Ketik disini

Selong

Warga : Pak Bupati Kami Butuh Listrik!

Bagikan

Jauk dari hiruk pikuk  perkotaan dan tanpa fasilitas umum yang memadai. Tapi warga transmigran di Desa Puncak Jeringo, Lombok Timur (Lotim) menolak tunduk pada keterbatasan. Jikapun penguasa mendengar, satu hal yang mereka butuh kini, yakni sambungan listrik.

***

SEKUMPULAN ibu rumah tangga terlihat begutu’ (mencari kutu, Red) di pelataran rumahnya. Dengan latar rumah kayu beratap seng sesekali mereka melempar canda dan  tawa. Diskusi mereka mulai dari harga sembakau, anak sekolah hingga sinetron di televisi.

Mereka adalah bagian kecil dari anggota warga Transmigran  di Puncak Jeringo, Lombok Timur (Lotim). Bahkan ketika koran ini mendekat, ibu-ibu lainnya datang berkumpul. Ramai dalam suasana kekeluargaan yang hangat dan khas.

Ite mauq bantuan ne bapak?” cetus salah seorang warga terburu-buru sambil menggendong anaknya yang masih usia balita.

Ia mengira sedang ada pendataan untuk pembagian bantuan. Namun harapan para ibu rumah tangga yang semula membuncah terpaksa pupus. Setelah tahu maksud kedatangan koran ini  untuk mendengar kisah hidup mereka yang tinggal di sini.

Badaqan te meno jaq aneh leq pemerintah tamaqan te gamaq listrik (Tolong sampaikan ke pemerintah kalau begitu, agar kita mendapat sambungan listrik, Red),” ungkap Inaq Joh salah seorang dari kumpulan ibu rumah tangga tersebut.

Di pergunungan ini, mereka sudah tinggal selama puluhan tahun. Bahkan sejak wilayah yang mereka tempati ini belum bernama Desa Puncak Jeringo. Namun, ada juga yang mengaku baru pindah sekitar awal tahun 2008 lalu. Lantaran tanahnya yang ada di Terara dijadikan area pembangunan bendungan Pandanduri. Sehingga mereka transmigrasi ke pegunungan  ini.

“Dulu memang enak kita tinggal di Terara. Listrik dan TV ada. Mau ke pasar gampang. Tapi tanah saya cuma satu are, sekarang di sini kan satu hektare,” tutur Sam, salah seorang kepala keluarga.

Sejak pindah ke sini, Sam mengaku kehidupan mereka jauh lebih baik. Meksipun awalnya para transmigran ini mengaku tak terbiasa dengan kondisi alam hingga pergaulan sosial mereka dalam kesehariannya.Namun  mereka berjuang menghadapi situasi itu hingga bertahan sampai saat ini.

 “Kita dikasih tanah satu hektare. Itu 75 are untuk lahan pertanian. Ya dari sana kita makan,” akunya.

90 persen warga Desa Puncak Jeringo mencari nafkah lewat bercocok tanam terutama jagung dan  padi. Hanya saja tak adanya irigasi tetap di kawasan tersebut membuat  dalam setahun, mereka hanya bisa sekali menanam. Sisanya, warga bertahan hidup dengan menjadi buruh dan peternak.

“Kadang kita jadi buruh tani menanam jagung di sawah warga yang lain. Ya dari sana kita cari uang belanja,” sambung Radmah warga lainnya.

Saat ini, warga mengaku menerima bantuan beras rakyat  miskin (Raskin) dari pemerintah. Itulah yang selama ini mereka konsumsi sehari-hari. Sementara untuk lauk pauk, kebanyakan warga memanfaatkan ragam  tanaman yang ada di pekarangan.

 “Kadang beli sih ayam atau ikan, kebetulan ada yang datang jual ke sini,” kelakar Radmah disambut warga lainnya.

Kompensasi tanah yang cukup luas membuat warga sangat bersyukur. Selain itu, keindahan  alam di Desa Puncak Jeringo menjadi salah satu alasan yang membuat warga merasa betah tinggal di sini. Meski demikian, ada juga sejumlah pemuda anak-anak dari warga transmigran yang meilih menjadi TKI. Mencoba peruntungan di rantauan.

“Sebenarnya kalau untuk makan Insya Allah cukup. Hanya saja ya kadang kita bingung kalau sudah musim kering. Air susah didapat selama hampir tiga bulan,” timpal Kamal yang mengaku telah tinggal di Jeringo selama puluhan tahun.

Selain masalah air dan listrik, masalah yang dihadapi warga juga terkait akses menuju fasilitas layanan kesehatan. Dikarenakan, tenaga kesehatan yang ada di Desa Puncak Jeringo tidak setiap saat  ada di Desa. Sehingga, ketika warga butuh layanan kesehatan, mereka harus turun ke dari desa menuju Puskesmas Pringgabaya atau Labuhan Lombok. Dimana kedua Puskesmas ini merupakan fasilitas layanan kesehatan terdekat.

“Kami ngojek ongkos Rp 15 ribu. Makanya kalau sakitnya nggak parah lebih baik tahan saja. Nunggu mantri (petugas kesehatan, Red) datang,” beber warga.

Posisi Puncak Jeringo yang terisolir membuat gerak kemajuan zaman terhenti disini.  Biangnya apalagi kalau bukan listrik.  Hampir tak terdengar ada TV dan Radio disini. Apalagi remaja-remaja yang sibuk dengan telepon pintar seperti yang terlihat di perkotaan.  Terlebih ketika malam tiba, gelap malam demikian pekat.

Jikapun ada hanya beberapa lampu dari sisa energi tenaga surya dan tentu saja remang lampu templek dan lilin di berabda rumah

.Namun ditengah keterbatasan ini harapan ini akan hari depan yang lebih baik tetap terjaga. Mimpi mereka masih menyala, terutama untuk anak cucu mereka.

“Mudah-mudahan ada yang jadi datu (pejabat pemerintah, Red),” harap mereka.  (HAMDANI WATHONI, Selong/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka