dan bisa sampai di Vietnam, banyak di antara para pembeli di sana bersedia membayar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per satu ekor benih.

Diselundupkan

Karena termasuk aktivitas terlarang, maka pengiriman bibit lobster ke Vietnam ini adalah aktivitas melanggar hukum. Itu sebabnya, pengirimannya dengan cara diselundupkan.

Mata rantai pengiriman sangat tersistematis. Mulai dari para cukong di luar negeri yang berhubungan dengan para pemasok dari pusat, lalu ke pengepul dan ke para nelayan tangkap.

Dan satu-satunya cara agar bisa lolos adalah dengan bekerja sama dengan aparat keamanan. Untuk bisa mengirim benih lobster ke luar negeri, memang akan sangat mustahil bisa dilakukan tanpa keterlibatan oknum petugas.

Di setiap jalur pengiriman pasti ada oknum yang harus disogok agar bisa lolos. Kala pengiriman terjadi dimulai dari nelayan, oknum petugas balai karantina, oknum petugas Bandara, bahkan kadang-kadang sampai pramugari. Bila sudah pramugari membawa koper, maka tidak akan ada yang tahu dia membawa benih Lobster di dalamnya. a�?Berani main tembak-tembak para penyelundupnya,a�? ungkap sumber Lombok Post menyebut istilah uang pelicin pada para petugas.

Para pelaku sangat menyadari risiko yang dihadapai. Tapi karena tawaran harga tinggi sementara pengahsilan nelayan sangat minim, membuat mereka mengabaikan semua risiko. Penjara pun kadang tak dihitung.

Bahkan menurut dia, mereka yang ditangkap kini, tak lebih karena mereka tidak berani main tembak (sogok) agar bisa lolos.A� a�?Kalau yang ditangkap itu sudah risiko saja,a�? ungkapnya.

Mirip Mafia Narkoba

Dari Mahnan Rasuli, Lombok Post mendapat gambaran lebih detail soal jaringan penyelundup benih lobster ini. Kata Mahnan, jaringan penyelundupan bibit lobster ini mirip jaringan mafia narkoba.

Mahnan, tadinya adalah bagian dari permainan bisnis ini. Itu sebelum pria yang kini menjabat Kepala Desa Batu Nampar ini berhenti dari aktivitas ilegal tersebut.

Mahnan dulunya adalah bos kecil. Terakhir, ia pernah menyelundupkan bibit lobster ke Vietnam pada April-Mei 2015 lalu. Keuntungan yang diperolehnya sebesar Rp 2,4 miliar lebih. a�?Alhamdulillah, saya bisa bayar hutang, bangun rumah, beli mobil dan beli aset tanah,a�? katanya sembari meneguk segela kopi. Dan semenjak itu, ia mengaku pensiun.

Jaringan utama atau bandar besarnya, kata Mahnan ada di Vietnam. Ada dua jenis bibit lobster yang dicari yaitu, jenis lobster mutiara dan pasir. Yang paling mahal, jenis mutiara. Per bibitnya dihargai di tingkat pengepul Rp 10 ribu-Rp 25 ribu. Begitu sampai di Singapura dijual seharga 10 dolar per satu bibit lobster dan setelah sampai di Vietnam bisa lebih dari itu. Sedangkan, bibit lobster jenis pasir di tingkat pengepul dihargai sebesar Rp 5.000-Rp 6.500.

Pola penyelundupannya pun, diakui Rasuli cukup sederhana, namun sangat rahasia dan rapi. a�?Yang ditangkap selama ini adalah, pemain-pemain kecil saja,a�? katanya. Yang lolos kata dia, jauh lebih besar dari yang sudah ditangka-tangkap itu. Ibaratnya kata dia, yang ditangkap satu, tapi yang sudah lolos seribu.

Dia bahkan secara terang menyebut satu nama besar, yang hingga kini masih mengendalikan bisnis penyelundupan bibit lobster dari Pulau Lombok tersebut ke Vietnam.

Modus mereka macam-macam. Tapi, umumnya dengan bekerja sama dengan para petugas yang punya otoritas dan wewenang. Bahkan, juga bekerja sama dengan petugas di bandara. Tentu saja, dengan imbalan uang yang menggiurkan.

Tentu saja, Mahnan sedang tak ngecap. Tertangkapnya EP, oknum pegawai tetap PT AP I Lombok International Airport menjadi bukti sahih. Penangkapan ED membuka tabir, bagaimana jaringan penyelundup bibit lobster ini bekerja.

EP diciduk bersama SS, yang merupakan karyawan outsourcing pada sekolah penerbangan Lombok Institute Flight Technology. SS sendiri bernaung di anak perusahaan AP I yang disebut, AP Supports. Ia bekerja baru beberapa tahun saja.

Belakangan diketahui, ED dan SS bersaudara. Sehingga kian memuluskan aksi mereka.

EP sendiri sudah puluhan tahun bekerja di bandara. Bahkan semenjak bandara masih ada di Selaparang. Dia punya jabatan tinggi. Yakni Komandan Regu Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK). Dan terbukti, jabatan itu memudahkan EP melakukan operasi penyelundupan lobster.

Biasanya lobster akan diantar ke ED di lokasi dia berkantor sehari-hari yakni di unit PKP-PK, bandara. Unit ini ada di sisi dimur bandara. Terpisah cukup jauh dari terminal bandara.

Biasanya setelah barang di tangan, bibit lobster yang sudah dimasukkan dalam satu koper besar, akan di bawa ED ke bagian bagasi penerbangan, untuk kemudian koper mendapat label seperti bagasi normal lainnya.

Bedanya, karena dibawa ED dari unit PKP-PK, koper berisi bibit lobster itu tidak melalui pemindaian sinar x. Sehingga petugas keamanan bandara tak mengetahui apa isi koper tersebut. Kalau fase ini terlewati, sudah bisa dipastikan, koper berisi bibit lobster itu akan lolos. Lalu, atas jasanya, ED akan menerima pembayaran dari yang punya barang.

Ribuan Ekor Sekali Kirim

Satu koper biasanya isinya bisa ribuan ekor bibit lobster. David Tan, salah seorang penyelundup yang ditangkap polisi dan sudah divonis hukuman penjara misalnya, secara khusus merekrut orang di bandara untuk memuluskan aksi penyelundupannya.

Satu koper yang lolos, dia membayar Rp 5 juta pada orang yang direkrut warga negara Taiwan pemilik CV Lombok Lobster ini. Angka yang sangat menggiurkan tentu saja. Sekali kirim, satu koper bisa berisi 4.000 bibit lobster.

Y sendiri, yang membantu aksi penyelundupan David Tan sampai saat ini tidak diproses hukum. Kepala Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Satker Lombok Mubarak mengaku tidak mengusut tindak pidana Y, karena pihaknya sedari mula memang fokus pada otak dari penyelundup lobster.

a�?Yang kita incar itu memang pemodalnya alias otak dari penyelundupan bibit lobster ini,a�? kata Mubarak.

David Tan sendiri kata Mubarak, dalam sebulan bisa mengirim hingga 30 ribu bibit lobster. Biasanya bibit dikirim ke Batam. David punya jaringan di sana yang merupakan warga Singapura. Dari Batam, bibit lobster tersebut dibawa dengan kapal cepat ke Singapura. Dan dari sana, bibit dikirim ke Vietnam.

Selama 2016 ini sendiri, hingga November, Polda NTB melalui Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) telah menangani lima kasus penyelundupan lobster. Kasus pertama terjadi pada April dengan tersangka Lalu Damarwulan. Modusnya, pelaku membawa 35 kantong plastik yang masing-masing berisi 200 ekor bibit lobster melalui bandara. Jika ditotal, jumlah bibit lobster yang dibawa saat itu 7.000 ekor.

Berikutnya, di Juni, polisi mengamankan Agus Saputra yang kedapatan membawa 25 kantong plastik dengan total 6.250 benih lobster dengan ukuran 2-3 cm.

Kasus ketiga, pertegahan Oktober. Polisi memergoki Sumardi membawa benih lobster 3.400 ekor. Dilanjutkan dengan penangkapan Haerudin di bulan yang sama, yang kedapatan membawa 8.895 benih lobster. Ada juga kasus Jayadi karena membawa 49 bungkus berisi total 24.500 benih lobster, di akhir Oktober.

Kepala Balai Karantina Ikan Mataram Muhlin menjelaskan, bagi mereka yang menyelundupkan lobster siapa pun itu, maka akan dikenai hukuman penjara minimal enam bulan dan denda sebesar Rp 1,5 miliar. Dia mengutip utuh apa yang tertuang dalam Permen KP Nomor 1/2015.

a�?Karena, bibit lobster yang ukurannya di bawah 300 gram atau panjang kerapas di bawah 8 centimeter, dilarang ditangkap,a�? kata Muhlin.

Setelah serangkaian penangkapan itu, bisnis pengiriman haram bibit lobster ini pun akhirnya pasang surut. Meminjam istilah Mahnan, penyelundupan bibit lobster memang bisa membuat orang kaya mendadak, bisa juga miskin mendadak.

Ia menceritakan, salah satu warganya di Batu Nampar beberapa hari lalu, mendadak kaya karena berhasil menyelundupkan lobster ke Singapura. Bayangkan. Hanya butuh waktu dua hari saja, warganya itu bisa mengantongi uang Rp 250 juta.

Meski penuh risiko, aksi-aksi penyelundupan diyakini tak akan surut. Mahnan menyodorkan data. Kata dia, ada potensi 11 juta ekor bibit lobster yang ada di laut selatan Lombok. Kalau penangkapan hanya dibenarkan untuk kepentingan menyuplai kebutuhan budidaya lobster di dalam negeri, maka angkanya sangat kecil. Karena paling banter kebutuhan dalam negeri hanya satu juta bibit setahun. a�?Selebihnya, pasti dijual ke luar negeri,a�? katanya. (ili/dss/dit/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka