Ketik disini

Headline Metropolis

Maaf, Guruku Gaptek

Bagikan

Sukacita peringatan Hari Guru pekan lalu menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi para pendidik di NTB. Terutama untuk memastikan para guru melek teknologi. Problem utamanya, 63 ribu di daerah ini ternyata sangat tak karib dengan teknologi. Padahal teknologi adalah prasyarat utama untuk mereka bisa memaksimalkan penerapan Kurikulum 2013 atau K-13. Akhirnya kesannya percuma ada Rp 2 triliun dana sertifikasi guru digelontorkan untuk NTB setahun. Tapi, hanya untuk menghasilkan Pak Guru dan Bu Guru yang mudah mati mati gaya.

***

PADA sebuah siang nan menyengat tengah Juni lalu, pesan singkat masuk. Menulis pesan di sana seorang kepala sekolah sebuah SMP ternama di Lombok Barat. Dia guru senior. Taksiran sementara, usianya mungkin sudah 55 tahun.

Para guru banyak menoleh kepadanya. Terutama soal meminta pendapat. Meminta nasihat. Juga para kepala sekolah juniornya, kerap pula meminta wejangannya. Pendek kata, dari sisi pengalaman dan ilmu mendidik, dia adalah panutan.

Kala itu, pria yang sudah menjadi kepala di tiga sekolah tersebut punya hajat. Ingin kegiatan studi banding Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) yang tengah berlangsung di sejumlah kota di Jawa Timur bisa dipublikasikan di media.

Tentu saja, kegiatan itu layak muat. Apalagi memang tujuannya adalah ingin agar inovasi-inovasi pendidikan di Jawa Timur bisa jua direplikasi di NTB. Maka kepada Pak Kepsek, janji wawancara via sambungan telepon disepakati. Sementara untuk kepentingan foto, agar bisa dikirim melalui email, atau melalui aplikasi WhatsApp di android atau iphone.

Lama ditunggu, tak juga muncul kesanggupan untuk janji yang terakhir. Namun, sebuah pesan baru akhirnya masuk.

Olala, inilah ternyata penyebabnya. Ternyata Pak Kepsek, mengaku tidak punya email. Meski punya smartphone android keluaran terbaru dari brand ternama, ternyata Pak Kepsek juga tak punya aplikasi WhatsApp.

a�?Coba nanti saya minta teman untuk mengirimkan foto yang telah diambil dari smartphonenya ya..,a�? katanya usai wawancara via sambungan telepon. Foto dijanjikan dikirim tak lama selepas wawancara itu usai.

Jam demi jam, foto tak kunjung masuk. Di cek berulangkali di emali, tak ada. Di cek di aplikasi WhatsApp, juga tak nongol. Hingga esoknya, gambar yang ditunggu, tak juga muncul. Foto-foto yang ditunggu itu baru didapat setelah rombongan kembali ke NTB.

Itu pun setelah koran ini bertandang ke ruang kerja Pak Kepsek, dan mengcopy file foto tersebut ke flashdisk dari komputer di ruang kerjanya. a�?Saya tak tahu terkait IT ini,a�? aku Pak Kepsek itu. Dia mengulum senyum. Ketidaktahuannya pada IT rupanya yang menjadi musabab foto tak kunjung terkirim dari Jawa Timur.

Lalu siapa yang memindahkan file foto dari kamera ke komputer kerja? Ah, menyesal koran ini tidak menanyakannya kala itu.

Tapi inilah pokok soalnya. Guru gagap teknologi. Masak iya? Anda boleh percaya boleh juga tidak. Tapi, lihatlah data yang digelontorkan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) NTB. Kepala LPMP NTB H Mohammad Irfan mengungkapkan, total di NTB saat ini ada 73.761 guru.

Namun, dari jumlah itu, tidak semuanya melek teknologi. a�?Yang melek teknologi hanya sekitar 10 ribu orang guru,a�? kata Irfan. Itu berarti total masih ada 63.761 ribu guru di NTB justru tak kenal sama sekali dengan teknologi.

Irfan tentu saja tak ngarang. Dia mengungkapkan, data guru-guru yang tak gaptek itu diketahui pihaknya setelah menerima rekap hasil Uji Kompetensi Guru (UKG). Dari hasil UKG ini, Irfan memastikan terlihat guru jebloknya di sisi mana.

Pada UKG ini kata dia, ada tiga penilaian. Yakni pedagogik, keilmuan dan propesionalisme. a�?Hasil UKG ini, ternyata keilmuan khususnya di pengetahuan IT guru sangat kurang,a�? ujarnya.

Ada beberapa kendala yang dialami tenaga guru dalam penguasaan pengetahuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Salah satunya sekolah belum memiliki fasilitas TIK lengkap. Sehingga, tenaga pengajar kurang dalam memenuhi kebutuhan praktikum teknologi.

Selain itu, faktor usia tenaga pengajar. a�?Ini sangat berpengaruh terhadap pengetahuan guru terhadap teknologi. Guru yang usinyaA� 50 tahun, tentu pemahaman mereka terhadap IT sangat lamban. Dan umur begitu, terkadang seorang guru malas belajar IT,a�? terangnya.

Irfan juga membeberkan, kemampuan guru menggunakan IT bisa dilihat dari program guru pembelajar.A� Guru pembelajar ini adalahA� guru yang diberikan modul pembelajaran sistem online.

Empat kompetensi dan mata pelajaran (mapel) masuk dalam program ini yang nantinya merekaA� diuji secara online menggunakan aplikasi yang langsung diawasi para mentor. a�?Guru yang sebagai mentor inilah yang saya rasa bisa menggunakan IT. Sementara yang lainnya belum bisa,a�? ujarnya.

Tentu saja, guru yang gagap teknologi ini adalah sebuah bermasalah. Mau tahu sebabnya? Karena kemampuan guru dalam menguasai TIK sangat diperlukan dalam penerapan sistem Kurikulum 2013 (K-13). Tanpa kemampuan TIK, sulit membayangkan guru bisa menerapkan K-13 dengan maksimal.

Penerapan untuk K-13 kuncinya terletak pada kemampuan guru mempersiapkan media pembelajaran. Salah satu bentuk pembelajaran yang akan dilakukan dalam K-13 nantinya, para pelajar akan diajarkan menggunakan aplikasi untuk memberikan daya tarik belajar. a�?Bagi guru yang belum menguasai teknologi, mereka harus lebih giat belajar menggunakan komputer,a�? kata Irfan.

Ia mengatakan, jika guru menguasai IT maka akan mudah melaksanakan proses belajar mengajar. Ia mencotohkan, guru bisa mengajar IPA dan mata pelajaran lainnya menggunakan IT. a�?Ini juga akan memotivasi siswa untuk belajar,a�? tandas dia.

Ke depan, pola mendidik anak juga akan berubah. Ia menjelaskan, saat ini guru diharapkan mengawalA� anak belajar selama delapan jam. Kondisi ini tentunya guru bukan hanya dituntut memiliki empat kompetensi seperti kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.

Melainkan, mereka juga dituntut memiliki kompetensi keterampilan seperti IT, kesenian, dan sebagainya. a�?Guru kan hampir seharian bersama siswa jika melihat wacana Mendikbud ini,a�? sebut pria berkumis ini.

Delapan jam bersama siswa, akan menjadi masalah besar bagi guru yang tidak punya inovasi pembelajaran. Sehingga menepikan IT dalam pembelajaran, untuk menjadi pembenaran agar guru tak melek teknologi, tentu saja adalah pilihan tak masuk akal.

Itu sebabnya, dia dia menekankan, agar ke depan IT harus menjadi kebutuhan setiap guru. IT ini harus dijadikan sebagai kebiasaan dalam melaksanakan prsose belajar mengajar.A� Soal anggaran, harusnya kata dia tidak jadi soal bagi para guru.

Saat ini kata Irfan, anggaran pemerintah pusat memang terbatas untuk kebutuhan pelatihan IT para guru. Tapi, itu sama sekali bukan tameng bagi para guru untuk membenarkan mereka tidak mengakrabi teknologi. a�?Ada dana sertifikasi guru untuk membeli fasilitas dalam menunjang karir,a�? sebut dia.

A�A�A�A�A�A�A� Problemnya, tidak banyak dana sertifikasi yang digelontorkan pemerintah dipakai para guru untuk menopang karir mereka. Paling banyak, dana itu justru dipakai untuk kebutuhan-kebutuhan komsumtif.

A�A�A�A�A�A�A� Padahal, dana yang digelontorkan pemerintah untuk sertifikasi guru di NTB jumlahnya sangat banyak. Total untuk membayar sertifikasi 30 ribu guru di NTB, pemerintah menggelontorkan anggaran Rp 2 triliun. Dana ini dicairkan tiap triwulan. Besaran TPG masing-masing guru merujuk pada gaji pokok mereka. Namun, untuk guru swasta yangs udah mengantongi sertifikasi, mereka menerima TPG sedikitnya Rp 1,5 juta sebulan.

TPG Loteng

Di Lombok Tengah, dana TPG untuk triwulan empat saja nilainya Rp 54,804 miliar. Di sana ada 4.168 guru yang sudah mengantongi sertifikasi. a�?Triwulan sebelumnya, nilainya sama,a�? kata Kepala Seksi Dikdas Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Loteng Mastah pada Lombok Post, kemarin (28/11). Berarti dalam setahun Lombok tengah 219,216 miliar.

Mereka yang menerima tunjangan profesi tersebut terdiri dari guru TK 211 orang, guru SD 2.506 orang, guru SMP 824 orang, guru SMA 341 orang, guru SMK 162 orang dan pengawas sekolah sebanyak 124 orang.

Dari 4.697 guru PNS, tambah Mastah ada 529 guru yang belum mendapatkan tunjangan profesi. Dengan alasan, belum memenuhi syarat. Sementara, jumlah guru tidak tetap sebanyak 3.599 orang.

Kendati demikian, pihaknya menekankan bahwa setiap tahun dana tunjangan profesi mengalami kenaikan, disesuaikan dengan jumlah guru yang memenuhi syarat. a�?Kalau di tahun 2015 lalu, total dana tunjangan profesi gurunya sebesar Rp 190,211 miliar,a�? katanya.

Sementara dari data dibagian keuangan Setda Loteng dan PGRI Loteng, anggaran tunjangan profesi guru tahun 2014 sebesar Rp 154 miliar. Sedangkan pada 2013 Rp 138 miliar.

Sekretaris Dikpora Lalu Dipta mengatakan, yang harus dipenuhi guru adalah mengikuti uji kompetensi guru (UKG), pendidikan latihan profesi guru (PLPG) dan beban mengajar 24 jam. Kecuali, kepala sekolah (kasek) enam jam. a�?Proses pembayarannya per triwulan,a�? kata Ketua PGRI Loteng tersebut.

A�TPG di Lotim

Sementara di Lombok Timur, dari tahun ke tahun jumlah dana TPG terus meningkat. Tahun ini, TPG di Gumi Patuh Karya mencapai Rp 364,462 miliar. Jumlah ini bertambah dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 319,906 miliar.

a�?Penambahan anggaran tersebut langsung dari pusat begitu juga dengan dananya,a�? kata Kapala Bidang Anggaran Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (PPKA) Lotim Hasni.

Saat ini, semua guru telah menerima tunjangan profesi atau sertifikasi triwulan ketiga. Pencairan terakhir diungkapkan Hasni sebesar Rp 56 miliar pada Bulan Oktober lalu. Kini, pencairan triwulan keempat dikatakan Hasni kemungkinan akan dilakukan Bulan Desember.

Untuk jumlah pencairan tiap triwulan, dikatakan Hasni jumlahnya berbeda-beda. Karena jumlah guru yang disertifikasi bisa saja bertambah dan berkurang tiap triwulannya. a�?Karena kan nanti ada yang pensiun, ada yang meninggal dan ada juga guru yang baru disertifikasi,a�? jelasnya.

Kasi Akutansi Bidang Anggaran Dinas PPKA, Gazali menambahkan, selama ini, uang tunjangan sertifikasi selalu dikirim pusat sesuai waktu yang telah ditentukan. Jumlahnya sudah diestimasikan dengan jumlah guru PNS yang ada di Lotim. Dari data Dikpora Lotim, jumlah guru PNS di Lotim mencapai sekitar 7.600 guru. Namun, tidak semua telah disertifikasi. a�?Jumlahnya variatif.

TPG di KLU

Sedangkan di Lombok Utara, realisasi dana TPG pada 2016 mencapai Rp 27 miliar dari total Rp 33 miliar. Jumlah ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

a�?Jumlah yang kita terima tergantung data yang dikirim Dikbudpora ke pusat. Tapi setiap tahun ada kenaikan,a�? ujar Plt Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Kas Daerah (DPPKAD) Lombok Utara Haerul Anwar.

Dijelaskannya, untuk sisa Rp 6 miliar yang belum disalurkan kepada guru, pihaknya masih menunggu transfer dana tersebut dari pusat. Karena seluruh anggaran untuk tunjangan profesi guru ini bersumber dari APBN. a�?Kemungkinan Desember nanti sisanya sudah ditransfer pusat,a�? katanya.

Untuk pencairan tunjangan profesi guru ini dilakukan per triwulan sekali. Sedangkan pendataan dilakukan Dikbudpora Lombok Utara sementara DPPKAD yang melakukan transfer tunjangan profesi guru ke rekening masing-masing. a�?Kalau apa kriteria yang dapat saya tidak paham, Dikbudpora yang tahu,a�? pungkasnya.

TPG di Lobar

Sementara di Lombok Barat, dana TPG tahun ini sebesar Rp 162,457 miliar. Namun yang sudah ditransfer ke kas daerah baru Rp 132 miliar.

Pada triwulan pertama periode Maret lalu, anggaran pembayaran TPG yang ditransfer mencapai Rp 28,157 miliar untuk 2.471 guru. Rinciannya, TK 61 orang, SD 1.732 orang, SMP 522 orang, SMA 127 orang, dan SMK 29 orang.

Sedangkan pada triwulan kedua pada Juli, alokasinya naik hingga Rp 32,822A�miliar untuk 2.888 orang. Rinciannya, TK 74, SD 1.755, SMP 563, SLB 7, SMA 251, SMK 149, Pegawai Dikdas 67 dan Pegawai Dikmen 22 orang.

Kemudian pada tahap kedua, menyusul pemeritah pusat mengeluarkan SK kepada lima orang guru. Dimana 3 guru SMP dan 2 SMA. Dengan jumlah anggaran yang dikucurkan Rp 47,022 juta.

Sementara triwulan ketiga September, alokasi anggaran yang dikeluarkan bertambah menjadi Rp 33,133 miliar. Untuk 2.954 guru dengan rinciannya, TK 74, SD 1.753, SMP 568, SLB 12, SMA 268, SMK 191, Pengawas DikdasA� 67 dan Pengawas Dikmen 21.

Kabid Pengelola Keuangan Daerah Lobar M AdnanA� mengatakan, meskipun pemerintah pusat belum mencairkan hingga Rp 130 miliar, penyaluran TPG hingga triwulan keempat masih aman. a�?Untuk sementara kekurangannya kita copot dari silpa tahun lalu,a�? terangnya.

Terpisah, Seketertaris Bermutu Dikbud Lobar L Anugrah Santana menjelaskan, naiknya nilai TPG karena bertambahnya jumlah penerima dan kenaikan gaji pokok guru PNS secara berkala.

Guru di Lobar yang lulus sertifikasi setiap tahunnya terus bertambah. Disamping itu juga akibat program penyetaraan guru non PNS ke PNS. a�?Ini yang membuat anggaran TPG terus membengkak,a�? jelasnya.

Anugrah menjelaskan, golongan penerima paling TPG adalah guru golongan III A. Jumlah yang diterima per bulan Rp 2.868.000. Sementara paling banyak adalah golongan IV B, menerima Rp 4.384.000 per bulan.

Tapi Anugrah memastikan, tidak semua guru yang sudah sertifikat mendapat TPG. Untuk mendapat TPG sendiri harus melalui proses verifikasi dan validasi data sesuai jam mengajar. a�?Jadi harus mengajar 24 jam per minggu,a�? tandasnya.

Jika dibanding anggaran TPG dua tahun terakhir. Tahun ini peningkatannya tidak terlalu tinggi. TPG Lobar 2015 Rp162,246 miliar dan TPG 2014 Rp 120,522 miliar.

Kebutuhan Konsumtif

Melihat besaran anggaran yang demikian luar biasa, harusnya tak perlu ada lagi masalah soal ketiadaan biaya untuk meningkatkan kemampuan IT para tenaga pendidik.

Namun, faktanya tak semudah itu. Guru rupanya banyak menggunakan dana sertifikasi itu untuk kepentingan menopang kebutuhan konsumfit mereka. Banyak di antara mereka yang memanfaatkannya untuk membeli kendaraan. Bahkan mobil.

Di Suzuki Mobil misalnya. Selama setahun hampir 30 persen pelanggan mereka adalah para guru di NTB. Mereka membeli kendaraan dengan skema kredit. a�?Program tahun ini kami belum bisa pastikan karena program masih berjalan. Tetapi bila melihat program tahun 2015 dalam sebulan program berlaku untuk guru laku hampir 20 unit,a�? kata Branch Manager PT Cakra Mobilindo M Edy Khairuddin pada Lombok Post kemarin.

Pelanggan guru ini memang tersebar di seluruh NTB. Bahkan antara Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa marketnya cukup menjanjikan untuk bisa dikembangkan.

Bahkan kata dia, guru adalah peluang bisnis yang bisa terus digarap sampai beberapa tahun kedepan. Adanya sertifikasi guru menjadi salah satu peluang market ini terus berkembang. a�?Program kami yang untuk guru ini sebenarnya mengaju pada sertifikasi yang didapatkan guru,a�? akunya.

Menurutnya selama ini memang cukup unik guru-guru yang membeli mobil ini. Sebab, diketahui saat membeli tidak langsung mengatakan kalau berprofesi sebagai guru. Kebanyakan menggunakan profesi sanak keluarga dalam pengajuannya atau paling dalam profesi mengatakan PNS tidak spesifik guru. a�?Kami tahu pelanggan ini guru saat kami melakukan survey,a�? ujarnya.

Namun, hal ini tidak mengganggu realisasi guru untuk bisa mendapatkan produk Suzuki Mobil yang diinginkan. Jenis mobil yang diambil memang bervariasi baik keluaran baru maupun ready stok yang disiapkan Suzuki Mobil. a�?Pembelian oleh guru ini hampir merata,a�? terangnya.

A�Diakui PGRI

Terpisah, Ketua PGRI NTB H Ali Rahim tak menampik kalau penguasaan IT ini menjadi problem guru di NTB. Itu sebabnya kata dia, dalam waktu dekatA� ini, PGRI NTB akan fokus pada upaya ini. PGRI bahkan sudah menentukan pihak yang akan digandeng. Salah satunya perusahaan telekomunikasi. Ada seminar sekaligus memberikan keterampilan memahami TIK. a�?Guru harus melek IT 2017 mendatang,a�? janjinya.

Mengenai jumlah guru gaptek, Ali mengaku tidak tahu berapa jumlah pastinya. Namun, perkiraan PGRI jumlahnya cukup besar. Saat ini jumlah guru di NTB sebanyak 73.761 dengan rincian 28.796 sudah disertifikasi dan 44.965 orang belum disertifikasi. a�?Kita harus menuju akselerasi pendidikan,a�? sebutnya.

Namun, menolak mengaitkan dana TPG dengan kemampuan guru pada IT. Ali mengatakan, tidak ada hubungannya. Ia menyebutkan, sertifikasi guru ini menjadi hak guru. Dana ini mau diapakan terserah guru. a�?Tidak ada yang bilang TPG itu untuk peningkatan IT guru,a�? kata dia.

Namun, beda halnya diungkapkan Ketua PGRI Lobar Saleh Sayuti. TPG kata dia disalurkan untuk peningkatan kompetensi guru. Dana sertifikasi ini harus disisihkan untuk peningkatan kompetensi guru. a�?Beli laptop dengan dana TPG menjadi keharusan guru,a�? kata Saleh.

Guru harus menyisakan dana TPG untuk kebutuhan dirinya dalam menguasai IT. Seperti membeli laptop, modem, dan sebagainya. a�?Bukan untuk belanja semaunya. Tapi disisihkan untuk peningkatan kompetensi,a�? ujarnya.

Sejauh ini lanjut Saleh, banyak guru di Lobar masih gaptek. Oleh sebab itu, ia meminta guru menyisakan pendapatan dari TPG untuk belajar IT. Jika tidak maka guru akan ketinggalanA� kemampuan IT dengan anak didiknya. Apalagi saatA� ini semua menggunakan sistem online. Apalagi data guru juga dikirim secara online. a�?Bagaimana jadinya jika guru tak bisa membuka laptop,a�? imbuhnya.

Sementara itu Kabid Dikdas Dikbud LobarA� Hairuddin mengatakan, TPG bukan hanya diperuntukkan untuk kebutuhan hidup saja. Namun, 10 persennya harus disisihkan untuk peningkatan kualitas. a�?Guru harus bisa meningkatkan kualitas dari dana sertifikasi,a�? tegasnya.

Ia mengutarakan, dana TPG ini mestinyaA� bisa dimanfaatkan guru membeli buku atau laptop guna meningkatkan kualitas. Selain itu, guru juga bisa menggunakan dana sertifikasi ini melanjutkan studi S2 atau S3. Jika tidak ada korelasi TPG pada peningkatan kompetensi guru maka pemerintah juga akan berpikir nantinya dalam menyalurkan TPG. a�?Ini sudah ada imbauannya,a�? kata dia.

Ia menegaskan, guru harus intropeksi diri selama melaksanakan tugas. TPG kata dia, bukan hanya diperuntukkan mengisi kebutuhan hidup. Tapi harus disisihkan untuk peningkatan kompetensi. Kalau tak seperti itu maka guru akan tertinggal dengan kemajuan IT. Apalagi anak sekarang lebih tahu akan kemajuan teknologi. a�?Guru jangan sampai tertinggal dari muridnya,a�? sindir dia.

Jika tidak ada perubahan guru dalam meningkatkan kompetensi maka guru ini terbilang guru konservatif. Ia menjelaskan, guru konservatifA� adalah guru yang tidak memiliki orientasi pembelajaran yang jelas. Guru hanya sebatas menyampaikan materi pembelajaran sebanyak-banyaknya tanpa memperhitungkan minat, motivasi, dan kebutuhan pengembangan diri siswa.

Sebagian besar waktu yang digunakan untuk menyampaikan informasi, pengetahuan dan sekeranjang teori yang tidak benar-benar dipahami siswa. a�?Pola ini sudah tidak zamannya lagi. Guru harus banyak belajar. Sekarang ini yang dibutuhkan guru yang inovatif,a�? tukasnya.

Kadispora NTB H Muhammad Suruji menyatakan pada hajatannya, pemberian TPG untuk peningkatan kompetensi guru. Tapi sejauh ini nyatanya pendidikan di NTB masih rendah. Bahkan banyak guru yang gagap teknologi (gaptek).

Pada 2017 mendatang ia sudah menganggarkan Rp 20 miliar untuk peningkatan SDM guru. Bahkan di masing-masing Unit Pelaksana Teknis ( UPT) ada dana yang akan diperuntukkan untuk peningkatan kompetensi guru. Saat ini yang perlu dibangun semangat guru dalamA� meningkatkan kompetensi bidang IT. a�?Mau pelatihan dan seminar bagaimanapun jika guru tidak ada semangat maka tak akan bisa meningkatkan kemampuan IT,a�? kata dia.

Ia mengatakan, peningkatan IT guru ada di semangat. Jika ada kesungguhan maka ia yakin guru bisa meningkatkan kemampuan IT. a�?Jika semangat tak ada maka tidak mungkin hasil akan bagus,a�? kata dia. Sekali lagi kata dia, spirit guru lebih dibangun. a�?Percuma punya laptop tapi tak ada semangat belajar,a�? ujarnya. Intinya sambung dia,A� jika semangat guru ini ada maka yang lainA� bisa jalan.

Sementara itu Pengamat Pendidikan dari FKIP Universitas Mataram Dr Rusdiawan mengatakan, paradigma TPG sudah lama menunjukkan kesalahan. Hasil penelitian menunjukkan TPG ini belum ada korelasi dalam peningkatan kompetensi guru. Yang ada TPG ini hanya sebagai hasil tambahan bagi guru.

Padahal pada konsep awal, TPG ini harus bisa membuat guru professional dengan hasil tambahan. Tapi stigma TPG masih pada peningkatan penghasilan.

Ia mengatakan, banyak guru meminta pemberian TPG tanpa melalui UKG. Mereka ingin diberikan TPG tanpa melalui tes. Perlu diingat TPG ini diberikan kepada guru yang lama mengabdi atau guru senior.

Ia membeberkan, sebagian besar guru senior atau yang usianya 50 tahun ke atas kurang memahami IT. Ini dibuktikan pada penyetaraan belajar jarak jauh dengan menggunakan ujian online. a�?Guru tidak bisa menggunakan komputer,a�? aku dia. Namun demikian, bagi guru muda yang masih honor sudah memahami IT. a�?Ini akan terus ada perubahan seiring perkembangan zaman,a�? ujarnya.

Rusdiawan juga kerap turun menanyakan peruntukkan TPG kepada guru. Hampir sebagian besar guru NTB memperuntukkan TPG untuk kebutuhan konsumtif. a�?Jarang untuk membeli laptop dan buku,a�? aku dia.

Dana TPG ini biasanya diperuntukkan untuk membeli sepeda motor dan mobil. Bagi guru yang memiliki sepeda motor maka akan membeli mobil. Sementara untuk peninngkatan SDM jarang dibeli. a�?Ini sama halnya dengan menggaramkan air laut yang sudah asin,a�? sindirnya.

Salah satu jalan guna mengoptimalkan kinerja guru maka harus ada peran pengawas sekolah. Pengawas ini harus diberikan tambahan beban kerja. Tapi yang bersifat mental. a�?Ini harus dikoordinasikan dengan kadis,a�? kata dia.

Pengawas sekolah harusA� menanyakan kepada guru terkait peruntukkan TPG yang tujuan berkaitan langsung dengan kualitas pembelajaran. Jangan hanya teknis pembelajaran didalam kelas saja.

Ia juga mendapat informasiA� guru yang sudah disertifikasi kecenderunganA� mereka meninggalkan tugas. Mereka meminta guru honor untuk menjalankan tugasnya. Ini logikanya tidak jalan. Mestinya mereka yang professional lebih baik. (jay/nur/dss/ton/puj/zen/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka