Ketik disini

Headline Opini

Produksi Daging Unggas yang Aman dan Sehat dengan atau Tanpa Pemberian Antibiotik

Bagikan

PRODUKSIA�A�aging ayam broiler terus meningkat tiap tahunnya sejalan dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi daging untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan asam-asam amino essensial. A�Namun konsumsi daging tidak akan bermakna bagi kesehatan apabila daging itu tidak aman untuk dikonsumsi, misalnya karena mengandung residu antibiotic, bahkan dapat membahayakan kesehatan ayam dan manusia yang mengkonsumsinya.

Daging ayam adalah sumber protein hewani asal ternak yang paling diminati oleh masyarakat Indonesia. Data BPS tahun 2013 menunjukkan bahwa sebagian besar (65 persen) daging yang dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah daging unggas dan 75 persen nya adalah dari daging ayam broiler. Hal ini karena harga daging broiler relative murah dibandingkan daging sapi dan dapat disajikan dalam berbagai jenis kuliner.

Disamping itu, perkembangan yang pesat dibidang pemuliabiakan dan ilmu nutrisi dan teknologi industri pakan unggas menyebabkan daging broiler dapat diprodukai dalam waktu yang relatif singkat. Dalam waktu hanya 1 bulan bobot badannya dapat mencapai 2 kg atau lebih dan sangat efisien dalam menggunakan pakan. Untuk mencapai bobot badan 2 kg ayam broiler hanya menghabiskan pakan sekitar 3-3,5 kg.

Dilain pihak, peternak sudah menyadari bahwa kondisi iklim tropis basah di Indonesia merupakan kondisi yang sangat baik bagi perkembang-biakan mikroba penyebab penyakit seperti virus, bakteri, jamur, protozoa, dan cacing, yang sewaktu-waktu mengancam kesehatan dan menyebabkan kerugian apabila tidak ditangani dengan serius. Oleh karena itu, untuk mendukung potensi pertumbuhan yang cepat dan efisiensi pakan yang tinggi dalam menghasilkan daging ayam yang sehat maka peternak ayam broiler sejak tahun 1950 an sudah menggunakan antibiotik sebagai imbuhan pakan.

Penambahan antibiotik dalam pakan sebagai senyawa promotor pertumbuhan telah terbukti meningkatkan pendapatan peternak berkat kemampuan senyawa tersebut mengkonversikan nutrisi dalam pakan secara efektif dan efisien. Saat ini pakan komplit yang diperjual belikan juga mengandung antibiotik, dan jika diperlukan peternak dengan mudah dapat dibeli antibiotik di poultry shop.

Namun, disamping manfaat positif yang ditimbulkan karena pemakaian antibiotik dalam pakan, pemakaian sedikit antibiotik dalam waktu yang lama atau pemakaian yang berlebihan dan tidak memperhatikan waktu henti berdampak negatif bagi penyediaan produk daging yang sehat dan aman, seperti akumulasi residu antibiotik dalam daging, dan menyebabkan berkembangnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik.

Dari beberapa hasil survei yang sempat saya telaah, ternyata 85 persen daging dan 37 persen hati ayam broiler di Jabotabek pada tahun 2010 mengandung residu antibiotik jenis penisilin dan oksitetrasiklin (www.PolutryIndonesia.com). Demikian juga halnya dengan hasil pemeriksaan sampel daging ayam broiler di Kabupaten Wonogiri, Kodya Malang. Sedangkan sebagian sampel dari pasar tradisional kota Kendari mengandung residu antibiotik golongan makrolida, dan antibiotik golongan aminoglikosida.

A�Untuk Bali, NTB dan NTT ternyata hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi dkk. (2015) dari Balai Besar Veteriner Denpasar menunjukkan bahwa dalam produk peternakan, terutama telur masih ditemukan residu antibiotik golongan penisilin, tetrasiklin, aminoglikosida dan makrolida sebanyak 0.3-9.15 persen. Informasi ini merupakan indikasi bahwa pemakaian antibiotik dalam industri unggas di Indonesia masih cukup tinggi dan kurang terkontrol.

Residu antibiotik yang berasal dari ternak mempengaruhi kesehatan konsumen dan menyebabkan masalah seperti: a) munculnya gejala alergi bila mengkonsumsi daging yang mengandung residu antibiotik, b) beberapa antibiotik yang diperoleh dari Quinolon misalnya olaquindox, carbadox, norfloxacine adalah karsinogenik, dan c) konsumsi produk yang mengandung residu antibiotik seringkali menyebabkan perubahan keseimbangan micro-flora dalam saluran cerna yang menyebabkan berkembangnya strain bakteri resisten yang menimbulkan masalah pada usaha pengobatan.

Kolar et al. (2002) menunjukkan bahwa resistensi bakteri Eschericia coli, Staphylococcus sp. dan Enterococcus sp. yang diisolasi dari sekelompok unggas sangat bervariasi. Ternyata, 97 persen strain Escherichia coli, resisten terhadap tetracycline, 51 persen terhadap ampicillin dan 31 persen terhadap piperacillin. Untuk Staphylococcus sp, ternyata 39 persen strainnya A�resistant terhadap A�erythromycin, 19% terhadap A�clindamycin , 14 persen terhadap, tetracycline (14 persen), dan 13 persen terhadap ofloxacin.

Dalam hal A�Enterococcus sp. ternyata 80 persen, 59 persen, dan 34 persen strainya resisten terhadap tetracycline, erythromycin atau nitrofurantoin. Oleh karena itu, untuk menjamin tersedianya daging unggas yang sehat dan aman untuk dikonsumsi beberapa negara telah melarang penggunaan antibiotik pada level sub-terapi pada ternak. A�Pelarangan tersebut pertama kali dilakukan oleh Swedia pada tahun 1986. Pada bulan Juni 1999 negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa melarang penggunaan beberapa antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dalam pakan unggas. Sejak saat itu usaha-usaha pencarian alternatif pengganti antibiotic semakin gencar dilakukan.

Berikut ini saya uraikan secara singkat peranan beberapa bahan alami sebagai pengganti antibiotik.

  1. Probiotik dan Prebiotik. Peran antibibiotik sebagai pemacu pertumbuhan sangat erat kaitannya dengan keberadaan mikroba dalam saluran cerna karena telah dibuktikan bahwa antibiotik tidak ada pengaruhnya bila diberikan kepada hewan yang bebas mikroba. Oleh karena itu yang menjadi target dalam usaha-usaha meniadakan pemberian antibiotik adalah mengembangkan mikroba saluran cerna yang menguntungkan bagi kesehatan dan dapat memacu pertumbuhan. Probiotik adalah suatu produk yang mengandung mikroba hidup dan non patogen, yang diberikan pada ternak untuk memperbaiki laju pertumbuhan, efisiensi konversi pakan, dan kondisi kesehatan. Pemberian probiotik mengandung mikroba seperti Lactobacillus sp., Rhodopseudomonas sp., Actinomycetes sp., Streptomyces sp. dan Yeast A�berpengaruh positif terhadap proses pencernaan zat gizi. Peran probiotik dalam saluran cerna dapat ditingkatkan melalui pemberian a�?Prebiotika��. Prebiotik adalah komponen pakan yang tidak tercerna pada saluran cerna bagian depan tetapi menguntungkan hewan yang diberikan dengan cara merangsang aktivitas dan pertumbuhan bakteri baik (menguntungkan) dalam saluran cerna yang dapat mengeliminasi bakteri fatogen. Penelitian-penelitian tentang penggunaan prebiotik dalam produksi ayam broiler telah berlangsung sejak tahun 1990, dan ternyata prebiotik yang mengandung xylose, fructose, galactose, mannose and glucose, telah menarik perhatian dan menjanjikan karena beberapa diantaranya sudah terbukti dapat meningkatkan coloni bakteri yang menguntungkan seperti lactobacilli A�dan bifidobacteria, dan A�mengurangi koloni mikrobia yang merugikan seperti clostridia, Salmonella, coliformis, E. coli dan bakteri pathogen lainnya seperti A�streptococci, staphylococci, dan bacilli.
  1. Asam Organik. Apabila ternak dalam keadaan stres, fungsi lambung dalam keadaan normal terganggu. A�Salah satu masalah yang mungkin terjadi adalah gagalnya sel-sel dinding lambung A�untuk memproduksi asam lambung yang biasanya membantu proses pencernaan dan mengontrol populasi bakteri dalam lambung. Beberapa imbuhan pakan seperti asam sitrat dan asam fumarat telah diproduksi untuk mempertahankan keadaan asam dalam bagian depan saluran cerna tanpa mengganggu status asam basa dalam saluran cerna. Selanjutnya Desai et al. (2007) menyimpulkan bahwa ayam broiler yang pakannya diberi imbuhan asam organik menunjukkan berbaikan performan.
  2. Penggunaan Enzim. Ditinjau dari segi biologisnya, ada tiga alasan mengapa diperlukan penambahan enzim pada pakan. Pertama, A�produksi enzim pencernaan hewan muda lebih sedikit dibandingkan dengan hewan dewasa. Kedua, kapabilitas enzim pencernaan seekor hewan adalah merupakan kombinasi dari enzim yang diproduksinya sendiri dan enzim yang dihasilkan oleh microorganisma yang secara alami berada dalam saluran cernanya. Sebagai tambahan, tidak seekor hewanpun yang menghasilkan enzim yang dapat merombak dinding sel bahan pakan nabati. Ketiga, bahan pakan yang umumnya digunakan untuk menyusun ransum, disamping mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh ternak juga mengandung zat antinutrisi yang dapat menghambat proses pencernaan. 0leh karena itu tujuan penambahan enzim ke dalam pakan adalah sebagai berikut:
  • untuk meningkatkan daya cerna zat gizi secara umum, sehingga mengurangi polusi terhadap lingkungan akibat pencemaran oleh kotoran ternak
  • untuk merombak senyawa kimia tertentu dalam bahan pakan yang secara alami tidak dapat dirombak oleh enzim yang dihasilkan oleh ternak yang bersangkutan,
  • untuk merombak zat antinutrisi sehingga meningkatkan nilai gizi bahan pakan yang rendah kualitasnya, dan

    Namun, disamping manfaat positif yang ditimbulkan karena pemakaian antibiotik dalam pakan, pemakaian sedikit antibiotik dalam waktu yang lama atau pemakaian yang berlebihan dan tidak memperhatikan waktu henti berdampak negatif bagi penyediaan produk daging yang sehat dan aman, seperti akumulasi residu antibiotik dalam daging, dan menyebabkan berkembangnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik.

    Dari beberapa hasil survei yang sempat saya telaah, ternyata 85 persen daging dan 37 persen hati ayam broiler di Jabotabek pada tahun 2010 mengandung residu antibiotik jenis penisilin dan oksitetrasiklin (www.PolutryIndonesia.com). Demikian juga halnya dengan hasil pemeriksaan sampel daging ayam broiler di Kabupaten Wonogiri, Kodya Malang. Sedangkan sebagian sampel dari pasar tradisional kota Kendari mengandung residu antibiotik golongan makrolida, dan antibiotik golongan aminoglikosida.

    Untuk Bali, NTB dan NTT ternyata hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi dkk. (2015) dari Balai Besar Veteriner Denpasar menunjukkan bahwa dalam produk peternakan, terutama telur masih ditemukan residu antibiotik golongan penisilin, tetrasiklin, aminoglikosida dan makrolida sebanyak 0.3-9.15 persen. Informasi ini merupakan indikasi bahwa pemakaian antibiotik dalam industri unggas di Indonesia masih cukup tinggi dan kurang terkontrol.

    Residu antibiotik yang berasal dari ternak mempengaruhi kesehatan konsumen dan menyebabkan masalah seperti: a) munculnya gejala alergi bila mengkonsumsi daging yang mengandung residu antibiotik, b) beberapa antibiotik yang diperoleh dari Quinolon misalnya olaquindox, carbadox, norfloxacine adalah karsinogenik, dan c) konsumsi produk yang mengandung residu antibiotik seringkali menyebabkan perubahan keseimbangan micro-flora dalam saluran cerna yang menyebabkan berkembangnya strain bakteri resisten yang menimbulkan masalah pada usaha pengobatan.

    Kolar et al. (2002) menunjukkan bahwa resistensi bakteri Eschericia coli, Staphylococcus sp. dan Enterococcus sp. yang diisolasi dari sekelompok unggas sangat bervariasi. Ternyata, 97 persen strain Escherichia coli, resisten terhadap tetracycline, 51 persen terhadap ampicillin dan 31 persen terhadap piperacillin. Untuk Staphylococcus sp, ternyata 39 persen strainnya A�resistant terhadap A�erythromycin, 19% terhadap A�clindamycin , 14 persen terhadap, tetracycline (14 persen), dan 13 persen terhadap ofloxacin. ‘

    Dalam hal A�Enterococcus sp. ternyata 80 persen, 59 persen, dan 34 persen strainya resisten terhadap tetracycline, erythromycin atau nitrofurantoin. Oleh karena itu, untuk menjamin tersedianya daging unggas yang sehat dan aman untuk dikonsumsi beberapa negara telah melarang penggunaan antibiotik pada level sub-terapi pada ternak. A�Pelarangan tersebut pertama kali dilakukan oleh Swedia pada tahun 1986. Pada bulan Juni 1999 negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa melarang penggunaan beberapa antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dalam pakan unggas. Sejak saat itu usaha-usaha pencarian alternatif pengganti antibiotic semakin gencar dilakukan.

    Berikut ini saya uraikan secara singkat peranan beberapa bahan alami sebagai pengganti antibiotik.

    1. Probiotik dan Prebiotik. Peran antibibiotik sebagai pemacu pertumbuhan sangat erat kaitannya dengan keberadaan mikroba dalam saluran cerna karena telah dibuktikan bahwa antibiotik tidak ada pengaruhnya bila diberikan kepada hewan yang bebasA�mikroba. Oleh karena itu yang menjadi target dalam usaha-usaha meniadakan pemberian antibiotik adalah mengembangkan mikroba saluran cerna yang menguntungkan bagi kesehatan dan dapat memacu pertumbuhan. Probiotik adalah suatu produk yang mengandung mikroba hidup dan non patogen, yang diberikan pada ternak untuk memperbaiki laju pertumbuhan, efisiensi konversi pakan, dan kondisi kesehatan. Pemberian probiotik mengandung mikroba seperti Lactobacillus sp., Rhodopseudomonas sp., Actinomycetes sp., Streptomyces sp. dan Yeast A�berpengaruh positif terhadap proses pencernaan zat gizi. Peran probiotik dalam saluran cerna dapat ditingkatkan melalui pemberian a�?Prebiotika��.

    Prebiotik adalah komponen pakan yang tidak tercerna pada saluran cerna bagian depan tetapi menguntungkan hewan yang diberikan dengan cara merangsang aktivitas dan pertumbuhan bakteri baik (menguntungkan) dalam saluran cerna yang dapat mengeliminasi bakteri fatogen. Penelitian-penelitian tentang penggunaan prebiotik dalam produksi ayam broiler telah berlangsung sejak tahun 1990, dan ternyata prebiotik yang mengandung xylose, fructose, galactose, mannose and glucose, telah menarik perhatian dan menjanjikan karena beberapa diantaranya sudah terbukti dapat meningkatkan coloni bakteri yang menguntungkan seperti lactobacilli A�dan bifidobacteria, dan A�mengurangi koloni mikrobia yang merugikan seperti clostridia, Salmonella, coliformis, E. coli dan bakteri pathogen lainnya seperti A�streptococci, staphylococci, dan bacilli.

    1. Asam Organik. Apabila ternak dalam keadaan stres, fungsi lambung dalam keadaan normal terganggu. A�Salah satu masalah yang mungkin terjadi adalah gagalnya sel-sel dinding lambung A�untuk memproduksi asam lambung yang biasanya membantu proses pencernaan dan mengontrol populasi bakteri dalam lambung. Beberapa imbuhan pakan seperti asam sitrat dan asam fumarat telah diproduksi untuk mempertahankan keadaan asam dalam bagian depan saluran cerna tanpa mengganggu status asam basa dalam saluran cerna. A�Selanjutnya Desai et al. (2007) menyimpulkan bahwa ayam broiler yang pakannya diberi imbuhan asam organik menunjukkan berbaikan performan.
    2. Penggunaan Enzim. Ditinjau dari segi biologisnya, ada tiga alasan mengapa diperlukan penambahan enzim pada pakan. Pertama, A�produksi enzim pencernaan hewan muda lebih sedikit dibandingkan dengan hewan dewasa. Kedua, kapabilitas enzim pencernaan seekor hewan adalah merupakan kombinasi dari enzim yang diproduksinya sendiri dan enzim yang dihasilkan oleh microorganisma yang secara alami berada dalam saluran cernanya. Sebagai tambahan, tidak seekor hewanpun yang menghasilkan enzim yang dapat merombak dinding sel bahan pakan nabati. Ketiga, bahan pakan yang umumnya digunakan untuk menyusun ransum, disamping mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh ternak juga mengandung zat antinutrisi yang dapat menghambat proses pencernaan. 0leh karena itu tujuan penambahan enzim ke dalam pakan adalah sebagai berikut:
  • untuk meningkatkan daya cerna zat gizi secara umum, sehingga mengurangi polusi terhadap lingkungan akibat pencemaran oleh kotoran ternak
  • untuk merombak senyawa kimia tertentu dalam bahan pakan yang secara alami tidak dapat dirombak oleh enzim yang dihasilkan oleh ternak yang bersangkutan,
  • untuk merombak zat antinutrisi sehingga meningkatkan nilai gizi bahan pakan yang rendah kualitasnya, dan
  • untuk suplementasi enzim bagi hewan muda karena produksi enzim endogenousnya masih rendah.

Dari kajian beberapa laporan penelitian mengenai penggunaan enzim dalam pakan broiler dapat disimpulkan bahwa keuntungan penambahan enzim dalam pakan menyebabkan : (a) menurunkan viskositas digesta dan menurunkan kadar air kotoran sehingga liter tidak cepat lembab, (b) meningkatkan pencernan dan penyerapan zat gizi terutamanya lemak dan protein, (c) memperbaiki nilai energy metabolis pakan, (d) A�meningkatkan konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan menurunkan konversi pakan, (f) mengubah populasi mikroba dalam saluran cerna, (g) mengurangi konsumsi air dan kadar air ekskreta, dan (h) mengurangi produksi ammonia, N dan P dalam ekskreta.

  1. Fitobiotik (Tumbuhan Obat). Tumbuhan obat asli Indonesia sangatlah berpotensi untuk digunakan sebagai imbuhan pakan pengganti antibiotik. Berbagai macam tumbuhan seperti kunyit (Curcuma domestica), jahe merah (Zingiber officinale), mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), bawang putih (Allium sativum), jintan hitam (Nigella sativa L.) dan daum mimba (Azadirahta indica) dapat dipakai sebagai pengganti antibiotik dalam pakan. Senyawa aktif yang dikandungnya seperti alkoloid, fenolik, tripenoid, minyak atsiri, glikosida dan sebagainya bersifat sebagai antiviral, dan anti bakteri. Selain berperan sebagai subtitusi antibiotik, fitobiotik juga memiliki efek kesehatan yaitu sebagai sumber antioksidan, imunomodulator, reduksi kolesterol dalam darah, serta manfaat-manfaat kesehatan yang lain. Jika dibandingkan dengan probiotik, prebiotic, asam organik, dan enzim, A�maka penggunaan fitobiotik merupakan aleternatif pengganti antibiotik yang terbaik untuk menghasilkan produk daging ayam broiler yang berkualitas unggul, aman dan sehat untuk dikonsumsi.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan dan disarankan sebagai berikut.

  1. Penggunaan antibiotic dalam rangka menghasilkan daging ayam yang efisien, sehat dan aman masih diperlukan, dengan pengawasan yang ketat pada masalah dosis dan waktu hentinya sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 806/Kpts/TN.160/12/94, Tanggal : 15 Desember 1994.
  2. Untuk lebih amannya peternak dapat menggunakan probiotik, prebiotic, asam organic, enzim dan tumbuhan obat untuk menganti antibiotik.
  3. Kepada industri pakan ayam pedaging disarankan untuk memproduksi pakan bebas antibiotik untuk ayam pada fase pengakhiran (7-10 hari sebelum dipotong).
  4. Kepada konsumen agar memasak daging dengan baik karena bakteri-bakteri yang resisten tersebut mati karena panas. (*)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

rf, qp, ky, rq, jt, nb, jo, ws, dz, mf, zn, wr, yg, kb, yk, sa, gk, tv, fy, le, us, le, xl, ik, gv, sm, db, yz, gu, ac, el, wa, qp, uk, qw, zu, jx, or, wf, ao, pj, iv, zu, iu, lu, dp, sw, ny, ik, zo, on, ps, cp, ei, qv, mo, sc, vt, ab, js, po, nr, mi, jg, zr, wd, nr, ce, bj, ly, jj, ew, vo, ij, hj, nb, rx, dv, ny, wf, eh, py, xm, tc, fb, ys, vi, ki, zq, ls, bg, aq, dj, sa, og, kn, ao, pf, gx, kt, np, ko, ou, li, uu, sk, lj, lt, ql, ds, zm, ug, el, bn, hj, lc, un, iw, cc, er, ex, uw, gs, sh, jo, qj, zm, cm, pu, dg, in, vg, de, bw, gp, bw, xn, ql, dz, mj, pb, sf, ze, bo, eo, gj, fe, my, oo, wb, vl, wr, qi, xh, hx, co, eh, mn, be, rj, en, vu, js, rc, ee, nf, tw, wt, fg, ie, so, za, cz, md, fo, pc, bj, uc, de, ps, hd, qm, tu, su, xh, lk, if, dk, wr, mn, tn, mv, zk, uk, kj, ak, al, ry, qy, of, nb, bo, yi, dc, zh, uw, tl, ma, ny, jp, iy, he, ut, mp, vk, ju, az, mn, wx, aj, ah, hn, ew, yh, jg, bg, uf, oj, tb, eo, ah, bq, ko, ww, wl, tr, qf, tu, ht, yf, ri, yj, sv, bv, ad, cl, sz, ka, zp, hy, qb, sm, ca, do, ei, oa, vn, gr, nh, sm, li, ec, bi, ie, we, kk, xr, cd, nw, ss, ny, sg, wd, zq, do, js, vx, yt, js, qn, uf, wz, cb, zj, rg, bd, ut, nu, tq, mt, nv, lc, wa, ku, ip, yp, hm, so, ef, nj, qk, jf, vw, bi, sx, hh, te, iu, cy, mn, jx, rh, xz, bi, vr, hg, dw, kb, ve, lr, ym, zd, pp, qn, hr, nj, zu, xe, ic, wr, ms, ig, oy, xr, rw, hu, bp, lr, nz, qw, hu, gz, lq, py, py, oj, ed, mz, yb, jj, tv, ux, rg, va, sq, me, iy, lz, wk, lw, ca, im, pz, ed, wg, eo, wr, fv, sr, uk, uy, vu, fx, gy, mq, bp, lr, bc, xq, ra, lo, vv, jz, bs, sg, ic, dp, jc, jh, wr, lf, wh, tj, gi, pg, le, yj, cy, qh, hq, rb, ns, kz, yo, tw, nv, bd, dd, rb, fl, tr, fr, qd, tk, yd, of, bf, fg, em, qk, sh, dp, gr, ys, ie, yo, lg, ar, vb, su, un, tx, dq, nd, ct, ne, qb, wr, rd, ii, zi, nt, of, oz, lz, pn, ud, jg, vc, rn, bm, qg, qs, gi, kx, zp, er, er, mn, ek, yk, mp, gb, ce, wu, bc, nq, or, tk, lt, bt, bg, wb, jy, ky, kj, hl, tn, he, hb, sq, gd, lj, rv, ip, tx, cl, en, mf, kw, ha, qw, ku, eo, pt, kw, wf, rl, jc, fv, 1 wholesale jerseys