Ketik disini

Metropolis

Beli Nasi dari Kangkung Liar

Bagikan

Banyak orang harus berjuang keras untuk bertahan hidup. Bahkan hanya untuk sekadar makan. Salah satunya Sumirah.

***

PagiA� buta, Samirah berjalan melintasi sepanjang garis Pantai Gading. Sorot matanya yang tajam memandangi setiap pohon. Ia tengah mencari sesuatu.

Tatapannya terhenti pada sebuah pohon kelapa. Tepat di bawahnya, terdapat setangkai pelepah daun kelapa kering yang gugur. Senyum kecil menyungging di bibirnya. Dia segera memunguti pelepah daun kelapa itu.

Sumirah tak semuda dan sekuat wanita dewasa lainnya. Usianya kini sekitar 65 tahun. Terlihat jelas dari langkahnya yang pelan dan tertatih-tatih.

Perlahan ia duduk dekat pelepah tersebut, kemudian memisahkan daun dari batangnya. Daun yang terkumpul ia masukkan dalam bakul kayu miliknya. Ia pun melanjutkan kembali perjalanannya.

Ia memutar langkah meninggalkan pantai tersebut. Ia kemudian berjalan di sepanjang jalan Lingkar Selatan. Memandangi setiap pohon di jalan tersebut. Ia kembali berhenti di sebuah pohon besar. Ia memunguti beberapa bunga yang ada di bawah pohon tersebut. Ia kembali memasukkan dalam bakul miliknya.

a�?Saya mau jual di pasar,a�? akunya saat Lombok Post menghampirinya.

Daun kelapa kering yang tak begitu banyak tersebut ia bersihkan menjadi lidi. Tangan keriputnya perlahan menggerakkan cutter memotong bagian daunnya. Sambil masih asyik membersihkan daun tersebut, Samirah bercerita kisah hidupnya.

Samirah tinggal di Lingkungan Mapak Belatung Kelurahan Jempong Baru. Ia tinggal menumpang di rumah orang. Anak kandungnya entah berada dimana. Sementara suaminya telah lama menikah lagi dan meninggalkannya.

Sumirah tak punya harta benda. Untuk bertahan hidup, ia harus berusaha sendiri. Segala cara ia lakukan untuk bisa mendapatkan rupiah. Tentunya di usianya yang renta, ia hanya bisa memungut pelepah kelapa dan bunga untuk dijual.

Dalam sehari, ia hanya menghasilkan satu atau dua buah sapu lidi. Terkadang sapu tersebut tak sempat dibawa ke pasar. Sebab salah seorang pengguna jalan langsung membelinya. Ia pun hanya membawa bunga untuk dijual di Pasar Perumnas.

a�?Kadang dapat Rp 10 ribu, kadang tidak sama sekali,a�? ujarnya tersenyum memperlihatkan gigi tuanya.

Jika tak ada bunga, Samirah akan mencari kangkung yang tumbuh di luar sawah orang. Kangkung yang terkumpul juga dijualnya. Lagi-lagi hasilnya tak seberapa. Maksimal hanya Rp 10 ribu saja yang digunakan untuk membeli makan siang. Malamnya ia harus kembali menahan lapar karena tak lagi memiliki uang. Paginya ia kembali bekerja untuk mencari nafkah.

Meski begitu, ia tidak pernah menunjukkan kesedihan. Ia tetap bertahan melalui hari-hari yang sama. Hanya senyum yang ia perlihatkan pada siapapun yang menyapanya.

Hal ini yang mengundang rasa salut sekaligus prihatin dari Maknun, seorang buruh tani yang tak jauh dari tempat biasa ia mencari bunga. Ia takjub dengan semangat hidup Sumirah meski hidup sebatang kara.

Maknun menuturkan, banyak orang yang menganggap Sumirah gila. Namun ia menampik hal tersebut. a�?Jika gila tak mungkin dia kerja cari uang. Banyak beban mungkin masih dibenarkan,a�? tegasnya.

Hidup di kota besar memang banyak tantangannya. Jika tak kuat bertahan maka akan mudah tersingkirkan. Perlu semangat kuat dan jiwa besar untuk bisa bertahan. (FERIAL AYU, Mataram/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys