Ketik disini

Opini

Solusi untuk Gizi Buruk

Bagikan

JUMLAH  kasus gizi buruk di NTB hingga Juni 2016 mencapai 80 kasus. Jika dibandingkan dengan kasus tahun 2015, jumlahnya hampir sama. Tahun ini petugas lebih pro aktif menyisir anak-anak yang menderita gizi buruk ke desa-desa.

Kepala Dinas Kesehatan NTB Nurhandini Eka Dewi mengurai kasus gizi buruk tidak semata-mata dinilai dari angka. Tapi juga harus dilihat dari penyebabnya. Dalam banyak kasus, gizi buruk juga disebabkan karena masalah sosial. Di mana anak ditinggal orang tua menjadi TKI ke luar negeri. Seperti anak-anak yang lahir dengan kelainan-kelainan. Tapi banyak juga anak gizi buruk karena input makanan bergizi kurang. Anak yang asupan gizi kurang, kurus dan daya tahan tubuhnya lemah, sakit berkepanjangan sehingga terjadi gizi buruk. Harus dibedakan antara gizi buruk dengan gizi kurang.

Jika dikatakan masih banyak penderita gizi buruk yang belum terdata dan ditangani, hal ini disebabkan rata-rata kunjungan ke Posyandu masih 75 persen. Sehingga 25 persen balita yang tidak datang ke Posyandu adalah potensi yang tidak terpantau. Untuk menekan angka gizi buruk ini, pemerintah berupaya agar orang tua membawa anaknya ke Posyandu agar bisa terdeteksi sejak awal. Apakah anak tersebut termasuk gizi kurang atau gizi buruk. Selain itu, gizi buruk dijadikan kejadian luar biasa sehingga setiap pasien gizi buruk ditangani dengan lebih baik.

Masalah gizi buruk ini selain yang dipengaruhi oleh faktor sosial maupun ekonomi haris diselesaikan. Pemerintah harus membuat program penanganan gizi buruk sebaik mungkin. Selain dengan program pengentasan gizi buruk, pendampingan ke masyarakat perlu diberikan. Ada sebagian masyarakat yang masih memiliki pemahaman kalau makanan bergizi itu mahal. Padahal diversifikasi pangan sudah berkembang. Untuk asupan gizi makanan cukup beragam. Tak harus mengandalkan satu sumber makanan saja. (*)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka