Ketik disini

Giri Menang

Berharap Gaji Sesuai Upah Minimum Kabupaten

Bagikan

Di tengah ekonomi yang terus menghimpit, nasib guru honorer tak kunjung membaik. Dengan penghasilan yang tak seberapa, mereka tetap mengabdi. Namun sampai kapan mereka bisa sejahtera?

***

HINGGAA�kini, nasib guru honorer tak kunjung membaik. Gaji yang mereka terima, rata-rata jauh dari kata layak. Padahal, jika dibanding guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) peran mereka untuk menyukseskan pendidikan tak kalah pentingnya.

Tak henti-hentinya mereka a�?berteriaka�?, menuntut perbaikan nasib. Sayangnya, harapan tinggal harapan. Toh buktinya, sampai kini nasib mereka masih saja dipenuhi ketidakpastian.
Keinginan mereka untuk diangkat sebagai PNS pun bertepuk sebelah tangan. Letih berharap, mereka kini beralih harapan. Setidaknya, pemerintah menelurkan regulasi soal gaji yang diterima per bulannya, sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK).

a�?Tidak perlu diangkat jadi PNS, yang penting upahnya bisa sesuai denganA�UMK,a�? harap Sukaisi salah satu guru honorer di SDN 1 Labuapi, kemarin (25/11).

Sukaisi sudah lima tahun menjadi guru honorer. Meski cukup lama mengabdi, nasibnya tak lebih baik. Sama seperti kebanyakan guru honorer lain di Indonesia.

Sebagai guru honor, setiap bulan dia menerima gaji Rp 500 ribu. Jumlah itu lebih baik ketika tahun pertama masuk. Saat mulai mengajar tahun 2012 lalu, Sukaisi mengaku menerima upah Rp 150 ribu per bulan.

Namun tanggung jawabnya sebagai guru, tetap sama dengan guru PNS. Tidak ada yang membedakan. Hanya status dan upah per bulan yang beda. Ia sebenarnya tidak terlalu kepikiran soal upah.

Namun himpitan ekonomi dan kebutuhan yang cukup tinggi, jelas menghimpitnya. Terlebih lagi, ia sudah memiliki keluarga.

a�?Pemerintah mestinya perjuangkan kesejahteraan kami yang masih banyak di bawah standar,a�? keluhnya.

Harapan Sukaisi, tidak muluk-muluk. Ia hanya berharap selaku guru honor, gaji yang diberikan sesuai UMK. Apalagi banyaknya guru honor yang telah bekerja lebih dari delapan tahun belum juga diangkat sebagai PNS. Harapannya menjadi PNS pun mulai mengerucut.

Sedangkan guru honorer lainnya Juniartandi Lukmantara harus bekerja sampingan guna menutup kebutuhannya. Setiap selesai mengajar, ia tak lantas bisa beristirahat seperti guru-guru lain yang bergaji besar atau berstatus PNS.

Masih tinggal bersama orang tuanya, Lukman harus mengajar di tempat lain ketika malam hari. a�?Malamnya saya ngajar ngaji di madrasah,a�? tuturnya.

Meski belum lama menjadi guru honorer, Lukman mengaku prihatin melihat nasib rekan seprofesinya yang sudah lama mengabdi namun tak kunjung diperhatikan.

a�?Kalau bisa jangan dibedakan lah. Karena jam dan tanggung jawab tidak beda kok,a�? pintanya.

Lukman baru dua setengah bulan menjadi guru honorer. Gaji yang diterima kini Rp 450 ribu perbulan.

Meski lebih baik dari guru honorer lainnya, tetap saja dengan upah segitu masih tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itu sebabnya Lukman harus memeras keringat dan memutar otak dengan bekerja doubel di tempat lain. (MUHAMMAD ZAINUDDIN, Giri Menang/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka