Ketik disini

Giri Menang

Tak Ada Sampah, Tak Makan

Bagikan

Keberadaan tempat pembuangan akhir (TPA) Kebon Kongok menjadi ladang emas bagi para pemulung. Puluhan pemulung mencari nafkah di sana.

***

PANAS A�terik siang itu, tak membuat Syafri menyerah. Guyuran keringat terlihat mulai membanjiri wajahnya. Ia terus mengayuh gancungnya, memilah sampah yang bisa diuangkan.

Tangannya begitu cekatan memasukkan sampah plastik yang hendak ia jual. Keranjang bambu yang ia pikul perlahan mulai terisi banyak.A�Meski belum penuh, namun hasil itu sudah cukup untuk makan sehari.

Sementara, truk sampah terus hilir mudik memasuki kawasan TPA Kebon Kongok. Setiap kali kendaraan khas berwarna kuning itu datang, para pemulung lantas berebut mengambil sampah yang bisa diuangkan.

Begitulah aktivitas rutin para pemulung yang bera�?kantora�? di TPA Kebon Kongok. Meski siang itu TPA Kebon Kongok tampak sepi. Namun sejumlah pemulung tetap mencari barang-barang berharga di antara tumpukan sampah.

a�?Ini sudang siang mas, sudah banyak yang pulang,a�? kata Syafri membuka percakapan dengan koran ini.

Syafri waktu itu tidak pulang. Sebab ia sudah membawa bekal dari rumah. Biasanya para pemulung di TPA Kebon Kongok membawa bekal masing-masing. Begitu A�waktu siang tiba, mereka berjamaah makan siang.

Meski di sekitar dikelilingi sampah dan lalat, namun karena sudah terbiasa dan rasa lapar yang melanda, membuat mereka cuek melanjutkan makan.

Koran ini penasaran, berapa penghasilan sehari pemulung di TPA Kebon Kongok. Mendengar pertanyaan itu, Syafri sedikit tertawa.

Namun ia mengatakan penghasilan mereka variatif. “Tidak tentu mas, kadang lumayan kadang cukup,a�? katanya tidak menyebut nominal yang ditanyakan.

Dalam kondisi normal, ketika truk sampah dari Kota Mataram membuang sampahnya di TPA Kebon Kongok, Syafri mengaku bisa mengumpulkan barang bekas berupa botol plastik, sepatu hingga sandal sebanyak dua karung setiap dua atau tiga hari.

Dari sana, ia meraup keuntungan yang lumayan besar.A� Namun jika melihat hasil yang didapat hari itu, Syafri mengatakan jika diuangkan belum seberapa. Paling bantot dapat Rp 10 ribu.

a�?Ini juga satu karung belum dapat,a�? ujarnya sambil menunjukkan hasil mulung hari itu.

Meski berpenghasilan minim, kenyataannya Syafri tetap mewjibkan anak-anaknya menempuh bangku pendidikan. Dari hasil memulung, ia bisa memberi makan keluarga dan menyisihkan sedikit untuk kebutuhan sekolah anaknya.

Selain Syafri, pemulung lainnya Saipul pun merasakan hal yang sama. Dirinya mengaku penghasilan mereka setiap hari ditentukan dari jumlah sampah. Jika sampah banyak, penghasilan mereka pun ikut meningkat. “Sebaliknya, kalau barang bekas minim, pendapatan juga sedikit,” tandasnya. (MUHAMMAD ZAINUDDIN, Giri Menang/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka