Ketik disini

Opini

Ironi Kesejahteraan Guru Madrasah

Bagikan

ANGGAP saja tulisan ini sebagai sebuah kado istimewa untuk para guru madrasah yang mendedikasikan semua potensinya untuk negeri. Usaha mencerdaskan tanpa mengenal lelah, namun ketika guru madrasah bicara kesejahteraan harap dimaklumi bahwa itu sebuah kewajaran bukan persoalan ikhlas atau tidak ikhlas. Kesejahteraan bagi mereka dan kita semua adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh pemerintah.

Pendidikan di Indonesia saat ini sedang a�?mempersoleka�? diri dengan maksud lebih menarik dilihat walaupun hanya dari kaca mata hitam dunia, terlihat sedikit suram yang penting tetap bisa melihat. Perputaran waktu yang ditandai persaingan terus menerus dan menunjukkan keperkasaan yang seolah tidak bisa lagi untuk dibendung apalagi ditolerir telah mengantarkan kita pada era globalisasi.

Era globalisasi berkerangka tulang persaingan bebas, berdarah daging kekuatan SDM dan rohnya adalah mutu pada berbagai aspek tatanan. Taruhannya adalah sejauh mana SDM kita siap dan disiapkan untuk mengisi kerangka persaingan bebas antar Negara tersebut. Untuk menjawabnya, mutu SDM mutlak harus dikembangkan. Prioritas pengembangan SDM tentu dari jalur pendidikan, dan semua warga dunia sepakat bahwa dunia pendidikan adalah kunci dari segala kunci kemajuan sebuah negara.

Dalam rangka mencerdaskan bangsa, saat ini Indonesia memiliki tiga kementerian yang menangani pendidikan yakni kemenristek, Kemendikbud dan Kemenag. Kementerian yang terakhir ini adalah kementerian yang menaungi para guru madrasah. Guru madrasah memiliki tanggung jawab yang sama dan sama pentingnya dengan guru pada umumnya, namun berbeda pada tingkat kesejahteraannya.

Pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat dengan guru, tanpa guru maka pendidikan tidak ada apa-apanya, sedangkan kinerja guru sangat erat hubungannya dengan kesejahteraan, tanpa kesejahteraan maka guru tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu, ketika negara menuntut kualitas pendidikan, maka negara harus pula memperhatikan kesejahteraan gurunya. Pada titik inilah pendidikan Indonesia mendapat sedikit masalah, kesejahteraan guru madrasah sangat jauh dari harapan, ibarat pepatah mengatakan jauh api dari panggangnya.

Tidak berubahnya perilaku guru, atau bahkan tidak berkembangnya mutu pendidikan meskipun guru sudah berkali-kali ditatar, bukan karena guru bodoh. Tetapi mereka mempunyai persoalan pelik berkaitan dengan kesejahteraannya, yang selama ini telah membonsai profesionalismenya, demikian dikatakan oleh Winarno Surachmad.

Berbicara kesejahteraan guru madrasah rasanya tidak adil ketika pembicaraan hanya sampai pada kesejahteraan guru saja tanpa menyinggung anak isteri atau keluarga yang menjadi tanggung jawabnya di rumah. Oleh karena itu, semestinya tanpa terkecuali semua guru madrasah menerima gaji, honor dan tunjangan sebagaimana diterima oleh para guru pada umumnya. Mungkinkah demikian? Sangat mungkin, bila negara ini mau memperbaiki kesejahteraan guru madrasah.

Kesejahteraan guru madrasah sangat memprihatinkan, sebagai suami dari guru madrasah, tahu persis berapa yang diterima oleh guru-guru madrasah. Akan tetapi apa yang diterima oleh ibu dari dua anak tersebut jauh lebih cukup dibanding rekan guru yang lain di madrasah yang sama. Kalau boleh terbuka, perbulan menerima 250.000-300.000, tetapi pada honoran yang sama ada guru madrasah yang hanya menerima 150.000-200.000 sesuai dengan jam mengajar. Lebih parahnya lagi ada guru madrasah yang menerima honor dengan nominal yang kurang, bahkan honorannya pun satu kali dalam tiga bulan. Artinya guru madrasah berserta keluarganya harus berpuasa selama tiga bulan. Sungguh ini sebuah ironi pendidikan di Indonesia, negara yang kaya raya.

Meskipun demikian, apa yang diterima oleh guru madrasah saat ini patut disyukuri bila merekam belasan tahun yang lalu sebagaimana terpublis di Kompas, 28 April 2000 Di Mungkid Magelang, guru wiyata bakti (honorer) menerima gaji yang nilainya sangat melecehkan profesi guru dan sangat tidak manusiawi, berkisar Rp. 15.000, sampai dengan Rp. 50.000 per bulan. Pada tahun yang sama juga diberitakan di Haluan, 25 November 2000 bahwa honor guru lebih rendah dibanding dengan gaji tukang parkir di Brunai Darussalam.

Gaji guru pemula (sarjana) di Malaysia mencapai kurang lebih enam juta rupiah (Singgalang, 24 April 2001) per bulan, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan gaji utama professor yang senior sekalipun. Gaji utama professor per bulan di Indonesia tidak jauh beda dengan gaji sopir Bus Trans Jakarta. Di Australia, dua bulan gaji guru dapat digunakan untuk membeli mobil yang masih layak jalan untuk kerja mereka.

Melihat kenyataan demikian, jangan heran dan jangan salahkan guru madrasah a�?mencuria�� kesempatan dalam kesempitan yakni banyak diantaranya masuk madrasah sambil berjualan jajan, berjualan Es, berjualan tahu, tempe dan sejenisnya. Ada juga guru madrasah yang menjadi pengojek sepulangnya dari madrasah. Semua ini menjadi gambaran bahwa apa yang diterimanya di madrasah sangat tidak mencukupi kebutuhannya bersama keluarga. Jauh dari kata sejahtera yang cirinya: aman, sentosa dan makmur, selamat (terlepas dari segala macam gangguan).

Selama ini, guru madrasah selalu dihantui dengan kesejahteraannya. Mungkin setiap kali memegang spidol, penggaris, buku paket dan absen, setiap kali itu pula guru madrasah merasa terhantui oleh makhluk yang namanya a�?kesejahteraana��. Siapa saja yang merasa dirinya terhantui maka jangan harap daya konsentrasinya akan fokus terhadap apa yang dilakukan. Demikian pula terhadap guru madrasah, kualitas pembelajaran yang dilakukan guru madrasah jauh dari harapan, jangan-jangan berakar dari kuantitas kesejahteraan mereka.

Sebagai penutup tulisan ini, harapannya adalah pemerintah boleh menuntut kualitas pendidikan madrasah namun harus diiringi pula dengan kuantitas kesejahteraan para guru madrasah. Bila realisasi 20 persen untuk pendidikan dari APBN belum terealisasi, maka wajib segera direalisasikan. Bila pun prosentase tersebut sudah dilakukan, semoga epektif dan tepat sasaran. Selamat hari guru, untuk guru-guru bangsa.

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka