Ketik disini

Kriminal

Penanganan Pidana Anak Harus Dipercepat

Bagikan

MATARAM -A� Kapolda NTB Brigjen Pol Umar Septono merespon kabar lambanya penanganan sejumlah kasus yang melibatkan anak-anak sebagai tersangka. Ia menegaskan proses hukum anak yang terlibat pidana bisa dipercepat.

a�?Mempercepat proses hukum anak itu sudah prioritas, karena itu kenapa ada unit perlindungan perempuan dan anak (PPA),a�? kata Umar.

Terkait masih lambannya proses hukum terhadap anak, yang kerap dilakukan penyidik, Umar mengaku belum mengetahuinya. Dia mengatakan, sejauh ini belum ada laporan terkait masalah tersebut.

a�?Kalau sampai sekarang, belum ada masukan terkait itu,a�? ungkap Umar.

Meski demikian, dia berjanji akan segera mengecek A�apakah masih ada penyidik yang lamban dalam memproses hukum anak-anak yang terlibat tindak pidana. Sehingga, nantinya hak anak yang berproses hukum bisa terpenuhi.

a�?Nanti saya akan cek, termasuk perkembangan anak-anak yang dititip di Panti Paramita,a�? tandasnya.

Sebelumnya, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB menyebut banyak anak yang masa penahanannya lebih dari 15 hari. Hal tersebut, menurut Koordinator Divisi Hukum dan Advokasi LPA NTB Joko Jumadi telah menyalahi aturan.

a�?Kalau mau ditahan lebih lama, itu harus memakai alasan khusus, misal ada ancaman terhadap anak,a�? kata Joko.

Dengan lamanya masa penahanan, hak anak seolah-olah dirampas. Terutama bagi mereka yang masih berstatus pelajar. Sebab masa penahanan yang lama, secara langsung akan membuat proses hukum mereka berada dalam ketidakpastian.

a�?Kalau sudah begini, ngambang proses hukumnnya mereka ini,a�? katanya.

Yang menjadi sorotan LPA, terkait masalah proses hukum yang dijalani. Kalau cepat diadili, apakah divonis penjara atau pembinaan di paramita, tentu anak yang masih pelajar, bisa mengakses kembali pendidikan.

Sejauh ini, berdasarkan advokasi dari LPA, masih banyak anak yang ditahan lebih dari 15 hari. Bahkan ada anak yang ditahan sampai empat bulan lamanya, namun belum juga diproses hukum.

a�?Kita sering ingatkan. Kita tanya juga apa masalahnya, kemudian kita bantu agar mereka kembali mendapat haknya sebagai anak,a�? jelasnya.(dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka