Ketik disini

Bima - Dompu Headline

Masyarakat Bima Deklarasikan Persatuan

Bagikan

KOTA BIMA – Dambaan agar warga Bima bersatu ternyata bukan mimpi. Kemarin, semua tokoh di dua daerah ini berkumpul dan mendeklarasikan bahwa Bima Bersatu yang menjadi bagian acara apel Nusantara Bersatu.

Pada acara yang dimotori jajaran Kodim 1608 Bima ini, deklarasi dan orasi dibacakan tokoh Kota Bima dan Kabupaten Bima. Orasi pertama disampaikan perwakilan tokoh adat Bima Sersan Mayor Jufrin. Dikatakannya, bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk.

“Heterogenitas bangsa Indonesia adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Sebab keanekaragaman suku bangsa yang berasal dari ribuan pulau yang tersebar dalam wilayah 34 provinsi,” katanya.

Kemudian dilanjutkan dengan orasi dari Ketua MUI Kabupaten Bima H Abdul Haris HAR. Dia menjelaskan bahwa sifat heterogen juga bersumber pada keragaman agama.

“Pemerintah mengakui adanya enam agama, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghucu. Dalam satu etnis dan satu agama, bisa terjadi perbedaan paham yang bisa meruncing menjadi konflik horizontal,” tegasnya.

Sementara Ketua MUI Kota Bima HM Saleh Abubakar mengingatkan, hampir setiap agama di Indonesia memiliki kelompok. Mereka juga memiliki paham berbeda dan dalam satu etnis atau suku bisa terjadi berbagai kelompok dengan tradisi.

“Meraka juga memiliki perilaku dan cara hidup berbeda. Kemajemukan ini jika tidak dikelola dengan baik maka menimbulkan kerawanan akan konflik,” tandasnya.

Ketua DPRD Kabupaten Bima Murni Suciyanti menyatakan perlunya benteng dan filter atas semakin derasnya arus modernisasi dan globalisasi. Globalosasi kian mereduksi semangat nasionalisme bangsa Indonesia.

“Pengaruh globalisasi lewat teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih membuat bangsa Indonesia memiliki berbagai paham persepsi dan pandangan yang berbeda sekaligus bertentangan,” katanya.

Ketua DPRD Kota Bima Feri Sofiyan mengatakan bangsa Indonesia harus menemukan kembali identitasnya di tengah ketidakpastian hidup. Hal itu terjadi akibat berbagai persoalan, mulai dari kekisruhan politik, korupsi yang merajalela, hingga persoalan kemiskinan dan pengangguran. (nk/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka