Ketik disini

Feature

Otodidak hingga Rela Jadi Murid anak Didiknya

Bagikan

Tergagap-gagap dengan pesatnya teknologi, Hermin Hadiani berontak mengejar pengetahuan. Pilihannya cuma dua. Jadi Guru yang dihormati atau guru yang dikibuli. Maka dia pun memaksa diri melek teknologi.

***

USIA wanita ini cukup senja. Setengah abad lebih 5 tahun. Kiranya, di usia itu, macam pintu dengan engsel berkarat, kepala sudah berderit-derit manakala ditempa pengetahuan. Apalagi pengetahuan nan berat-berat.

Tapi, guru Bahasa Inggris di SMPN 15 Mataram ini, wanita tangguh. Pepatah, berguru hingga masuk liang lahat, rupanya benar-benar menginspirasinya. Dialah, Hermin Hadiani.

Hermin, sempat menolak diwawancara. Alasannya, sederhana. Takut. Takut dipanggil, takut jadi masalah, takut jadi aib. a�?Nggak usah sudah,a�? cetusnya menolak. Dia gamang. Ekspresi wajahnya bahkan sampai berkerut-kerut. Berlipat-lipat.

Memoarnya tentang surat kabar, rupanya membuat Hermin jadi paranoid. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus. Hanya, sepajang pengetahuannya, mereka yang diwawancara, rata-rata orang yang berkasus.

a�?Jangan, ndak mau saya. Kasihan suami saya malu nanti,a�? tepisnya.

Syukurnya, Hermin akhirnya bersedia. Tentu setelah dijelaskan panjang lebar. Atas-bawah, kiri-kanan. Semua. Hingga, jenis berita pun harus dijelaskan. Baru, wanita berjilbab itu, luluh.

a�?Awas lo ya (kalau macam-macam),a�? warningnya. Ia rupanya masih was-was. Membuat guru-guru yang lain, senyam-senyum.

Barulah wanita itu mau membuka laptopnya. Itupun, ia sempat grogi. Meski begitu, wanita itu cepat menguasai diri. Ia pun menunjukkan kemampuannya. Ujian kecil dengan mengoperasikan program microsoft excel pun dengan mudah ia persentasikan.

a�?Sekarang kalau ndak kuasai teknologi, gimana mau ngajari murid?,a�? kata dia kemudian.

Teknologi sudah sedemikian pesat. Melesat lebih kencang dari anak panah yang lepas dari busur. Hermin, mengaku merasakan betul perbedaanya. Jauh banget dibanding saat ia masih kecil dan hanya memegang buku tulis dan lidi yang diikat untuk berhitung.

a�?Jauh sekali. Dulu kalau berhitung saya pakai lidi. Sekarang apa-apa semua sudah ada di smartphone,a�? kenangnya.

Dampak negatifnya sudah pasti besar. Yang paling Hermin rasakan, anak cendrung jadi manja. Apalagi di teknologi smartpone. Aplikasi banyak sekali untuk menyelesaikan soal-soal pelajaran. Tinggal pasang aplikasi jawaban bisa diselesaikan jauh lebih mudah. a�?Kalau kita tidak tahu itu (teknologi) bisa dibohongi anak-anak,a�? ujarnya sembari tersenyum.

Itu sebabnya, Hermin nekat menyesuaikan diri. Belajar Informasi Teknologi. Entah itu laptop, internet, smartphone hingga LCD projector. Baginya, itu harus. Mau gimana lagi? Arus teknologi tak bisa dibendung. Bahkan, teknologi sudah jadi a�?alata�� untuk mengajar saat ini.

a�?Ndak pernah (kursus komputer). Belajar sendiri. Kadang tanya anak-anak,a�? ungkapnya.

Hebatnya, semangat belajar itulah yang membuat Hermin tidak jadi bagian dari banyaknya guru gaptek di NTB. Ia sadar betul, ini adalah instrumen pengetahuan yang harus dikuasai.

a�?Kalau kerjakan tugas guru di rumah pakai laptop. Kalau bingung ya telpon anak (kuliah di luar daerah), berkali-kali. Mungkin dia bosan ya. Tapi saya telpon lagi, sekalian lepas kangen,a�? tuturnya. Wanita itu tersenyum mengenang, usahanya sendiri.

Hermin benar-benar menerapkan ungkapan bija, bahwa a�?Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah.a�?

Itu sebabnya, dia tidak hanya bertanya sesama guru, tanpa ragu, Hermin juga minta diajari anak muridnya. a�?Buat apa malu. Kan saya nggak tahu,a�? jawabnya polos.

Ia akui. Bagi orang tua, belajar di usia yang sudah senja memang jauh berbeda dengan anak-anak yang ingatannya masih fresh. Ambil contoh, hanya untuk ingat satu command (perintah, red) di dalam komputer, ia pun harus menghafal berkali-kali.

a�?Memang di situ kesulitannya. Beda dengan anak-anak kan masih segar. Saya harus dijelaskan berkali-kali,a�? kata dia lagi.

Tapi sekali lagi, Hermin wanita yang gigih. Kalau hanya ditertawai murid karena tidak bisa, ah … rasa-rasanya itu hanya sorak-sorai semangat baginya. Tidak masalah. Cukup tersenyum, persoalan diledeki selesai. Tetapi, pengetahuan bertambah. Toh, jika ia sudah bisa, bukan cibiran yang didapat. Melainkan decak kagum.

a�?Saya aktif di instagram dan facebook,a�? jawab dia, sembari tersenyum tersipu-sipu.

Tapi yang jelas tujuan Hermin punya facebook tentu bukan buat alay-alayan. Ia punya misi khusus. Mengawasi prilaku anak didik di sekolah. Baginya, di sinilah esensi seorang guru. Bukan, marah-marah atau melarang anak didik main media sosial.

a�?Saya pikir nilai yang harus kita pertahankan. Bukan malah melarang anak-anak begini-begitu. Sebagai guru, kita harus siap menanamkan nilai yang baik pada murid, melalui apapun. Termasuk media sosial,a�? ulasnya.

Di sisi lain, ketika mengajarkan anak-anak mata pelajaran Bahasa Inggris, mudahnya teknologi saat ini sangat membantu dirinya mengajar. Baginya anak-anak tidak perlu kembali ke zaman batu. Menggunakan metode lama, monoton dan membosankan. Guru harus kreatif. Memanfaatkan teknologi yang berkembang dewasa ini untuk mengajar.

a�?Kalau mereka sekarang mudah dapat cari jawaban soal melalui internet, tentu tingkat soal jangan samakan dengan saat internet sulit diakses,a�? jawabnya santai.

Menurutnya, soal-soal tentu harus lebih variatif dan mendidik. Tujuannya agar anak-anak tetap bisa berfikir saat mengerjakan soal. Di tengah, kemudahan mereka mengakses informasi teknologi.

Hermin membuktikan, usia bukan penghalang untuk belajar dan bisa. Kepada dialah, 63 ribu guru di NTB yang kini belum melek teknologi harus menoleh. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka