Ketik disini

Headline Metropolis

Gali-gali Bukan Karbitan

Bagikan

Jalan di kota tidak pernah bisa dibiarkan mulus. Aksi gali-gali jalan terus dilakukan. Bukan sesaat, alias karbitan. Tapi terus menerus. Anggaran perbaikan jalan triliunan rupiah seolah tidak banyak gunanya.

A�***

GALI – gali jalan sepertinya tidak akan selesai dalam waktu dekat. Meski jalan-jalan utama di Kota Mataram sudah mulus, kondisi itu biasanya tidak akan bertahan lama. Berbagai proyek dari BUMD, BUMN dan investor, siap kembali melubangi jalan yang sudah mulus bak kulit artis.

Mula-mula PDAM Giri Menang yang jadi sorotan. BUMD milik dua daerah, Kota Mataram dan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat ini, tak henti-hentinya melakukan penggalian. Bahkan kerap kali jalan bekas galian tidak dikembalikan seperti kondisi biasa. PDAM kerap kali beralasan proyek penggalian terpaksa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air warga.

Asal tambal ini memang membuat jalan yang tadinya sudah bagus, jadi jelek. Ada yang tebal tambalan lebih tinggi dari jalan. Praktis, pengendara yang paling merasakan kerugiannya. Kendaraan bisa bergoyang. Atau terdengar seperti ada benturan saat melintasi jalan itu.

Ada pula yang kondisi tutup galiannya, lebih rendah. Bahkan terkesan ringsek ke dalam. Pada kasus seperti ini. Lagi-lagi pengendara yang merasakan jalanan kota tak nyaman.

a�?Setahu saya (di Jalan Selaparang depan pasar Cakra, misalnya) sudah selesai. Cuma kalau disana terjadi penurunan (jalan setelah ditutup), nggak tahu,a�? kilah Direktur PDAM Giri Menang HL Ahmad Zaini.

Ia mengklaim semua bekas galian telah ditutup sempurna. Hanya saja, jika terjadi kerusakan kembali, ia mengaku tidak tahu menahu. Sebab, persoalannya bisa saja karena faktor konstruksi tanah yang terlalu lunak. Bisa juga, karena pengerjaan oleh pihak ketiga yang kurang maksimal.

a�?Kita evaluasi juga pengerjaan oleh pihak ketiga,a�? terangnya.

Jika ada pengerjaan seperti itu, ia sebenarnya sudah bersikap. Di antaranya dengan menegur langsung pihak pelaksana, agar penutupan jalan, lebih baik lagi. Selain itu, ada pula bekas galian yang memang ditutupi, namun tidak langsung diaspal. Karena harus, menunggu beberapa titik lain, untuk diaspal bersamaan.

a�?Iya kita sudah mau selesai (proyek penggalian jalan),a�? jawabnya.

Hanya saja, Zaini tak menjamin gali-gali di jalanan Kota akan selesai sampai di sini. Jika ada proyek lagi di tahun 2017, gali-gali jalan akan kembali dilakukan. Lalu, untuk kesekian kalinya, para pengendara akan melihat banyak peringatan dan lubang di jalan kota.

Setelah PDAM, giliran PLN yang melakukan penggalian. Jika, menyusuri Jalan Arya Banjar Getas, menuju Jalan Energi, lalu Jalan Ragi Genep hingga tembus Jalan Saleh Sungkar, terlihat aspal jalan masih baru. Tapi, pandangan tak mengenakkan terlihat dengan adanya galian yang dilakukan pihak PLN Wilayah NTB untuk memasang kabel yang akan dialiri arus sebesar 150 kilo volt (kv).

Arus ini, termasuk kategori arus tinggi. Kabarnya, ini disebut sebagai dukungan dari BUMN ini untuk mewujudkan daerah NTB sebagai daerah wisata yang pasokan enegi listriknya cukup mendukung sektor wisata. Tentu saja ini bagus.

Hanya saja yang dipersoalkan adalah bekas galian seperti yang terlihat di jalan itu hanya ditutupi tanah dan pasir. Belum diaspal. Entah, sampai kapan itu akan dibiarkan. Deputi Manager Hukum dan Komunikasi PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Nusra Hari Susanto mengatakan pihaknya tak memiliki alternatif lain.

a�?Penggalian harus dilakukan, demi keandalan sistem kelistrikan Lombok,a�? ujarnya.

Dia menegaskan proyek tersebut memiliki izin yang lengkap. Terkait galian yang sangat banyak, Hari beralasan karena kendala teknis di lapangan. Saat proyek dimulai baru diketahui struktur tanah berpasir. Itu membuat tanah terus bergerak turun setelah dilakukan pengeboran.

a�?Kami tak punya pilihan lain, masyarakat harap maklum,a�? pintanya.

Penutupan bekas galian lanjutnya baru bisa dilakukan setelah semua proyek penggalian rampung. Hingga saat itu yang sesuai jadwal, berakhir Mei 2017. Masyarakat harus bersabar. Bersabar dengan ragam masalah yang timbul.

a�?Diusahakan selesainya lebih cepat, yakni awal Januari 2017,a�? ujarnya.

Salah seorang warga, Heri Santoso bahkan sampai marah besar. Di Jalan Arya Banjar Getas, galian PLN membuat bengkel las mengalami rugi. Ia menyebut persoalan ini sudah berbulan-bulan.A� Jalan di depan tempat usaha tertutup galian PLN. Akses masuk tak ada. Sehingga bengkel las miliknya sepi order.

a�?Kami mau PLN bertanggung jawab,a�? tegas Heri Santoso.

Mewakili masyarakat lain, ia menumpahkan kekecewaannya. Tak pernah ada pemberitahuan selama ini. Ujuk-ujuk penggalian dilakukan. Di sepanjang jalan tersebut, lubang di mana-mana. Beberapa kali petugas penggali salah melakukan galian.

Alhasil, lubang jumlahnya bejibun. Masyarakat jelas makin dirugikan. Akses usaha terganggu, jalan menyempit, lalu-lintas macet, pejalan kaki kesulitan, bahkan kecelakaan juga pernah terjadi karena galian tersebut.

Saking kesalnya, ia bahkan sampai melontarkan ancaman class action terhadap PLN. Jika masalah lubang di sana-sini tak segera diselesaikan. Tak hanya pada PLN, dia juga marah pada Pemkot Mataram yang dianggap melakukan pembiaran.

a�?Membiarkan jalan yang sudah bagus dirusak,a�? cetusnya.

Membiarkan kontraktor tak becus berbulan-bulan mengganggu kenyamanan warga. Membiarkan pula masyarakat dalam kesusahan. Sikap diam pemerintahan H Ahyar Abduh menurutnya pantas dipertanyakan. Ketika ada proyek besar yang jelas-jelas merusak sarana jalan, mengganggu ketertiban masyarakat, merugikan usaha rakyat.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Mataram M Saleh kepada Lombok Post mengatakan tak bisa berbuat banyak terhadap proyek tersebut. Proses Amdal dilakukan ditingkat provinsi. Pihaknya hanya menjadi anggota dalam tim yang mengeluarkan Amdal tersebut.

a�?Kalau detail Amdalnya saya belum pasti apakah sudah lengkap atau tidak,a�? jawabnya singkat.

Atas kondisi tersebut, camat di dua daerah itu kompak menyatakan protes. Camat Ampenan Ki Agus M Idrus bahkan sudah melayangkan protes melalui Dinas PU Kota Mataram. Melalui PU, ia meminta pelaksana proyek ditegur. Dan diminta segera mengembalikan jalan yang sudah digali seperti sedia kala dalam tempo secepat-cepatnya.

Camat Sekarbela Hariadi juga tak kalah geramnya. Hingga kini ia tak pernah diberi tahu hingga kapan proyek berlangsung. Berapa jumlah lubang galian yang dibuat, dan di titik mana saja galian tersebut juga tak diketahuinya.

a�?Kita tak diberi tahu detailnya,a�? ketusnya.

Itu sajakah pesoalan gali-gali jalan? Ternyata belum. Pemerintah Kota Mataram Kamis (1/12) lalu telah menerima investor. Bergerak di dalam layanan kabel fiber optik. Kabarnya sepanjang 300 kilometer (km) wilayah kota akan dibongkar. Tak terkecuali di jalan-jalan utama kota hingga lingkungan yang kini tengah dalam proses pebaikan.

a�?Kita juga ada investor yang akan tanam kabel fiber optik di kota. ini untuk mewujudkan kota yang smart city,a�? kata Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh.

Sinyal investor ini disrestui sudah ada. Itu setelah Sekda Kota Mataram Effendy Eko Saswito merestui PT Persada Sokka Tama, mengerjakannya. Pada prinsipnya tujuan dari invstasi ini pun sangat bagus. Menjadikan Kota Mataram jadi daerah dengan layanan telekomunikasi yang andal.

a�?Kabel serat optik ini nanti akan memperlancar komunikasi di Kota Mataram,a�? terangnya Eko.

Tapi rupanya Eko juga menyadari pesoalan gali-gali ini sudah terlalu sering dipermasalahkan warga. Karena itu, ia mengatakan perlu mempelajari teknis pemasangan kabel optik yang akan berdampak pada pembongkaran kawasan kota. Termasuk juga jalan-jalan utama dan lingkungan.

a�?Perlu dipelajari lebih lanjut, mengingat penanaman kabel optik tersebut akan membutuhkan cukup banyak penggalian,a�? ujarnya.

Pertanyaannya, akankah hasil dari gali-gali jalan oleh Investor ini, juga meninggalkan pengerjaan yang akan membuat warga kecewa dengan bekas galiannya? Lihat saja nanti.(yuk/zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys