Ketik disini

Feature

Laju Sapi Berantakan Kalau Dukun Sudah Bertindak

Bagikan

Malea��an Sampi atau karapan sapi tak sekadar lomba mengendarai sapi yang tengah berlari. Tapi, budaya warga Lombok Barat ini adalah ritual keberkahan dan panggungnya pemilik ilmu hitam. Benarkah? Berikut laporannya.

***

TAP-tap-tap! Tok, tok, tok! Aih, ada iramanya. Memang tidak semerdu orkestra musik. Tapi yakin, itu hal yang sulit jika a�?pemainnyaa�� adalah hewan. Seperti sapi.

Malea��an Sampi, Melaia��an Sampi atau Pelaia��an Sampi. Logat, berbeda. Maksudnya, sama. Melarikan sapi. Melarikan di sini, bukan diartikan sebagai mengambil sapi, lalu membawanya lari. Namun, seni menggeber kecepatan berlari sepasang sapi karapan.

Kontes ini memang tidak mudah. Apalagi, dua ekor sapi harus bawa kerotok (lonceng kayu, Red) besar nan berat di lehernya. Di pundak dua ekor sapi terkekang sebatang kayu untuk menarik garu (sebuah alat membajak sawah).

a�?Kalau (sapi) cuma jalan biasa, mungkin tidak sulit. Tapi kedua (sapi), harus lari secepat-cepatnya,a�? kata Hairul Muhajirin, mantan Joki Melaia��an Sampi yang ditemui Lombok Post di lokasi.

Pria itu mengaku jauh-jauh datang dari Tanaq Beaq, Kopang, Lombok Tengah, hanya untuk melepas rindu pada olah raga ini. Maklum, Ia mengaku sudah lama pensiun. Walau begitu, rindu pada seni mengendarai sapi ini tidak lekang oleh waktu.

Disela-sela menonton malea��an sampi itulah, Hairul banyak bercerita. a�?Jadi sapi yang benar-benar terlatih saja yang bisa seperti ini,a�? imbuhnya.

Hairul ingin menegaskan, tidak semua sapi bisa dipakai dalam lomba malea��an sampi. Harus banteng alias sapi jenis kelamin jantan. Itupun sapi harus dikebiri dulu. Tujuannya, agar sapi itu fokus. Tidak ada syahwat ke sapi betina. Begitu juga, syahwat mengamuk dan berontak.

a�?Kalau sapinya sapi biasa, sudah pasti ngamuk, saling tarik. Bahkan mungkin kita (yang sedang menonton) sudah diseruduk sapi yang kalap dan panik,a�? ujarnya.

Masuk akal juga. Memang, jika diperhatikan sapi-sapi itu tampak nurut dan patuh. Tak ubahnya sapi robot. Disuruh lari, sapi itu melaju. Diminta berhenti, sapi-sapi itu seketika berhenti. Seperti punya rem cakram depan belakang. Benar-benar patuh.

a�?Di malea��an sampi, tidak ada lomba cepat-cepatan (balapan tercepat sampai finish). Yang dinilai itu, irama kaki, telinga sapi tetap kering dan ekor harus naik,a�? terangnya.

Jadi sekali lagi, malea��an sampi, bukan lomba ketangkasan berlari. Meski ada kewajiban menggeber lari sepasang sapi. Tantangan dari lomba ini justru pada keahlian mengendalikan sapi agar bergerak seirama. Lalu bergerak di lintasan lurus, tidak boleh belok-belok! a�?Kalau sudah bengkok (tidak lurus mengikuti lintasan), kalah sudah,a�? jawab dia.

Gerak langkah ke delapan kaki sapi itu harus seirama. Menjaga agar bergerak di lintasan lurus. Tentu ini luar biasa sulit melatihnya. Bayangkan, kalau dua ekor sapi itu punya ego masing-masing. Ada yang mau bergerak ke kiri, satu lagi bergerak ke kanan. Jalannya pasti, berantakan!

a�?Nah kalau sudah lurus lajunya yang dinilai selanjutnya adalah hentakan kaki dengan bunyi kerotok,a�? ulasnya.

Paduan suara antara hentakan ke delapan kaki sapi dan bunyi dari kerotok sangat menentukan hasil lomba. Jika suara yang dihasilkan saling mengisi indah, itu nilai plus dalam lomba.

a�?Clep, trok, clep, trok, nah pokoknya irama yang dihasilkan bagus, nilainya tinggi itu,a�? kata Hairul. Sambil menirukan suara kerotok dan kaki sapi dengan mulutnya.

Hairul bisa dikatakan cukup senior dalam seni malea��an sampi. Ia mengaku sudah melanglang buana, mengikuti berbagai lomba yang diadakan di berbagai tempat di Lombok. Bahkan, saking seniornya, ia bisa tahu mana pasang sapi yang baru dilatih, cukup mahir dan memang biasa langganan juara.

Karena itu, keahlian joki mengendarai karapan sapi tidak terlalu dibutuhkan. Yang penting adalah berani! a�?Tua, muda dan anak-anak bisa jadi joki. Waktu tidak jadi catatan nilai,a�? terangnya.

Sebenarnya secara alamiah, ekor sapi akan naik kalau hewan itu sudah dipaksa berlari sekencang-kencangnya.A� Para joki pun membekali diri dengan keahlian menggeber lari karapan sapi. Namun yang paling merepotkan dalam lomba, kalau dukun-dukun sudah mulai digunakan untuk mengacaukan lomba.

a�?Itu memang sisi lain ya. Tapi diakui atau tidak, mereka (dukun) bisa membuat lari sapi yang terlatih jadi berantakan,a�? ungkapnya.

Hairul mengaku kerap dijahili para dukun. Sepasang sapi yang terlatih, kerap dibuat sempoyongan dan lari pontang-panting keluar dari lintasan. Kalau sudah seperti itu, maka tugas joki di sini bertambah. a�?Harus bisa menangkal, pakai (mantra) sengadang-adang,a�? bebernya.

Kalau sudah seperti ini, dimensi lomba malea��an sampi sudah dua dimensi. Dimensi keterlatihan pasang sapi dan mistis. Percaya atau tidak, kata Hairul, gangguan ilmu hitam yang ingin membuat lari sapi terlatih memang kerap kacau. Bahkan, gerbang lintasan yang harus dilewati sapi, kerap tidak bisa terlintasi.

a�?Ada yang melenceng jauh, hingga menabrak gerbang. Padahal coba lihat saat latihan seperti saat ini, sapi-sapi itu tampak mudah kan melewatinya. Tapi kalau sudah di arena, auranya bisa berbeda,a�? ujarnya.

Sore itu, kami memang tidak sedang melihat lomba. Puluhan pasang karapan sapi, tengah dilatih di sebuah sawah milik warga di Desa Dasan Tereng, Narmada, Lombok Barat. Diantaranya, nampak juga anak-anak berlatih jadi joki.

a�?Jadi tempat malea��an sampi ini, ada berkahnya juga. Hasil panen bisa dua kali lipat dari biasanya,a�? terang Hairul.

Karena itu, undangan bagi para penyuka malea��an sampi agar mau melatih sapinya di sawah milik sesorang banyak berdatangan. Tentu saja, tidak hanya mengundang. Pemilik sawah juga harus menyediakan a�?ala kadarnyaa�� sebagai ritual kesuburan bagi sawah. a�?Itulah kepercayaan dan tradisi yang kami yakini,a�? tutupnya.(LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Lobar/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka