Ketik disini

Bima - Dompu

Warga Risa dan Dadibou Islah

Bagikan

BIMA – Setelah tiga hari terlibat bentrok, warga Desa Risa dan Dadibou akhirnya sepakat islah. Warga dua desa yang bertikai ini dipertemukan di aula kantor Camat Woha, kemarin sore(30/12).

Pertemuan warga dua desa itu difasilitasi Camat WohaA� Dahlan. Dalam perjanjian Islah itu hadir Kapolres Bima AKBP Eka Fathur Rahman, Wakil Bupati Bima DH Dahlan M Nur, Kapolsek Woha IPTU Salahuddin. Kemudian Danramil Woha Kapten Inf I Ketut Sudiarsana, Kades Risa Arifuddin dan Kades Dadibou Yakub. Hadir juga bhabinkamtibmas, bhabinsa dua desa, serta perwakilan warga dua desa.

Pada pertemuan itu, Kapolres Bima AKBP Eka Fathur Rahman berharap warga dua desa tidak terpancing. Tidak membuat konflik tersebut berkepanjangan.Menurutnya, bentrok itu terjadi karena ulah remaja.

“Saya ingin masyarakat Kabupaten Bima damai dan membantu pemerintah Kabupaten Bima mempercepat pembangunan kantor bupati,” pintanya.

Eka meminta warga yang hadir berpartisipasi menjaga kondisi Kamtibmas. Sehingga pembangunan dapat berjalan maksimal.

“Untuk menjaga keamanan, butuh kerja sama dari semua pihak,” katanya.

Sementara Wakil Bupati Bima H Dahlan M Nur berharap masyarkat dua desa tidak lagi terlibat bentrok. Menahan diri dan tidak mudah diprovokasi.

“Antara pelaku dan korban masih ada hubungan keluarga. Mari kita selesaikan persoalan mereka secara kekeluargaan saja,” sarannya.

Menurut Dahlan, pemicu bentrok antara warga adalah konflik perorangan. Dia heran justru memicu perang kampung.

Wabup sangat kecewa dengan masyarkat Desa Dadibou dan Risa. KarenaA� tidak mampu menahan diri dan emosi, sehingga masalah kecil membias menjadi besar.

Pada pertemuan itu, kades dua desa dan tokoh masyarakat ikut memberikan pernyataan. Pertemuan itu kemudian dilanjutkan dengan penyusunan surat pernyataan damai atau islah.

Ada tujuh poin isi surat pernyataan tersebut. Diantaranya, pemerintah Desa Risa dan Dadibou beserta seluruh elemen masyarakat wajib menjaga keamanan dan ketertiban.
Tidak ada tindakan yang dapat memicu timbulnya persoalan baru, sehingga menganggu terciptanya rasa aman bagi warga dua desa.

Warga Desa Risa dan Dadibou harus bisa mengendalikan diri. Membangun kewaspadaan terhadap isu-isu yang menyesatkan. Tidam mudah diprovokasi oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Seluruh masyarakat Desa Risa dan Dadibou tidak melakukan tindakan intimidasi, provokasi, penyerangan, sweeping atau pengejaran terhadap siapapun. Bagi yang melakukan akan ditindak tegas.

Seluruh aparat pemerintah desa, tokoh masyarakat, toko agama, tokoh adat dan tokoh pemuda Risa dan Dadibou membangun komunikasi yang intensif. Apabila terjadi perselisihan antar warga, supaya diselesaikan dengan musyawarah, mufakat. Jika, tidak ditemukan penyelesaian, akan ditangani secara hukum.

“Terhadap kasus penganiyaan berat yang dialami warga Desa Risa tetap diselesaikan secara hukum,” jelas Eka. (yet/r 4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka